MUI: Transaksi Digital Perlu Diawasi Agar Tak Menyimpang dari Hukum Syari'ah

0

JAKARTA (Arrahmah.id) – Kemajuan teknologi memudahkan banyak hal termasuk transaksi keuangan. Transaksi yang dulunya memakan waktu lama kini tinggal hitungan detik dalam sekali klik.

Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, mengingatkan agar segala kemudahan yang ditawarkan dunia digital tersebut tidak mengabaikan aspek kesyariahan di dalamnya.

“Banyaknya kemudahan di era digital, seperti pembayaran sekali klik, tetap harus kita awasi agar ketentuan-ketentuan di dalamnya tidak menyimpang dari hukum-hukum syariah,” ujarnya saat membuka International Fiqh Contemporary Transaction in Digital Finance from Islamic Jurisprudence Perspective, Rabu (5/10/2022) di Jakarta.

Dalam kegiatan yang menjadi bagian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2022 itu, Kiai Marsudi menjelaskan, perkembangan teknologi yang drastis bisa memicu terjadinya perubahan hukum.

Hal itu, lanjutnya, sesuai dengan kaidah al-Jam’u baina ats-Tsabat wa at-Tathawwur. Bagaimana hukum syariah tetap relevan dengan permasalahan yang terus menerus berkembang dan berubah begitu cepat.

Menurutnya, transaksi digital yang memudahkan dan cepat itu juga berimbas pada ekonomi syariah. Dia menegaskan, konomi syariah berbasis hukum ketetapan Allah SWT yang disatukan dengan perubahan zaman.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

“Penggunaan transaksi secara digital dewasa ini tidak bisa dihindarkan. Karena zaman yang terus berkembang, transaksi dapat pula dilakukan hanya dengan sekali klik,” terang Kiai Marsudi

Kiai Marsyudi mengatakan, kurang pahamnya konsumen terhadap mekanisme transaksi digital membuat adanya potensi kecurangan yang merugikan konsumen. Selain itu, ketidakpahman konsumen terhadap mekanisme transaksi juga membuatnya tidak paham akad apa yang digunakan dalam melakukan transaksi.

“Semakin mudahnya masyarakat mengakses Internet dan tidak bertemunya para pihak secara langsung, memungkinkan konsumen yang hendak memesan produk bisa saja sekadar iseng atau terjadi penipuan identitas konsumen atau bahkan produsen,” ungkapnya.

Kiai Marsyudi, masalah seperti ini dihadapi oleh konsumen muslim di berbagai belahan dunia.

“Hal seperti ini tentu saja tidak bisa dihindarkan dari perjalanan arus ekonomi global,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...