Afghanistan, Tempat Kembalinya Islam Sempurna – In syaa Allah

Afghanistan menjadi berita utama dunia setelah Taliban berhasil mengambil alih istana kepresidenan di Kabul. Amerika pulang kampung setelah menjajah Afghanistan selama 20 tahun. Fokus pandangan mata publik global tertuju pada “kemerdekaan Afghanistan” dari penjajahan Amerika.

Jika pandangan manusia lebih tertuju pada kemerdekaan manusia atau negara dari jajahan bangsa atau negara lain, beda dengan Allah SWT yang lebih melihat kemerdekaan Islam, bukan manusianya atau negaranya. Islam adalah nama untuk sistem hukum dan ideologi yang diturunkan Allah agar digunakan untuk mengatur kehidupan manusia di bumi.

Kemerdekaan Islam sebagai sistem disebut oleh Allah dengan diksi “sempurna”. Dan sempurnanya Islam agaknya terpenuhi di bumi Afghanistan sesuai syarat dan ketentuan yang Allah inginkan pasca hengkangnya AS dan direbutnya kekuasaan negara oleh Taliban.

Kita perlu membandingkan keadaan Islam di Afghanistan saat ini dengan keadaan Islam saat disebut sempurna oleh Allah di Madinah pada zaman Rasulullah SAW. Perbandingan ini menggunakan ayat yang mulia (ayat syar’iyyah) dengan realita lapangan (ayat kauniyah). Ternyata kondisinya bisa dibilang identik.

Islam Sempurna Zaman Nabi SAW

Pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10 H umat Islam bersama Rasulullah saw melakukan wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah haji yang disebut haji wada’ (haji perpisahan). Inilah satu-satunya haji yang dilakukan Rasulullah SAW. Haji kali ini istimewa, sebab pelaksanaannya sudah bersih dari unsur syirik dan musyrik, berbeda dengan tahun 9 H yang masih bercampur. Seluruh rangkaian manasik haji dipimpin oleh Rasulullah SAW dengan cara murni Islam tanpa ada unsur jahiliyahnya.

Hari itu turun ayat Al-Qur’an yang sangat terkenal, memotret realita politik di jazirah Arab dan bagaimana kondisi Islam di tengah realita tersebut. Berikut ayatnya:

‌ٱلۡيَوۡمَ ‌يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

Pada hari ini orang-orang kafir putus asa mengganggu agamamu (Islam) maka janganlah kamu takut kepada mereka tapi takutlah kamu hanya kepada-Ku. Hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu (Islam), Aku lengkapkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku ridhai Islam sebagai ideologi kamu. (QS. Al-Maidah: 3)

Ayat dimulai dengan diksi al-yauma (pada hari ini) karena sedang memotret realita politik hari itu di jazirah Arab. Apa hasil potretnya? Orang-orang kafir putus asa untuk mengganggu Islam, ideologi yang dipeluk oleh Rasulullah SAW dan umat Islam. Mengapa putus asa? Karena secara militer sudah ditaklukkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat dalam serangkaian peperangan, sejak Badar hingga Ahzab.

Apalagi setahun sebelumnya, pada tahun 9 H, saat wukuf di Arafah juga, dikeluarkan maklumat kepada kaum musyrik yang masih diijinkan ikut haji dengan adat jahiliyah mereka, bahwa mereka diberi waktu 4 bulan untuk mengambil sikap: memeluk Islam, atau mencari tempat di luar jazirah Arab. Jika setelah 4 bulan sejak hari dimaklumatkan itu mereka tidak menerima Islam dan masih bercokol di jazirah Arab, mereka akan diperangi hingga bersih tak bersisa. Lihat kisahnya di awal Surat At-Taubah.

Karena itu, tahun 10 H jazirah Arab sudah bersih dari unsur syirik, musyrik dan jahiliyah. Semuanya disapu bersih. Berarti secara militer dan politik orang-orang kafir di jazirah Arab sudah tidak punya power. Jangankan power, keberadaan mereka di jazirah Arab saja dilarang.

Kondisi ini yang dipotret oleh ayat dengan kalimat “hari ini orang-orang kafir putus asa mengganggu agamamu (Islam)”. Mengapa yang dibahas oleh ayat adalah “gangguan terhadap Islam” bukan “gangguan terhadap umat Islam”? Sebab, Islam adalah lakon atau center of gravity. Orang Islam dimusuhi oleh kaum kafir bukan karena kebangsaannya, tapi karena Islamnya. Islam dipegang erat oleh mukmin, dan Islam pula yang dibidik oleh kaum kafir. Andaikan mukmin tak memegang erat Islam, permusuhan kaum kafir juga akan hilang. Jadi lakonnya adalah Islam.

