Belajar Tanpa Guru

Oleh: Ustadz Iman Ni’matullah, Lc

(Arrahmah.com) – Di era millenial ini, banyak sekali orang yang mendadak ‘ngustadz’. Ngajinya di Youtube, talaqqinya di facebook, muthala’ahnya di whatsapp, munaqasyahnya di twitter, murajaahnya di instagram. Kitab-kitabnya bejibun berupa pdf yang disedot dari berbagai situs gratis.

Hasilnya memang hebat, Ilmunya mantep. Debatnya seperti singa padang pasir. Ia seperti hakim yang memegang palu lalu bisa memvonis siapa saja yang menurut pemahaman pribadinya salah. Ia seperti seorang mujtahid muthlaq yang dengan ilmu otodidaknya memiliki otoritas untuk membuat istinbath hukum. Ia seperti seorang assesor ustadz yang berhak menyeleksi ustadz mana yang boleh didengar dan ustadz mana yang tak boleh disimak ilmunya lantaran terindikasi mengandung syubhat dan cacat manhaj.

Unduh Aplikasi Arrahmah di Android

Saya tercenung, jangan-jangan kiamat sudah dekat. DR. Arrazi Hasyim, alumni Darus Sunnah yang telah berhasil meneliti tentang Geneologi Kaum Puritan sehingga mengantarkannya menjadi Doktor, menukil satu Hadits riwayat Imam Ibn al-Mubarak :

“Salah satu ciri kiamat adalah ketika orang menuntut ilmu dari al-Shaghiir (anak kecil)”

الصغير من لا شيخ له
“Al-Shaghir adalah orang yang tak punya guru”

Masya Allah, pantas saja banyak orang yang semakin pintar tapi tidak memberikan kemanfaatan dan keberkahan untuk orang lain. Mungkin karena mereka belajar tanpa guru. Mereka lupa dengan adab. Mereka bisa mendengarkan ceramah dari seorang syaikh di youtube sambil tiduran, makan kacang, bahkan sambil buang air besar. Tidak ada lagi adab belajar dan ta’zhim kepada guru, seperti yang berhasil ditulis oleh Syaikh Az-Zarnujy dalam kitabnya Ta’lim al-Muta’allim.

Adab itu di atas ilmu. Adab sebelum ilmu. Mari kembali meniru generasi salaf yang begitu hormat pada guru agar ilmunya berkah dan bermanfaat. Mari lebih tawadhu’ dengan menghormati pelbagai pendapat orang lain yang berbeda. Kita hanya penyeru yang mengajak dan mengingatkan bukan hakim yang bisa memvonis.

Berhentilah merasa menjadi orang paling benar. Sungguh itu adalah karakter Iblis yang karena ucapannya “ana khairun minhu” Aku lebih baik dari Adam, menyebabkan dirinya terusir dari surga.

(*/Arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Banner Donasi Arrahmah