Demi Konten dan Popularitas, Anak Dikorbankan

Oleh:

|

Kategori:

Gambar ilustrasi. (Foto: IDS)

Oleh Ine Wulansari

Pendidik Generasi

Seperti yang baru-baru ini terjadi, seorang youtuber ternama Indonesia menjadi perbincangan publik. Pasalnya, sebut saja RR dan suaminya mengajak bayi berusia lima bulan untuk naik jet ski. Bukan dengan kecepatan rendah, melainkan jet ski yang dibawa oleh suaminya itu dibawa dengan kecepatan tinggi atau ngebut ke tengah laut.

Dalam video yang diunggah oleh RR dalam akun Instagramnya, bayi tersebut digendong ayahnya dengan satu tangan, Juga tanpa menggunakan pelampung. Tentu perbuatan kedua orang tua ini menuai kritikan dari warganet. Sekitar 17 ribu komentar bertengger, sebagian besar berpendapat bahwa itu sangat membahayakan anaknya (Liputan6.com, 6 Januari 2023).

Semakin hari semakin banyak para pesohor bermunculan lewat Instagram, Youtube  maupun media sosial lainnya. Mereka berlomba membuat dan menampilkan konten dengan berbagai tujuan. Ada konten yang berisi hiburan, mengedukasi masyarakat, ada juga yang sekadar menambah jumlah pengikut dengan menunjukkan sesuatu yang berbeda. Terkadang, konten ekstrem hingga mempertaruhkan nyawa pun semua disuguhkan demi popularitas.

Keinginan untuk eksis menjadikan diri dan keluarga rela untuk disorot secara terbuka. Bahkan anak pun tak segan dijadikan ladang cuan guna meramaikan vlog milik orang tuanya. Padahal, tak semua kehidupan pribadi juga keluarga bisa ditonton khalayak ramai. Ada privasi yang sudah seharusnya dijaga dan tak jadi konsumsi banyak orang.

Sebagai seorang publik figur yang memiliki jutaan pengikut, seharusnya ia bersikap hati-hati dan mawas diri. Perilaku yang ia dan suaminya tampilkan, merupakan suatu perbuatan yang tidak patut dicontoh. Namun seakan menjadi hal yang lumrah juga hilang kewaspadaan, bahkan sampai mengeksploitasi anak manakala materi yang jadi tujuan.

Apa yang kita saksikan saat ini, merupakan arus kehidupan sekuler yang menganggungkan materi semata. Agama dipisahkan dari kehidupan sejauh-jauhnya. Kebebasan mengekspresikan diri, meskipun mengeksploitasi anak tak jadi persoalan. Sebab, yang jadi prioritas adalah popularitas. Sistem kehidupan yang rusak, membawa mereka tenggelam dalam jebakan duniawi. Sehingga mereka lupa bahwa dunia bukan segalanya. Inilah dampak diterapkannya Sistem sekuler Kapitalisme, di mana manusia bebas menyalurkan keinginannya tanpa disertai pemahaman halal haram, benar salah, dan boleh atau tidak. Selama materi didapatnya.

Jika melihat pengasuhan seorang youtuber ternama ini yang mengajak bayi lima bulan naik jet ski, tentu mengusik naluri para ibu. Maka tak heran, ia dicecar dan dikritik habis-habisan. Karena apa yang dilakukannya memang merupakan tindakan yang salah, terlebih ia malah membela diri dengan dalih anaknya memang sangat aktif bergerak.

Meskipun menurut Jef Drift dalam lamannya dikatakan kebanyakan negara tidak memiliki batasan resmi untuk penumpang jet ski. Akan tetapi, ukuran tubuh anak sangat penting saat hendak berada di atas jet ski. Pada intinya, balita belum terkategori aman untuk ikut bermain jet ski meski bersama orang tuanya. Karena ukuran badan yang belum memadai (Liputan6.com, 6 Januari 2023).

