Beginilah Tarbiyah Ilahi

1.369

Oleh: Elhakimi

Amerika telah resmi pulang kampung dari Afghanistan setelah 20 tahun berpetualang ala cowboy di sana. Apapun narasi bela diri yang dirangkai Amerika demi menutupi rasa malu, sejarah akan tetap mencatat bahwa Amerika kalah secara memalukan.

Afghanistan sekali lagi membuktikan diri sebagai kuburan imperium. Medan sulit dan rakyat tangguh menjadi kombinasi yang sempurna. Apalagi ditambah spirit iman yang membuat mereka kian kokoh bak batu karang.

Agaknya dalam waktu dekat tak akan ada lagi imperium baru yang berani mencoba peruntungan untuk menaklukkan bangsa muslim Afghan. Meski tidak tertutup kemungkinan pada jangka panjang nanti.

Posisi Allah Sebagai Pengendali Taktik dan Strategi

Drama panjang dengan lakon bangsa Afghan yang mewakili umat Islam dunia melawan dua imperium besar – Uni Sovyet pada 1979-1989 dan Amerika Serikat pada 2001-2021 – yang mewakili komunitas kafir dunia menarik dikaji. Terutama soal bagaimana taktik dan strategi Allah berjalan sempurna di sana demi sempurnanya agama-Nya. Taktik dan stretagi itu dalam bahasa Al-Qur’an disebut makar. Kaum kafir menyusun makar (taktik dan strategi) dan Allah juga menyusun makar (taktik dan strategi). Dan selalu makar Allah yang endingnya menang. Sebagaimana firman Allah:

‌وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

Mereka (kaum kafir) membuat makar, dan Allah juga menyiapkan makar, padahal Allah adalah pembuat makar terbaik. (QS. Ali Imran: 54)

Mengapa makar Allah yang akan selalu unggul? Jawabannya, karena seluruh makhluk-Nya bisa dilibatkan oleh Allah dalam melaksanakan makar itu meski tanpa sadar. Allah punya kuasa bernama taqdir, apapun yang Allah kehendaki tinggal berfirman “kun” maka jadilah apa yang Allah inginkan itu.

Kepatuhan seluruh makhluk-Nya terhadap kuasa taqdir Allah bisa diibaratkan kepatuhan prajurit terhadap komandannya. Karena itu disebut tentara Allah. Meliputi angin, air, api, batu, hewan, gunung, pasir, lumpur, kayu, besi, dan semua ciptaan Allah lain. Tentu saja termasuk manusia, jin, malaikat dan seluruhnya. Baik yang taat kepada syariat Allah maupun yang membangkang kepada-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا يَعۡلَمُ ‌جُنُودَ ‌رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ

Tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri (QS. Al Muddatsir: 31)

Sementara kaum kafir dalam mengendalikan apa dan siapa yang berda di bawah kekuasaannya, tak lepas dari hegemoni taqdir Allah. Penguasaannya bersifat semu, sebab tidak ada yang mereka rencanakan kecuali ditumpangi oleh rencana Allah di atasnya.

Bagaimana mungkin Pencipta langit dan bumi yang punya kemampuan mengendalikan seluruhnya dengan begitu mudah, bisa dikalahkan oleh makar kaum kafir yang hanya berkuasa secara semu. Jelas tak masuk akal.

Inilah keyakinan mukmin terhadap konsep taqdir Allah. Seorang mukmin mengimaninya dengan sepenuh hati. Tak menyisakan keraguan sedikitpun. Bahwa apapun dan siapapun bisa digerakkan oleh Allah untuk melaksanakan taktik dan strategi-Nya (makar-Nya) meski yang bersangkutan tak menyadarinya. Atau dengan kata lain, apapun dan siapapun bisa menjadi tentara Allah meski statusnya adalah musuh Allah.

Satu Peristiwa Dengan Tiga Agenda

Perang panjang di Afghanistan selama 20 tahun merupakan satu peristiwa dengan tiga agenda. Pertama, agenda mentarbiyah komunitas mukmin. Kedua, agenda mengalahkan kafir musuh Allah. Ketiga, menyempurnakan agama-Nya.

Siapa pemilik agenda itu? Jawabannya, Allah sendiri. Dan Allah menggunakan taktik dan strategi (makar) sesuai hukum alam yang berlaku dengan melibatkan semuanya, baik yang kafir maupun yang mukmin.

Pertama, agenda mentarbiyah komunitas mukmin.

Kita sebagai individu kerap mendapat tarbiyah dari Allah melalui berbagai peristiwa. Misalnya kecelakaan, untuk mentarbiyah diri kita agar bisa bersikap sabar. Perintah shalat, untuk mentarbiyah kita selalu ingat Allah. Dizalimi orang, untuk mentarbiyah sifat pemaaf. Punya anak, untuk mentarbiyah rasa kasih sayang kepada anak. Orang tua sakit, untuk mentarbiyah birrul walidain. Begitulah, seluruh peristiwa, perintah dan larangan Allah hakekatnya adalah bentuk tarbiyah Allah untuk kita.

