Bintang dan Seni Astronomi dalam Sejarah Islam

(Arrahmah.id) – Lebih dari dua pertiga bintang yang kita kenal saat ini memiliki nama Arab. Berkat keterampilan navigasi “bintang” para astronom Muslim 1000 tahun yang lalu, selama zaman keemasan Islam.

Terlepas dari asalnya, hampir semua nama bintang adalah milik tradisi lama. Dipertahankan selama berabad-abad oleh para pelaut, penjelajah dan pengamat bintang. Nama-nama bintang dalam bahasa Arab adalah saksi hidup zaman keemasan astronomi Arab-Islam, terdapat lebih dari 200 nama bintang.

Dari abad ke-9 hingga abad ke-15, para ilmuwan menggunakan bahasa arab dalam aktivitasnya. Mereka tersebar di wilayah yang membentang dari Spanyol melintasi Afrika Utara dan Timur Tengah hingga India, mendominasi ilmu pengetahuan dan sains di seluruh dunia. Astronomi adalah salah satu yang terbesar dari apa yang mereka upayakan ini.

Pada abad ke-10, seorang astronom Muslim Persia, ‘Abd Al-Raḥman Al Ṣufi menulis sebuah buku berjudul ‘The Book of Fixed Stars’.

‘Abd Al-Raḥman Al Ṣufi menerjemahkan karya Ptolemy ke dalam bahasa Arab, ‘Almagest’. Buku ini ditulis hampir 1000 tahun sebelumnya dan masih menjadi pondasi sistem rasi bintang hingga saat ini.­­­­

Terjemahan bahasa Arab abad ke-10 dari “Almagest” karya Ptolemy.

Astrolobe dan Celestial Globe

Representasi dua dimensi dari langit ini merupakan instrumen ilmiah yang paling banyak tersebar luas di dunia Islam, dari Andalusia hingga Mughal India. Mereka disukai karena nilai artistik dan simbolisnya.

Yang pertama, Astrolobe. Pada abad ke-10, Al Sufi memperkirakan ada sekitar seribu kemungkinan penerapan astrolobe, mulai dari posisi bintang atau arah Mekkah hingga ketinggian sebuah bangunan.

Astrolobe adalah sebuah perangkat kompleks yang beberapa bagiannya dapat mengubah data mentah yang disediakan oleh pengguna menjadi informasi praktis – Ia adalah komputer pada masanya, digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan posisi matahari, bintang, planet dan ketepatan waktu.

Siapa Penemu Astrolobe?

Mariam Al Astrulabi lahir pada 950 M di Aleppo, Suriah. Beliau dikenal sebagai peletak dasar astrolab ‘kompleks’ pertama, dengan penemuannya yang mirip dengan alat navigasi GPS untuk bintang-bintang.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

Konon, astrolobe diperkirakan berasal dari Yunani Kuno. Meski demikian, umumnya disepakati bahwa desain astrolobe disempurnakan di dunia Islam, nama astrolobe sendiri berasal dari versi bahasa Arab dari istilah Yunani ‘Pemegang Bintang’.

Sebuah astrolobe terdiri dari 4 bagian utama: Pertama, Mater atau pelat dasar. Kedua, Rete, yang berfungsi untuk menunjukkan bintang tetap, ekliptika dan bintang tertentu yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Ketiga, Pelat, yang masing-masing dibuat untuk lintang berbeda. Keempat, Alidade, yang berfungsi untuk melakukan pengamatan.

Astrolobe dalam Islam bukan sekedar penemuan ilmiah, ia merupakan hasil perenungan terhadap ayat-ayat al Qur’an.

Astrolobe dari Spanyol, Toledo, Museum Aga Khan abad ke-14.

Yang kedua, Celestial Globe. Alat ini mampu menunjukkan posisi bintang-bintang di langit. Ia menghilangkan matahari, bulan dan planet-planet karena posisi benda-benda ini relatif bervariasi terhadap bintang-bintang. Namun, garis edar di mana matahari bergerak dapat terlihat.

Untuk menjelaskan perbedaan antara rasi bintang yang terlihat dari bumi dan yang terlihat pada celestial globe, dalam ‘The Book of Fixed Stars’, Al Sufi menggambar dua gambar untuk setiap rasi bintang.

Celestial Globe lebih dari sekadar alat astronomi dan instrumen pengajaran. Keterampilan teknis dan seni yang digunakan untuk mengukir bintang dan tanda zodiak menegaskannya sebagai sebuah karya seni yang indah.

Ada beberapa bintang paling terang di langit dengan nama Arab: Betelgeuse, diterjemahkan sebagai “ketiak Orion” atau “tangan Orion.” Ia berasal dari nama Arab ‘Ibṭ Ul Jawza’. Rigil Kentaurus, berasal dari ‘Rijl Ul Qanṭuris. Diterjemahkan sebagai kaki Centaur. Deneb, adalah versi singkat dari ‘Dhanab Ud Dajajah’, yang berarti ekor ayam. Alnitak, memiliki arti korset, bintang ini diberi nama Alnitak, yang berasal dari kata Arab ‘An Niṭaq’. Fomalhaut, bintang ini diberi nama ‘Fum Al Hul’ dalam bahasa Arab, yang berarti mulut Paus. Ia dikenal sebagai bintang Fomalhaut. Algol, para astrolog kuno menganggap Algol sebagai bintang paling berbahaya di langit. Namanya berasal dari bahasa Arab ‘Ra’s Al Ghul’, yang berarti ‘kepala setan’, karena posisinya sebagai mata di kepala Medusa yang terpenggal di rasi bintang Perseus.

Saat ini, para seniman Islam terus terinspirasi oleh bintang-bintang sebagai pintu gerbang ke surga dan penciptaan alam semesta.

Celestial Globe, 1630 CE American History Museum.

(ZarahAmala/Arrahmah.id)

 

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...