Andaikan ayat berbunyi “hari ini orang-orang kafir putus asa mengganggu kamu (umat Islam)” bukan “mengganggu agamamu (Islam)” maka artinya bisa bias. Sebab, mengganggu umat Islam belum tentu karena umat Islam menggenggam Islam, tapi bisa jadi karena faktor lain, seperti kekayaan alam yang dimiliki umat Islam atau letak geografisnya yang strategis. Padahal penilaian Allah tentang manusia terletak pada keterikatannya dengan Islam, bukan statusnya sebagai muslim semata di mata masyarakat.

Kalimat “mengganggu agamamu (Islam)” mengandung pesan halus, bahwa Islam menyatu dengan para pengusungnya. Sehingga dalam orang kafir mengganggu Islam, sama artinya mengganggu jiwa dan raga muslim. Putus asanya kaum kafir dalam mengganggu Islam mengandung dua makna: bahwa yang dibidik kaum kafir adalah Islam yang dipegang erat muslim, dan bahwa muslim membentengi Islam dari bidikan kaum kafir dengan harta dan jiwa mereka. Muslim menggenggam erat Islam itu sehingga menjadi sebab dimusuhi kaum kafir.

Pada akhir kenabian itu – Nabi saw wafat pada 12 Rabiul Awal 11 H hanya 3 bulan setelah turunnya ayat tersebut – potret kaum kafir memang putus asa mengganggu Islam. Sebab Islam dibela mati-matian oleh para Sahabat, dan dijunjung tinggi melebihi tingginya harga nyawa mereka sendiri. Kaum kafir ditaklukkan oleh umat Islam secara militer. Karena itu tak lagi punya daya untuk mengganggu Islam sebagai center of gravity.

Setelah kaum kafir disebut “putus asa mengganggu agamamu (Islam)” yang otomatis bermakna putus asa mengganggu kamu selagi kamu menyatu dengan Islam, maka “jangan lagi kamu takut kepada mereka seperti sebelumnya, tapi tunaikan rasa takutmu total hanya untuk-Ku”. Jangan lagi ada kebocoran rasa takut, sebagian diberikan kepada kaum kafir, sebagian diberikan kepada Allah. Kalau dulu kaum kafir masih kuat, terbaginya rasa takut itu masih bisa dipahami. Tapi setelah kaum kafir putus asa melawan kamu, apa alasan kamu masih menyisakan rasa takut untuk mereka?

Inilah sisi tauhid yang jarang diungkap. Yaitu tauhidnya rasa takut. Ketika rasa takut yang ada di hati umat Islam full diberikan untuk Allah, tak ada yang bocor untuk kaum kafir. Kapan itu? Saat kaum kafir sudah tak layak lagi ditakuti, karena mereka sudah takluk dari orang-orang beriman. Bandingkan dengan kondisi kita saat ini, sudahkah tercapai tauhid dalam hal rasa takut?

Namun ayat ini bisa juga dimaknai begini: Jika kaum kafir sudah putus asa mengganggu Islam, maka kamu jangan lagi takut untuk menegakkan syariat Islam secara sempurna. Kamu harus takut kepada-Ku jika kamu justru lalai tidak berlanjut dengan menerapkan Islam dengan sempurna. Aku sudah tolong kamu dengan mengalahkan kaum kafir, kenapa tidak kamu lanjutkan dengan menegakkan Islam dengan sempurna? Apa masih takut gangguan mereka? Seolah ayat ini menagih itu.

Potret ayat tentang kondisi kaum kafir yang putus asa mengganggu Islam, dijadikan prasyarat untuk potret yang kedua. Yaitu al-yauma yang kedua. “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu (Islam)”.

Secara kauniyah, Islam untuk sempurna memerlukan prakondisi “kaum kafir putus asa mengganggu Islam”. Jika kaum kafir masih kuat dan dengan leluasa mengganggu Islam, tidak mungkin Islam bisa tampil dalam perwajahan yang sempurna. Pasti Islam mengalami distorsi, akibat tekanan dan gangguan kaum kafir.

Ayat ini melahirkan teori yang berlaku abadi: Bahwa Islam tidak akan bisa dipraktekkan dengan sempurna di tengah masyarakat muslim kecuali jika kaum kafir tak lagi punya keberanian dan daya untuk intervensi. Sepanjang kaum kafir masih punya daya untuk intervensi, pasti Islam mengalami distorsi, tidak sempurna.

Karena itu, di ujung ayat diakhiri dengan kalimat: “dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. Maksudnya, Islam yang bisa ditampilkan dalam wajah yang sempurna itu adalah Islam yang diridhai Allah. Jika masih ada distorsi, berarti belum Islam yang diridhai Allah. Ibarat rasa, masih ada yang mengganjal. Belum puas dan plong.