Dari sinilah kita harus memahami, bahwa anak adalah titipan dan anugerah dari Allah yang luar biasa. Dibutuhkan peran seorang ibu yang mampu menjaga dan melindunginya. Sebab ibu adalah orang pertama yang memberinya rasa aman dan nyaman pada anak. Sangat disayangkan jika ada seorang ibu yang demi mengejar popularitas, sedang membahayakan nyawa anak. Terlebih, jika ibu tersebut adalah seorang selebriti yang perilakunya sangat mudah ditiru banyak orang.

Sebagai seorang publik figur, sudah semestinya memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Isi kontennya dapat memberi edukasi yang menularkan kebaikan dan bermanfaat bagi banyak orang. Bukan sebaliknya, menginspirasi masyarakat melakukan tindakan yang berbahaya baik bagi diri juga bagi anak.

Dalam Islam, menjadi seorang ibu adalah peran yang mulia. Jika keluarga ibarat pabrik, ibu adalah pencetak generasi berkualitas. Ibu tidak hanya sekadar mengandung, melahirkan, menyusui, memberi makan, melainkan harus memiliki kemampuan dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Selain kecukupan fisik dan jasmani harus terpenuhi, seorang ibu juga wajib mendidiknya dengan menanamkan akidah Islam yang kuat. Sehingga, taat pada Allah dan Rasul-Nya menjadi keutamaan. Oleh karenanya, para ibu dan calon ibu wajib membekali diri dengan pemahaman Islam yang lurus. Dengan peran strategis ini, Islam memberikan perhatian besar bagi keberlangsungan generasi. Sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS Luqman : 113)

Di samping itu, dalam sistem Islam negara akan berperan aktif dalam mencetak dan menjaga generasi. Juga membentengi mereka dari segala kerusakan dan bahaya yang mengintai.  Karena di tangan generasilah peradaban cemerlang akan terwujud. Adapun bukti peran negara sebagai bentuk tanggung jawabnya dalam mendukung ibu akan diwujudkan dalam beberapa kebijakan diantaranya:

Pertama, negara tidak akan membebani para ibu dengan permasalahan ekonomi. Sebab negara memberi jaminan penuh kebutuhan dasar dengan memudahkan para ayah dalam mencari nafkah.

Kedua, menerpakan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang bertujuan untuk membentuk generasi berkepribadian Islam.

Ketiga, menyaring dan mencegah berbagai informasi yang dapat menghambat dalam mencetak generasi unggul. Seperti konten berbau pornografi, mengubar aurat, dan lain sebagainya.

Keempat, negara mendidik dan mengedukasi masyarakat agar senantiasa terikat dengan syariat. Tidak terbuai dengan kenikmatan dunia yang sesaat. Beramal untuk bekal akhirat dan beramar makruf nahi mungkar dalam mencegah terjadinya kemaksiatan. Hal tersebut dapat dilakukan ketika suasana keimanan tercipta, juga penerapan sistem sosial dan pergaulan berdasarkan syariat Islam.

Kelima, menindak setiap pelanggaran syariat dengan penegakan sistem sanksi. Tentu sanksi ini akan memberi dampak bagi pelaku. Penegakan sanksi dilakukan sebagai bentuk perlindungan dan jaminan negara terhadap keselamatan warganya, termasuk anak-anak di dalamnya. Negara tidak bersikap tegas kepada orang tua manakala mereka berbuat zalim kepada anaknya. Dalam kacamata syariat, warga biasa atau pejabat yang melanggar semua akan dikenai sanksi.

Inilah beberapa gambaran yang akan dilaksanakan sesuai aturan Islam, yang bertujuan membangun masyarakat Islam yang taat. Visi dan misi hidup seseorang adalah beribadah pada Allah Swt. Penerapan syariat secara kaffah di tengah masyarakat akan membawa kemaslahatan, kesejahteraan, dan keselamatan jiwa.

Dengan demikian, dalam Islam seorang ibu akan lebih fokus pada peran strategisnya sebagai ibu pendidik generasi, dibanding mengejar popularitas di dunia.

Wallahua’alam bish shawab.