Selain tarbiyah individu, Allah juga punya agenda tarbiyah komunitas. Maksudnya, komunitas orang-orang beriman. Sebab belum tentu tarbiyah individu otomatis menghasilkan buah tarbiyah komunitas.

Allah punya perintah yang satuan pelaksananya komunitas. Seperti perintah memerangi kaum kafir. Perintah ini tak bisa dilaksanakan individu, harus komunitas. Karena itu diperlukan tarbiyah komunitas untuk melaksankan perintah komunitas.

Apalagi menilik statusnya. Orang-orang yang memerangi kaum kafir disebut tentara Allah. Tentu Allah punya kepentingan untuk mentarbiyah tentaran-Nya. Allah sendiri yang merancang pelatihannya (tarbiyahnya) agar sesuai standar yang Allah inginkan.

Komunitas mukmin Afghan sebelumnya telah ditarbiyah oleh Allah dengan perang melawan imperium besar yaitu Uni Sovyet pada tahun 1979 hingga 1989. Tarbiyah ini membuat mereka makin kuat berpegang pada syariat Islam, sebab situasi perang akan memaksa setiap orang untuk mencari ketenangan batin sebagai penangkal horor. Dan ketenangan itu ada dalam konsep iman, dan iman adalah ruhnya Islam. Mereka akhirnya menjadi orang yang tidak takut mati, dan sangat cinta kepada Allah. Situasi ini mirip dengan kondisi orang yang sedang sakit, pasti cenderung ingat Allah dan dekat Allah.

Pertanyaan menarik, siapakah murabbinya? Jawabannya, ribuan tentara Uni Sovyet (sekarang Rusia). Mereka datang sukarela dengan biaya sendiri untuk menjadi murabbi bagi komunitas muslim Afghan. Inilah makna makar (taktik dan strategi) Allah itu. Meski tentara Uni Sovyet statusnya kafir musuh Allah, tapi mereka dilibatkan Allah untuk menjalankan agenda-Nya. Allah libatkan mereka sebagai murabbi. Tarbiyah komunitas memerlukan murabbi yang juga komunitas besar. Allah hendak mentarbiyah umat bukan mentarbiyah individu.

Saat “para murabbi” itu hengkang, para komandan perang saling bersaing untuk memimpin Afghan. Ini tarbiyah berikutnya, betapa perpecahan internal itu menyakitkan dan melemahkan. Kondisi ini diselamatkan oleh hadirnya santri (Taliban) yang memprakarsai pelaksanaan hukum Islam di tengah masyarakat. Berawal dari Kandahar tahun 1994, prakarsa mereka kian meluas hingga mampu mengambil alih kekuasaan di Afghanistan tahun 1996. Ini juga tarbiyah lain, bahwa supremasi hukum syariat Islam merupakan pemersatu ketika umat Islam sedang konflik. Musuh bisa diselesaikan dengan PEDANG, tapi konflik internal hanya bisa diselesaikan dengan AL-QUR’AN.

Tapi anak-anak muda (santri/Taliban) ini masih hijau. Mereka sebelumnya lebih banyak duduk sebagai santri belajar ilmu agama di pesantren, belum mendapat tarbiyah pahitnya perang sebagaimana generasi sebelumnya. Akhirnya Allah datangkan “murabbi” baru untuk mentarbiyah mereka dengan pahitnya perang. AS dengan sukarela dan biaya sendiri hadir di Afgjanistan sejak 2001 hingga 2021. Mereka membawa komunitas besar hingga ratusan ribu prajurit untuk mentarbiyah komunitas para santri itu. Tarbiyah komunitas dengan murabbi komunitas juga.

Kekuasaan yang dipegang para santri itu tumbang. Pelaksanaan hukum syariat otomatis ikut macet. Para santri kembali ke desa-desa, gunung dan lembah untuk menjalani tarbiyah perang sambil mengedukasi masyarakat tentang syariat Islam. Kabarnya, ribuan santri menjadi korban di balik tarbiyah ini.

Tapi buah tarbiyah ini manis. Pada 31 Agustus 2021 AS menuntaskan penerbangan terakhir yang membawa para “murabbi”nya pulang. Dengan selesainya tarbiyah ini, para santri berarti telah lulus dua tarbiyah sekaligus: Tarbiyah pelaksanaan hukum syariat (pada periode 1996-2001), dan tarbiyah perang yang pahit (pada periode 2001-2021).

Inilah tarbiyah paling mahal di zaman modern. AS mengeluarkan lebih dari 1 triliun dolar untuk mentarbiyah para santri itu. Belum korban dari pihak AS dan dari umat Islam Afghan. Wajarlah jika hasil tarbiyahnya paling bagus.

Belum ada komunitas lain di dunia Islam yang telah menjalani dua tarbiyah ini sekaligus. Apalagi kelas “murabbi”nya bukan sembarangan, imperium terkuat dunia. Komunitas muslim Gaza sedang menjalani tarbiyah perang, belum selesai hingga kini – semoga segera berakhir. Komunitas muslim Suriah sedang menjalani tarbiyah perang juga belum selesai hingga kini – semoga segera berakhir. Demikian pula komunitas muslim Yaman, mereka sedang menjalani tarbiyah perang dan hingga kini belum berakhir – semoga lekas selesai. Baik Gaza, Suriah maupun Yaman, mereka baru mendapat tarbiyah perang, tapi belum mendapat tarbiyah pelaksanaan hukum Islam.