Inilah hasil kerja Nabi terakhir. Hasil yang sempurna. Islam awalnya asing 23 tahun sebelumnya, bisa diwujudkan secara nyata di tengah masyarakat dalam bentuknya yang sempurna. Setelah faktor pengganggu dibasmi. Islam yang riil, bukan Islam yang hanya tertulis di atas kertas. Kesempurnaan itu yang membuat Islam di akhir kenabian diridhai Allah. Allah Maha Sempurna, tak mungkin ridha (merasa puas) dengan hasil yang tidak sempurna. Manusia saja hanya puas jika mobil yang dibelinya mulus sempurna, padahal manusia bukan maha sempurna.

Afghanistan 2021 M Mirip Jazirah Arab 10 H

Mari kita analisa situasi dan kondisi Afghanistan pasca Amerika hengkang dan kekuasaan kembali dipegang Taliban. Ada kemiripan antara Afganistan 2021 M dengan Jazirah Arab !0 H.

AS adalah kekuatan militer terkuat. Dia hengkang setelah 20 tahun menjajah. Jika kaum kafir terkuat sudah menyerah, bukankah negara lain yang lebih lemah juga menyerah?. Sejarah memberi bukti, super power saingan AS yaitu Uni Soviet tahun 1979 menjajah Afghanistan, tapi 10 tahun kemudian juga menyerah. Dan kini AS juga menyerah. Rasanya kecil kemungkinannya akan ada kekuatan selain AS yang berani menjajah Afghanistan kembali.

Bisa disimpulkan, kaum kafir sudah putus asa untuk mengganggu Islam yang dipegang kuat oleh mujahidin Afghan. Berarti syarat prakondisi untuk sempurnanya Islam telah terpenuhi di Afghanistan.

Memang masih ada ancaman, seperti yang dilontarkan Jerman. Jika Afghan diterapkan syariat Islam, Jerman akan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikan. Tapi ini tak berpengaruh, in syaa Allah akan ada pintu rezeki lain bagi Afghanistan. Atau ancaman tidak diakui legalitas diplomatiknya, seperti yang dilontarkan Kanada. Sejauh ini tak ada yang terang-terangan akan menyerbu Afghanistan secara militer jika menerapkan syariat Islam secara sempurna.

Kabar baiknya, pihak Taliban mengeluarkan pernyataan tegas bahwa syariat Islam akan diterapkan secara menyeluruh. Dan negara lain tak boleh ada yang ikut campur urusan dalam negeri Afghanistan.

Maka, kombinasi putus asanya kaum kafir global dalam menjegal Afghanistan menerapkan syariat Islam, dan komitmen kuat Taliban untuk “menyempurnakan rasa takut hanya untuk Allah” dengan cara menerapkan syariat Islam secara sempurna merupakan kondisi yang sangat mirip dengan jazirah Arab di akhir kenabian. Islam punya masa depan cerah di Afghanistan untuk tampil dalam wujudnya yang sempurna. Berbeda dengan Islam di negara lain.

Problem Islam di negara lain ada dua:

Pertama: Kaum kafir leluasa mengintervensi Islam karena umat Islamnya lemah.

Kedua: Komitmen umat Islam untuk menyempurnakan rasa takut hanya untuk Allah dengan cara menerapkan Islam yang sempurna masih lemah.

Kombinasi dua keadaan ini menjadikan perjalanan menjayakan Islam hingga sempurna agar diridhai Allah agaknya masih jauh. Bahkan banyak juga tokoh Islam yang membawa semangat “menjilat” kaum kafir agar meridhai Islam yang ditampilkan, bukan mencari ridha Allah.

Taliban sudah terbukti menggenggam erat Islam meski dihancur-leburkan Amerika. Tarbiyah panjang selama 20 tahun ini semoga menjadi jaminan akan harapan umat Islam di belahan dunia lain akan segera datangnya fajar baru Islam, yaitu Islam yang sempurna seperti tahun 10 H di akhir masa kenabian. Tahun 2021 di Afghanistan agaknya mirip dengan tahun 10 H di Jazirah Arab.

Fokuskan pandangan mata pada kemerdekaan Islam alias sempurnanya Islam, jangan terkecoh dengan kemerdekaan bangsa dari bangsa lain. Tak ada bobot ideologisnya menurut Allah kemerdekaan suatu bangsa dari bangsa lain, kecuali jika Islam dijadikan center of gravity. Kemerdekaan bangsa dari bangsa lain itu soal dunia. Sementara kemerdekaan Islam dari gangguan kafir itu soal dunia dan akhirat kita. Semoga Allah bimbing umat Islam Afghan dan kita semua untuk istiqamah dalam mengupayakan kesempurnaan Islam agar mendapat ridha Allah.

والله أعلم بالصواب

@elhakimi – 18082021

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Banner Donasi Arrahmah