Hadapi Demonstran yang Kian Memanas, Iran Susupkan Polisi Berhijab

0

TEHERAN (Arrahmah.id) — Iran dilaporkan telah mengerahkan pasukan polisi wanita berhijab untuk menghadapi demonstrasi yang terjadi beberapa hari terakhir.

Dilansir AP (24/9/2022), eEskalasi demonstrasi di Iran yang memprotes kematian Mahsa Amini setelah ditahan polisi moral Iran karena tak memakai hijab, dilaporkan semakin tinggi.

Polisi mengatakan Amini mengalami serangan jantung di kantor polisi dan kemudian mengalami koma.

Amini dilaporkan tewas pada Jumat (16/9) namun pihak keluarga menepis laporan tersebut.

Saksi mata mengatakan Amini dipukuli hingga tewas oleh polisi, dengan pemindaian medis mengungkapkan hal itu berujung pada kematiannya.

Pasukan keamanan pun menghadapi para demonstran dengan brutal, dan menurut LSM Hak Asasi Iran (IHR), dilaporkan 50 orang telah tewas.

Presiden Iran, Ebrahim Raisi pun dikabarkan meminta bantuan 7.000 petugas Polisi perempuan untuk menghadapi demonstrasi itu.

Pasukan polisi perempuan berhijab yang dimiliki Iran diyakini akan melakukan tugas penyamaran untuk menyusup ke kelompok demonstran.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

“Kedatangan pasukan polisi perempuan kami adalah untuk memberikan kedamaian. Saya sedih melihat perempuan lain dalam protes ini melakukan tindakan ilegal yang tak sesuai dengan aturan sosial,” kata pemimpin unit, Kolonel Heydari dikutip dari Daily Star.

“Kami berada di sini untuk menghadapi mereka sesuai dengan prosedur berdasarkan nilai-nilai Islam,” tambahnya.

Unit polisi perempuan berhijab itu dibentuk oleh Organisasi Layanan Publik Faraja, yang merupakan bagian dari angkatan bersenjata Iran.

Mereka juga berhubungan dekat dengan pasukan kepolisian negara itu yang dikenal represif.

Kolonel Heydari telah berbicara tentang tugas mereka untuk memotret siapa pun yang terlihat melanggar hukum moralitas atau dicurigai menyebarkan kekacuan.

Tetapi gambar petugas perempuan yang memegang senjata dan menuruni gedung menunjukkan peran mereka mungkin lebih besar.

Perempuan diterima dalam penegakan hukum Iran untuk pertama kalinya sejak revolusi 1979 pada 2003.

Pelatihan mereka dilakukan selama tiga tahun, termasuk menguasai senjata, judo, anggar dan bahan peledak. (hanoum/arrahmah.id)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...