Dubes Afghanistan untuk UEA: Qatar tak berhasil menekan Taliban tuk mengurangi kekerasan

0 292

QATAR (Arrahmah.com) – Duta Besar Afghanistan untuk Uni Emirat Arab mengatakan bahwa pembicaraan damai Afghanistan yang terhenti di Qatar harus dirotasi di antara beberapa negara, Reuters melaporkan pada Senin (15/3/2021). Javid Ahmad juga menuding Qatar tidak cukup menekan Taliban untuk mengurangi tingkat kekerasan di negaranya.

Pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban telah diadakan di Doha sejak tahun lalu, setelah AS setuju untuk menarik pasukannya dari Afghanistan. Namun, kekerasan sedang meningkat dan pemerintah menuduh militan gagal memenuhi kewajiban mereka untuk mengurangi serangan.

Duta Besar Ahmad mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan damai tidak boleh diadakan di satu tempat, tetapi harus dilakukan secara bergantian di Eropa, Asia, Timur Tengah atau Afghanistan. Dia menambahkan bahwa gerakan Taliban, yang membuka kantor di Qatar pada 2013, “sangat puas” di sana.

“Kami ingin Taliban keluar dari zona nyaman itu,” jelasnya. “Qatar bisa saja menggunakan peran mereka sebagai tuan rumah untuk mengambil peran yang lebih aktif dan menentukan dalam mendorong Taliban untuk mengurangi kekerasan atau mengumumkan gencatan senjata. Mereka tidak menggunakan status mereka sebagai tuan rumah.”

Kantor penghubung pemerintah Qatar mengatakan bahwa Doha berkomitmen untuk membantu Afghanistan dengan mengadakan pembicaraan dan ingin memastikan penurunan tingkat kekerasan, yang akan mengarah pada perdamaian dan keamanan di negara itu. Pihak berwenang di Negara Teluk menambahkan bahwa negosiasi yang sedang berlangsung antara perwakilan pemerintah Afghanistan dan Taliban menunjukkan bahwa pembicaraan damai membuahkan hasil.

Sementara itu, Rusia akan mengadakan konferensi untuk membahas masalah Afghanistan minggu ini, sedangkan Turki akan mengadakan pembicaraan bulan depan. AS sedang bekerja untuk merevitalisasi proses tersebut dengan mengusulkan pembentukan pemerintahan sementara Afghanistan.

Ahmad mengatakan bahwa pemerintahan inklusif di Afghanistan “memiliki kapasitas untuk menahan Taliban dan mantan gerilyawan,” tetapi menambahkan bahwa mengadakan pemilihan adalah satu-satunya cara untuk mencapai transfer kekuasaan.

Mantan pemerintahan Presiden AS Donald Trump menandatangani kesepakatan dengan Taliban untuk menarik pasukan pada Februari 2020. Berdasarkan kesepakatan itu, semua pasukan internasional diharapkan mundur dari Afghanistan pada 1 Mei tahun ini. (haninmazaya/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya