Rem Darurat di Zona Merah

0

JAKARTA (Arrahmah.com) – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan tingkat bed occupancy rate (BOR) atau keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan terkait Corona di 15 kabupaten dan kota di Indonesia. BOR di 15 daerah itu melebihi 65 persen.

Keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 paling tinggi terjadi di Grobogan, Jawa Tengah, yakni mencapai 93,65 persen.

“Grobogan di Jawa Tengah mengalami kenaikan kasus paling tinggi yaitu 2.803 persen dengan BOR hingga mencapai 93,65 persen,” kata Wiku, Rabu (16/6/2021).

Tingkat keterisian ini disusul Kota Semarang yang mencapai 93,38 persen. Kemudian Bandung Barat menyentuh angka BOR rumah sakit 88,33 persen.

“Bandung Barat mengalami kenaikan kasus 56 persen dengan BOR mencapai 88,33 persen,” jelasnya, lansir Liputan6.

Sementara rumah sakit rujukan Covid-19 di 12 kabupaten dan kota lainnya memiliki BOR di bawah 87 persen.

Daerah tersebut adalah Bangkalan 86,88 persen, Kota Bandung 86,86 persen, Jakarta Pusat 86,11 persen, Demak 82,7 persen.

Selain itu, Jakarta Utara 81,21 persen, Jakarta Selatan 78,08 persen, Jakarta Barat 77,33 persen, Kota Bekasi 73,82 persen, Jepara 73,33 persen, Sleman 67,37 persen, Kota Depok 66,16 persen, Jakarta Timur 58,02 persen.

Sementara itu, sebaran Covid-19 di Kota Cirebon yang dianggap masih tinggi membuat pemerintah setempat menarik rem darurat.

Hal tersebut sesuai arahan dari Pemprov Jawa Barat berdasarkan hasil evaluasi Covid-19.

Sekda Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan, arahan rem darurat juga menindaklanjuti Instruksi Mendagri (Inmen) nomor 13 tahun 2021 tentang PPKM.

“Periode terakhir positif rate sampai 29 persen tapi dua minggu lalu sampai 42 persen berarti ada peningkatan,” terang Agus Mulyadi, Rabu (16/6/2021).

Agus mengungkapkan, tren kenaikan positif covid-19 di Kota Cirebon dari dampak libur Lebaran. Semula diprediksi warga yang akan kembali ke Jakarta pada akhir Mei.

Namun, faktanya banyak warga memilih kembali ke Jakarta setelah penyekatan selesai total.

Selain peningkatkan jumlah positif, keterisian kasur di ruang isolasi Covid-19 juga meningkat.

“Bahkan ada pendapat peningkatan sampai bulan Juli. Kami akan menarik rem darurat juga hasil rapat evaluasi dengan pusat dan provinsi kemarin malam dan arahannya Pemprov ya seperti itu,” kata Agus.

Kebijakan menarik rem darurat juga berdasarkan data tingkat keterisian ruang isolasi di rumah sakit.

Agus menyebutkan, pada tanggal 1 Juni 2021 tren Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian di Kota Cirebon 39 persen.

Namun, pada tanggal 14 Juni lalu keterisian ruang isolasi meningkat 81 persen. Beberapa rumah sakit yang menyediakan ruang isolasi covid-19 penuh.

“Ada RSD Gunung Jati 77,8 persen, RST Ciremai 95 persen, rumah sakit Putra Bahagia 100 persen. Kondisi ini berjalan dinamis tapi penanganan pasien menjadi bagian dari strategi,” jelasnya.

Sementara itu, dari rumah sakit yang menyediakan ruang isolasi, hanya RSD Gunung Jati yang bisa ditambah 37 tempat tidur dari kapasitas yang ada yakni 117 tempat tidur. Tempatnya di ruang Prabu Siliwangi RSD Gunung Jati.

Agus mengimbau agar rumah sakit lain di Kota Cirebon menyediakan ruang isolasi covid-19.

Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinkes Kota Cirebon agar menyampaikan kepada rumah sakit yang belum menyediakan layanan covid-19.

“Koordinasi jangka pendek ya dan jika tidak bisa sediakan ruang isolasi setidaknya meminta rumah sakit menyiapkan SDM untuk bisa bergabung membantu nakes di RSD Gunung Jati,” lanjutnya.

Sedangkan jumlah kasus harian Covid-19 di Kota Bogor juga terus bertambah.

Penambahan jumlah kasus positif membuat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit rujukan Kota Bogor ikut meningkat.

Hingga Rabu (16/6/2021) pagi, tingkat BOR di Kota Bogor naik 2 persen atau mencapai 51 persen, setelah periode sebelumnya masih berada di angka 49 persen.

Sedangkan BOR di ruang perawatan dan ICU RSUD Kota Bogor telah mencapai 75 persen atau hampir masuk kategori zona merah.

Jumlah pasien Covid-19 di RS milik Pemkot Bogor ini melonjak tajam.

“Tadi malam arus pasien cukup banyak sehingga saya meminta RSUD harus menambah 138 tempat tidur,” ujar Wali Kota Bogor Bima Arya Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, RSUD Kota Bogor sebelumnya belum pernah menerima jumlah pasien begitu tinggi dalam waktu bersamaan.

Melihat kondisi ini, Pemkot Bogor harus melakukan langkah cepat menekan laju penyebaran Covid-19.

Pemkot Bogor juga mengantisipasi penyebaran varian delta yang telah ditemukan di daerah tetangga.

“Apalagi varian baru telah masuk ke Jakarta dan koneksivitas Bogor dan Jakarta sangat erat, jadi sangat mungkin menyebar ke Bogor jika kita tidak mewaspadainya,” tegasnya.

Bima menyebutkan, salah satu penyumbang kasus terbanyak saat ini yakni di sektor pendidikan.

“Ada peningkatan jumlah kasus positif di pesantren Bina Madani dan kasus baru siswa yang tinggal di asrama sekolah boarding school,” ungkapnya.

Pada klaster Pondok Pesantren Bina Madani, ada penambahan jumlah kasus positif sebanyak 18 santri. Dengan begitu, kini total ada 93 orang yang positif.

Kemudian, 12 siswa Bintang Pelajar Boarding School yang berlokasi di Cimanggu, Tanahsareal dinyatakan terpapar virus corona, setelah dilakukan tes PCR beberapa hari sebelumnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Sri Nowo Retro mengatakan penambahan 18 kasus positif baru di Bina Madani ini adalah santri yang dua pekan lalu dinyatakan negatif tes PCR.

“Karena timbul gejala, lalu dites PCR lagi dan hasilnya 18 orang itu dinyatakan positif,” ujar Retno.

Sedangkan temuan kasus baru di klaster Bintang Pelajar Boarding School berawal adanya dua siswa yang tinggal di asrama sekolah dinyatakan positif. Setelah dilakukan penelusuran dan pemeriksaan, hasilnya didapati sepuluh orang positif.

Dari sepuluh orang tersebut, satu diantaranya seorang pegawai di sekolah itu.

“Jadi total kasus positif di sekolah itu sebanyak 12 orang,” kata dia.

Menurutnya, seluruh pelajar yang terpapar kini sudah dibawa pulang oleh orang tuanya masing-masing untuk menjalani isolasi mandiri di rumahnya.

“Semua siswa yang terpapar rata-rata warga luar Kota Bogor,” ungkapnya.

(ameera/arrahmah.com)

 

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Banner Donasi Arrahmah