Tahanan tertua di Guantanamo dibebaskan setelah 18 tahun dipenjara tanpa persidangan

0

PAKISTAN (Arrahmah.id) – Tahanan tertua di pusat penahanan Teluk Guantanamo dibebaskan dan “berkumpul kembali dengan keluarganya” di Pakistan, kata kementerian luar negeri negara itu dalam sebuah pernyataan Sabtu (29/10/2022).

Saifullah Paracha (75), telah ditahan karena dicurigai memiliki hubungan dengan Al Qaeda sejak 2003, tetapi dia tidak pernah didakwa dan menghabiskan lebih dari 17 tahun di penjara di pangkalan AS di Kuba, menurut Reprieve, sebuah badan amal hukum yang mewakili Saifullah dan telah berkampanye untuk pembebasannya.

“Kami senang bahwa seorang warga negara Pakistan yang ditahan di luar negeri akhirnya dapat bersatu kembali dengan keluarganya,” kata pernyataan itu. Dikatakan Kementerian Luar Negeri telah “menyelesaikan proses antar-lembaga yang ekstensif” untuk memfasilitasi pemulangannya, lansir NBC News.

Pentagon mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu bahwa Menteri Pertahanan Lloyd Austin telah “memberi tahu Kongres tentang niatnya untuk memulangkan Saifullah Paracha ke Pakistan” bulan lalu.

Ia juga memuji kesediaan Pakistan dan mitra lainnya untuk mendukung “upaya AS yang sedang berlangsung yang berfokus pada pengurangan populasi tahanan secara bertanggung jawab dan pada akhirnya menutup fasilitas Teluk Guantanamo.”

Paracha diberitahu pada Mei 2021 bahwa dia telah disetujui untuk dibebaskan oleh dewan peninjau tahanan, Shelby Sullivan-Bennis, yang mewakilinya pada sidang November 2020, seperti dilaporkan The Associated Press pada saat itu.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

Itu adalah penampilan kedelapannya, menurut situs web dewan peninjau. Dewan peninjau didirikan di bawah mantan Presiden Barack Obama untuk mencoba mencegah pembebasan tahanan yang diyakini pihak berwenang mungkin terlibat dalam permusuhan terhadap AS setelah mereka dibebaskan dari Guantanamo.

Seperti biasa, pemberitahuan itu tidak memberikan alasan terperinci untuk keputusan tersebut dan hanya menyimpulkan bahwa Paracha “bukan ancaman berkelanjutan” bagi Amerika Serikat, Sullivan-Bennis mengatakan kepada AP.

Paracha, seorang pengusaha kaya yang tinggal di AS dan memiliki properti di New York City, Paracha ditangkap pada 2003 di ibu kota Thailand, Bangkok.

Dia dituduh sebagai “fasilitator” Al Qaeda yang membantu dua konspirator dalam rencana 9/11 dengan transaksi keuangan.

Paracha mengatakan dia tidak mengenal orang-orang Al Qaeda dan selalu membantah terlibat dalam terorisme dan peristiwa 11 September 2001. (haninmazaya/arrahmah.id)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...