Karena itu, umat Islam dunia tak salah jika menaruh harapan besar kepada komunitas santri ini. Mereka telah lulus menjalani rangkaian tarbiyah panjang. Daya rekat jiwa mereka dengan Islam sudah begitu kuat. Sudah menyatu. Islam telah memberi mereka spirit selama perang, dan itu akan menancap kuat di sanubari mereka. Hingga kelak datang generasi baru yang tidak mengalami tarbiyah ini. Tapi semoga generasi baru nanti bisa melestarikan warisan pendahulu sebagaimana para Tabiin yang begitu kuat melestarikan warisan pendahulu meski tidak mengalami tarbiyah perang bersama Nabi saw.

Agenda kedua, mengalahkan komunitas kafir musuh Allah.

Allah Maha Kuat. Tapi Allah memilih untuk mengalahkan musuh-Nya tidak dengan tangan-Nya sendiri, tapi melalui tangan tentara-Nya – orang beriman. Pada zaman Abrahah, Allah melakukan langsung penghancuran pasukan Abrahah melalui batu yang dibawa burung Ababil. Tapi pasca era Nabi Muhammad saw, SOP penghancuran itu berubah, menggunakan tangan tentara-Nya dari kalangan manusia.

Mengalahkan komunitas besar membutuhkan komunitas besar pula. Mengalahkan ratusan ribu tentara Amerika memerlukan ratusan ribu tentara santri. Dan itulah yang terjadi, tentara Amerika ditarik pulang karena putus asa tidak bisa mengalahkan tentara santri. Jelas agenda Allah ini tercapai dengan gemilang. Disaksikan oleh seluruh mata dunia. Agar mereka tahu, bahwa sehebat apapun kekuatan manusia akan tumbang oleh kekuatan Allah SWT.

Hari-hari awal tentara santri dapat dikalahkan oleh tentara Amerika. Tapi hari demi hari mereka belajar. Inilah makna tarbiyah itu. Mereka belajar sabar. Mereka belajar tawakkal. Mereka belajar optimis. Mereka belajar berani, dan seterusnya. Tentu saja belajar keterampilan berperang juga. Hingga akhirnya “sang murabbi” mengakui para santri sudah lebih unggul lalu pamit pulang.

Agenda ketiga, menyempurnakan agama-Nya.

Tanaman padi untuk tumbuh subur hingga berbuah dan menguning sempurna pasti mendapat gangguan rumput dan hama. Karena itu para petani paham sunnah kauniyah ini, mereka membasmi rumput dan menghalau hama demi sempurnanya padi.

Islam sebagai tata nilai dan undang-undang yang menjadi acuan hidup manusia harus bisa terwujud di alam nyata secara sempurna. Tapi pasti mendapat gangguan “rumput dan hama”. Hama terkuat di zaman modern adalah imperium Amerika yang mewakili komunitas kafir musuh Allah.

Hama itu pasti mencari padi yang punya potensi tumbuh sempurna. Itulah alasannya para hama itu datangnya ke Afghanistan, bukan negara sebelah. Sebab di Afghanistan hukum Islam sudah dipraktekkan di alam nyata di tengah masyarakat melalui prakarsa para santri itu. Kalau padinya sudah rusak, bagian mana lagi yang akan digerogoti hama? Tentu tidak menarik lagi bagi hama.

Hamanya ke-PD-an. Dikira mudah menggerogoti padi yang tumbuh sempurna di sana. Ternyata para petani yang menjaga padi itu sigap untuk melawan. Akhirnya sang hama pulang kampung. Misinya gagal. Dan padi itu kembali tumbuh sempurna tak ada lagi yang berani ganggu. Hama yang lain lebih lemah, berhitung seribu kali untuk berani datang.

Inilah makna ayat:

Pada hari ini orang-orang kafir putus asa untuk mengganggu agamamu (Islam), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tapi takutlah hanya kepada-Ku. Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu (Islam), Aku lengkapkan nikmatku bagimu dan Aku ridhai Islam sebagai ideologi bagimu. (QS. Al Maidah: 3)

Ketika hama sudah dibuat putus asa untuk mengganggu padi, sang petani begitu gigih menjaga padi, tanahnya subur, dan cuacanya cocok maka itulah momentum untuk sempurnanya padi, agar bisa memberi rahmat kepada manusia. Padi hanya akan memberi rahmat (buahnya) kepada manusia jika padi tumbuh subur dan berbuah sempurna. Ketika padi diganggu hama, padi gagal berbuah, maka gagal pula memberi rahmat buat umat manusia. Inilah makna Islam rahmatan lil alamin. Jangan kerjaannya mengganggu Islam, tapi menuntut Islam memberikan rahmatnya kepada manusia. Aneh bukan?.

والله أعلم بالصواب

@elhakimi – 02092021

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya