Bagaimana Kaum Muslim Abad Pertengahan Menjaga Kebersihan (Bagian I)

(Arrahmah.id) – Abad pertengahan dalam khazanah sejarah Eropa sering digambarkan gelap, bau, dekil, terlantar. Berbanding terbalik dengan abad pertengahan di dunia Islam di mana pada abad ke-10 orang-orang sangat peduli dengan kebersihan.

Ketika Tentara Salib Eropa Barat tiba di Yerusalem pada 1096, dalam apa yang disebut Perang Salib Pertama, orang-orang Arab di Timur Tengah lebih terkesan dengan bau busuk mereka daripada semangat keagamaan yang mereka bawa. Tentara Salib yang datang banyak yang tengah mengidap penyakit, menurut laporan sejarawan abad pertengahan Albert de Aix dalam Hierosolymita History-nya, ”diantara mereka terdiri dari pezina, pembunuh, pembohong, dan pencuri”. Hanya sedikit di antara mereka yang pernah menerima pendidikan.

Mereka mengabaikan bahkan dasar-dasar sains, matematika, kedokteran, filsafat, dan kebersihan, mereka juga tidak tahu apa-apa tentang pengoperasian perangkat ilmiah abad pertengahan, astrolabe, yang menangkap pergerakan alam semesta tiga dimensi dengan pelat perunggunya. Akibatnya, mereka bahkan tidak dapat menentukan tanggal hari raya agama mereka, Paskah, ataupun menentukan waktu secara akurat.

Fenomena langit (bintang jatuh, kilat, gerhana matahari) membuat mereka takut. Nenek moyang mereka telah lama kehilangan kemampuan membaca bahasa Yunani, sehingga memutuskan hubungan intelektual dengan pembelajaran zaman kuno. Pendidikan telah runtuh, kecuali segelintir sekolah katedral yang berpegang teguh pada inovasi yang diperkenalkan tiga ratus tahun sebelumnya di bawah Charlemagne. Para pendeta-cendekiawan di pusat studi matematika terkemuka di Barat, sekolah katedral Laon, bahkan tidak memahami arti dan penggunaan angka nol.

Salah satu pelanggaran terbesar tentara salib terhadap kepekaan orang Arab adalah pengabaian total mereka terhadap kebersihan pribadi. Panglima mereka bahkan mengakui mandi tidak lebih dari empat kali setahun, makanan mereka sebagian besar terdiri dari jatah bubur yang monoton dan apa pun yang bisa mereka makan dalam perjalanan. Perawatan medis sering melibatkan eksorsisme atau amputasi anggota badan yang terkena penyakit.

Ketika Black Death melanda Eropa pada pertengahan abad ke-14, hal itu menimbulkan kekacauan sosial. Tanpa memahami tentang penularan ataupun kebersihan, sepertiga dari populasi meninggal tanpa diketahui alasannya. Kematian massal menyebabkan kekacauan, yang ditandai dengan pembakaran orang-orang Yahudi yang dituduh menyebabkan penyakit tersebut melalui sihir.

The Book of Instruction, sebuah memoar informatif oleh pakar sejarah sekaligus diplomat Muslim Suriah, Usama Ibnu Munqidh, yang bertemu Tentara Salib dalam pertempuran, mencatat dua contoh di mana nasihat seorang dokter diabaikan demi metodologi Kristen. Yang pertama, keluarga Frank hanya memotong kaki ksatria yang terinfeksi ringan dengan kapak, yang kedua, mereka mengukir salib di tengkorak wanita yang sakit sebelum menggosoknya dengan garam. Kedua pasien meninggal di tempat, pada saat itu dokter Arab bertanya, “‘Apakah Anda memerlukan sesuatu yang lain dari saya?’ ‘Tidak,’ kata mereka.

Penyakit dipandang sebagai hukuman ilahi atas dosa-dosa manusia, bukan sebagai kondisi yang harus diatasi atau diperbaiki melalui intervensi manusia. Beberapa upaya tentatif untuk mengadopsi kebaruan teknologi mulai mengalir perlahan dari dunia Arab, di antaranya jam air yang dikirim Khalifah Harun Al-Rasyid sebagai hadiah kepada Charlemagne pada 801, entah diberhentikan sebagai keingintahuan atau dikutuk sebagai Ilmu Hitam. Sejauh menyangkut orang Kristen abad pertengahan, Mistisisme adalah satu-satunya kekuatan penentu dalam kehidupan sehari-hari mereka untuk mengeksplorasi sifat benda, jauh dari ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, kaum Muslim sangat mengutamakan kebersihan dan pola makan. Ritual pembersihan tubuh mendahului setiap shalat lima waktu, persyaratan yang memicu pengembangan proyek air umum yang canggih dengan teknik rekayasa yang cerdik. Syariat Islam melarang sejumlah praktik yang tidak sehat, termasuk konsumsi alcohol. Mereka mengumpulkan semua ucapan dan praktik yang dianggap berasal dari Nabi Muhammad untuk kemudian disusun sebagai Tibbun Nabi, atau Pengobatan Nabi, metode ini menjadi panduan untuk hidup sehat dan berperilaku hemat.

Kebersihan sangat penting bagi kaum Muslim, sebagian karena umat Islam harus melakukan ritual membersihkan diri (wudhu) sebelum shalat lima waktu. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alayhi wa sallam bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Kaum Muslim mengikuti tradisi pemandian umum Romawi pada saat kemajuan Romawi diabaikan Eropa. Misalnya, selain memasok setengah juta penduduknya dengan air yang mengalir, Cordoba di Spanyol memiliki 300 pemandian umum yang dikenal sebagai hammam. Pemandian Turki, yang sekarang populer di seluruh Eropa, mengikuti tradisi ini.

Cordoba di bawah pemerintahan Muslim Spanyol adalah kota berpenduduk lebih dari setengah juta dengan penerangan jalan dan air yang mengalir. Pada saat yang sama 10.000 warga London tinggal di rumah-rumah berbingkai kayu dan menggunakan sungai sebagai saluran pembuangan mereka.

Muslim saat itu pergi ke salon kecantikan, menggunakan deodoran dan minum dari gelas, di saat anak-anak di Eropa masih diajari untuk tidak mengorek makanan mereka, meludahi meja, atau membuang makanan yang belum dimakan ke lantai.

Produk Kosmetik Yang Digunakan Dalam Peradaban Muslim Seribu Tahun Lalu Bisa Bersaing Dengan Yang Kita Miliki Saat Ini

Di Spanyol Muslim, Andalusia, di kota Cordoba hiduplah seorang dokter dan ahli bedah terkenal, Al-Zahrawi (936-1013 M), dilatinkan sebagai Albucassis.

Dia menulis sebuah karya monumental, sebuah ensiklopedia medis berjudul Al-Tasreef, dalam 30 volume, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan digunakan sebagai buku teks kedokteran utama di sebagian besar Universitas Eropa dari abad ke-12 hingga 17. Buku ini mempengaruhi banyak penulis baik di Timur maupun di Eropa.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

Dalam jilid ke-19 Al-Tasreef, sebuah bab dikhususkan sepenuhnya untuk kosmetik dan merupakan karya Muslim orisinal pertama dalam tata rias.

Kontribusi Zahrawi untuk kosmetik, obat termasuk deodoran, perontok bulu dan krim tangan. Pewarna rambut disebutkan mengubah rambut pirang menjadi hitam dan perawatan rambut disertakan, bahkan untuk mengoreksi rambut keriting atau ikal. Dia bahkan menyebutkan manfaat krim sunscreen dan menjelaskan bahan-bahannya secara rinci.

Untuk bau mulut akibat makan bawang merah dan bawang putih ia menyarankan kayu manis, pala, kapulaga dan mengunyah daun ketumbar. Obat lain untuk bau mulut adalah keju goreng dalam minyak zaitun yang dibumbui dengan bubuk cengkeh.

Dalam buku tersebut ia juga memasukkan metode untuk memperkuat gusi dan memutihkan gigi.

Zahrawi menganggap kosmetik sebagai cabang pengobatan yang pasti (Adwiyat Al-Zinah). Dia juga meracik parfum, wewangian aromatik dan dupa. Ada stok wangi yang digulung dan dicetak ke dalam cetakan khusus, mungkin pendahulu paling awal dari lipstik dan deodoran padat saat ini. Dia menggu nakan zat berminyak yang disebut Adzan untuk pengobatan dan kecantikan. Ada banyak hadits Nabi shalallahu alayhi wa sallam yang mengacu pada kebersihan, pengelolaan pakaian, dan perawatan rambut dan tubuh. Atas dasar ini Zahrawi memformulasikan perawatan dan kecantikan rambut, kulit, gigi dan bagian tubuh lainnya, semua dalam batas-batas Islam.

Utilitas yang kadung kita anggap sebagai penemuan abad ke-20 ternyata sudah hadir di Spanyol dan yang dijelaskan oleh ilmuwan Muslim.

Robot Mesin Wudhu Abad-13 Yang Tampak Seperti Burung Merak Dengan Delapan Semburan Air Dari Kepalanya

Wudhu mendahului setiap salat lima waktu, persyaratan yang mengarah pada pengembangan proyek air umum yang canggih dan teknik rekayasa yang cerdas.

Al-Jazari adalah insinyur mesin yang paling menonjol pada masanya. Nama lengkapnya adalah Badi’ Al-Zaman Abu-‘l-‘Izz Ibn Isma’il Ibnu Al-Razzaz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar-Bakir (Turki) pada akhir abad ke-12-awal abad ke-13 M.

Dia disebut Al-Jazari sesuai daerah asalnya, Al-Jazira, daerah yang terletak di antara Tigris dan Efrat di Mesopotamia. Sebagaimana ayahnya, ia melayani raja-raja Artuqid Diyar-Bakir selama beberapa dekade (setidaknya antara 570 dan 597 H/1174-1200 M) sebagai insinyur mesin. Pada 1206, ia menyelesaikan sebuah buku luar biasa tentang teknik berjudul Al-Jami’ Bayn Al-‘Ilm Wa-‘l-‘Amal Al-Nafi’ Fi Sinat’at Al-Hiyal dalam bahasa Arab tentang ringkasan mekanika teoretis dan praktis. George Sarton menulis: “Risalah ini adalah yang paling rumit dari jenisnya dan dapat dianggap sebagai klimaks dari pencapaian umat Islam.” (Introduction to the History of Science, 1927, vol. 2, p. 510).

Buku Al-Jazari khas dalam aspek praktisnya karena penulisnya adalah seorang insinyur yang kompeten. Buku ini menjelaskan berbagai perangkat secara mendetail, sehingga memberikan kontribusi yang tak ternilai dalam bidang rekayasa teknik.

Al-Jazari menjelaskan lima puluh alat mekanis dalam enam kategori yang berbeda, termasuk jam air, mesin wudhu, mesin untuk mengangkat air, dll. Setelah “Festival Dunia Islam” yang diadakan di Inggris pada 1976, sebuah penghargaan diberikan kepada Al-Jazari ketika Museum Sains London menunjukkan model kerja yang berhasil direkonstruksi dari “Jam Air”-nya yang terkenal. (zarahamala/arrahmah.id)

Bersambung…

 

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...