Rusia: Taliban hanya perkuat posisi, bukan merebut kekuasaan

0 0

MOSKOW (Arrahmah.com) – Rusia prihatin atas meningkatnya intensitas permusuhan di Afghanistan tetapi pihaknya sangat yakin bahwa Taliban tidak akan mencoba merebut kekuasaan di negara itu, kata utusan presiden Rusia untuk Afghanistan.

Bentrokan paling senget terjadi di provinsi-provinsi utara yang berbatasan dengan negara-negara Asia Tengah yang merupakan sekutu dan mitra Rusia, kata Zamir Kabulov Selasa (13/7/2021) dalam sebuah wawancara dengan Anadolu.

“Dalam beberapa hari terakhir, intensitas permusuhan telah meningkat, terutama di provinsi utara negara itu, dengan latar belakang penarikan pasukan AS dan NATO yang hampir selesai. Situasi ini membuat kami khawatir. Pada saat yang sama, kami percaya bahwa tidak ada bahaya perebutan kekuasaan dengan kekerasan oleh gerakan Taliban hari ini,” kata Kabulov.

Diplomat itu menunjukkan bahwa bentrokan terutama terjadi di daerah pedesaan, dan kota-kota tidak diserang, meskipun mereka berada dalam “pengepungan ketat”.

“Tujuan Taliban adalah untuk memperkuat posisi mereka sebelum dimulainya negosiasi damai. Taliban menyadari konsekuensi negatif dari skenario kekuatan untuk berkuasa dan tidak tertarik pada implementasinya. Mereka menyatakan niat mereka untuk mencapai rekonsiliasi melalui negosiasi, termasuk dalam sejumlah kontak dengan kami,” katanya.

Rusia telah mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran kegiatan pertempuran dari Afghanistan ke negara-negara yang berbatasan, dan masalah ini dibahas langsung dengan Taliban selama kunjungan mereka ke Moskow, kata Kabulov.

Utusan itu menyampaikan kembali kepada Kementerian Pertahanan pertanyaan tentang kemungkinan penguatan pangkalan militer Rusia di Tajikistan. Namun, ia mengharapkan bahwa “Rusia akan menggunakan semua peluang yang tersedia untuk melawan ‘meluapnya’ ketegangan dari wilayah utara Afghanistan ke wilayah sekutunya di Asia Tengah.”

Kabulov skeptis tentang gagasan penempatan sementara pasukan AS di negara-negara Asia Tengah. Dia mengatakan proses penarikan pasukan AS dari Afghanistan seharusnya tidak berubah menjadi relokasi infrastruktur militer AS ke negara-negara tetangga.

“Dua puluh tahun kampanye AS dan NATO di Afghanistan telah membuktikan bahwa kehadiran pangkalan militer Amerika tidak berkontribusi untuk memperkuat stabilitas dan keamanan di kawasan. Sejauh yang kami tahu, negara-negara kawasan lainnya mempertahankan posisi yang sama,” katanya.

Situasi di Afghanistan berkembang sangat dinamis, dan Moskow sebagai pemain aktif dapat menjadi tuan rumah acara intra-Afghanistan yang bertujuan untuk mendorong pembicaraan damai, tambah Kabulov.

“Kami tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan pertemuan di Moskow dalam waktu dekat, termasuk dalam kerangka ‘troika’ yang diperluas (yang terdiri dari Rusia, AS, Cina, dan Pakistan) serta format konsultasi Moskow tentang Afghanistan,” katanya.

Rusia menentang misi militer Turki untuk menjaga bandara Kabul

Ditanya tentang skenario potensial misi militer Turki yang menjaga bandara internasional di Kabul, diplomat itu mengatakan bahwa “kesepakatan seperti itu dicapai antara Ankara dan Washington tanpa memperhitungkan pendapat Kabul (pemerintah).”

“Kehadiran kontingen militer Turki setelah berakhirnya penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan bertentangan dengan ketentuan perjanjian AS-Taliban yang disepakati pada 29 Februari 2020, di Doha.

“Selain itu, Taliban sangat negatif tentang kehadiran militer asing setelah berakhirnya kampanye militer Amerika di IRA [Republik Islam Afghanistan]. Selama konsultasi baru-baru ini di Moskow [diadakan pada 8 Juli], utusan Taliban sekali lagi mengutuk Keputusan Ankara dan menyebutnya sebagai kesalahan,” kata Kabulov.

Ini berarti bahwa Turki entah bagaimana harus menyelesaikan masalah yang melibatkan militernya dalam perlindungan bandara Kabul dengan pihak berwenang Afghanistan dan Taliban, katanya.

Adapun pendapat Rusia, Kabulov mengatakan: “Kami percaya bahwa mempertahankan misi militer Turki di Afghanistan setelah penarikan pasukan AS dan NATO akan menghambat penyelesaian awal situasi di IRA dan peluncuran proses rekonsiliasi nasional.” (Althaf/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya