Indahnya Hidup Dibawah Naungan Al-Quran

(Arrahmah.com) – Kajian ini ditayangkan di laman KursiHikmah.id pada Sabtu (20/3/2021), sebagai bagian dari kegiatan “Quran Fest – The Next Level of Hijrah”, yang disampaikan oleh Ustadz Budi Ashari, Lc.

اِنَّ هذَا الْقُرْانَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّلِحتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا. الاسراء

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS. Al-Israa’ : 9)

Kenapa surat itu disebut surat Bani Israil? Karena dari ayat kedua sampai delapan berbicara mengenai Bani Israil.

Ayat pertama berbicara mengenai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, namun di ayat kedua berbicara mengenai Nabi Musa, berbicara mengenai bagaimana kerusakan yang dibuat oleh Bani Israil. Bahwa mereka berbuat kerusakan dua kali dan sangat angkuh di muka bumi ini. Ada yang mengatakan satu kali di zaman dahulu, dan sekali di zaman ini, namun ada juga yang mengatakan telah terjadi dua kali di masa lalu.

Di ayat kesembilan berbicara kembali mengenai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Gaza saat ini mengubah jargon dari Gaza Izzah menjadi Gaza Quran. Inspirasinya dari ayat-ayat dalam surat tersebut, bahwa kerusakan yang dibuat oleh Bani Israil solusinya adalah Quran.

Dengan Al Quran maka akan selesai seluruh kedzoliman yang terjadi hari ini.

Al Quran itu adalah amanah dari Allah yang diturunkan melalui Malaikat kepada Rasulullah dan disampaikan kepada ummatnya. Quran diturunkan untuk masuk ke dalam hati Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, jika sudah masuk ke dalam hati, maka kamu [Nabi Muhammad] akan menjadi mundzir, pemberi peringatan. Jika Quran ada dalam hati, maka kita tidak akan ridho menyaksikan kedzoliman, kecurangan.

Quran turun dengan berbahasa Arab, bahasa Arab itu adalah bahasa yang paling fasih dan paling luas. Allah pilih bahasa Arab karena bahasa tersebut paling mampu mengungkapkan apa yang dimaksud dalam hati. Karenanya diturunkanlah kitab yang paling mulia dengan bahasa yang paling mulia, diturunkan kepada Rasul yang paling mulia (Muhammad) dengan perantara malaikat yang paling mulia (Jibriel) di tempat yang paling mulia (Mekkah) dan pertama kali diturunkan di bulan yang paling mulia (Ramadhan), maka Quran ini adalah kitab yang sempurna dari semua sisinya, menurut Ibnu Katsir.

Al Quran adalah kitab suci terakhir yang Allah turunkan dan kitab suci yang Allah jamin.

Di masa Khalifah Al Ma’mun, Al Ma’mun jatuh cinta dengan tulisan tangan seorang kafir, beliau ingin mengangkatnya sebagai pejabat. Selain diberikan pekerjaan, khalifah mengajaknya ke dalam Islam. Namun ia tidak menerima dan pergi. Tetapi setahun kemudian ia kembali ke istana, dan ternyata sudah memeluk Islam.

Al Ma’mun, seorang khalifah yang memiliki kekuasaan, tidak mampu menghantarkan hidayah kepada seseorang. Ia bercerita bahwa perjalanan selama setahun yang menghantarkannya kepada Islam. Ia menggunakan tulisan tangannya yang indah, menulis kitab Taurat namun diubah-ubah, ditambah dan dikurangi, lalu ia jual kepada ulamanya, dan ulamanya menerimanya. Begitu juga dengan Injil, ia melakukan hal yang sama, dan ulamanya menerimanya. Dan ia pun melakukan hal serupa kepada Al Quran, namun saat menjualnya kepada ulamanya, ulamanya menolak dan mengatakan: “Sungguh ini bukan kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi kami”.

Ia sangat heran, mengapa hanya Quran yang ketahuan. Dan ternyata hal tersebut ada dalam Al Quran, bahwa Allah sendiri yang menjaga kitab sucinya. Hal itulah yang menghantarkannya kepada Islam.

Di bumi ini ada keluarganya Allah, yaitu ahlul Quran, mereka yang menghafal dan mengamalkannya, mereka adalah orang-orang khusus yang tidak akan disia-siakan Allah. Di setiap zaman Allah akan siapkan orang-orang yang menjaga Al Quran.

Dulu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam sering membaca Al Quran di dekat Ka’bah, beliau bersandar di Ka’bah dan membacanya keras-keras. Kenapa? Karena Quran itu bukan kalimat manusia, tapi kalam Allah, karena dia mukjizat bahkan sampai huruf dan katanya, maka jika dibacakan akan berpengaruh ke dalam hati pendengarnya.

Quran itu berat, “Kami wahai Muhammad akan memberikan kepadamu perkataan yang berat (wahyu)”. Jadi jika seorang beriman memiliki Quran dalam hatinya, ia memiliki sesuatu yang berat, maka langkahnya akan tegap lurus ke depan, tidak sempoyongan.

Walid bin Mughiroh, paman Abu Jahal, berdiskusi dengan Abu Jahal, dua orang tokoh musuh Islam paling kuat, mereka sangat pusing menghentikan Quran yang telah berhasil memasukkan tokoh-tokoh Quraisy ke dalam Islam. Mereka berdua tidak mengerti lagi harus bagaimana. Walid bin Mughiroh mengatakan: “Apa yang bisa aku lakukan kepada syair-syair yang dibacakan Muhammad (Quran)? karena itu sangat manis”. Namun Abu Jahal memaksa pamannya untuk mengeluarkan pernyataan buruk tentang Quran, karena kalimat Walid bin Mughiroh akan didengarkan oleh kaum kafir Quraisy.

Saat itu Walid bin Mughiroh meminta waktu, inilah yang diabadikan dalam Quran surah Al Mudatsir (18-20), waktu-waktu saat Walid bin Mughiroh memikirkan untuk menyerang Quran. Lalu akhirnya ia mengatakan bahwa Quran bukan kalimat Allah, tapi kalimat ahli sihir, karena ia tidak bisa lagi mengatakan apa-apa untuk memburukkan Quran.

Quran ini adalah talinya Allah, peganglah kuat-kuat agar selamat. Dia adalah cahaya yang nyata. Kenapa hidup kita gelap? Karena tidak ada Qurannya, kenapa rumah kita gelap? (banyak masalah, kesulitan, tidak nyaman, tidak tentram) karena tidak diisi dengan Quran, tidak dibacakan Quran di dalamnya, karena itulah setan betah tinggal di rumah tersebut.

Para ulama sampai hari ini selalu meneliti Quran dan selalu menemukan hal yang baru. Di antaranya penelitian oleh ulama Maroko tentang akhlak, Syaikh Abu Zaid. Beliau mengatakan di dalam Quran ada 22 jenis akhlak, di antaranya: sabar, berbuat baik, takut kepada Allah, dan lainnya. Mengenai akhlak 1.337 kali disebutkan dalam Quran, artinya di setiap halaman ada pembahasan tentang akhlak.

Beberapa akhlak yang terpenting yang diteliti oleh beliau:
1. Al-Adl (keadilan) lawannya dzolim, disebut 355 kali dalam Quran
2. Ar Rahmah (kasih sayang) disebutkan 246 kali
3. At Taqwa 230 kali
4. Kejujuran 150 kali
5. Al Islah (mendamaikan manusia yang bertikai) 123 kali, maka jika ada Muslim yang selalu menjadi kompor (selalu membuat panas), mereka tidak sejalan dengan kitab suci. Dari sini saja kita harusnya paham, seperti itulah Islam.

Maka tadabburi Quran, kita renungi dan pahami Quran. Perintah untuk mentadabburi Quran ada dalam 4 surat:

Shad 29

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”

Al Mu’minun 68-70

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا۟ ٱلْقَوْلَ أَمْ جَآءَهُم مَّا لَمْ يَأْتِ ءَابَآءَهُمُ ٱلْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?”

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا۟ رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُۥ مُنكِرُونَ

“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?”

أَمْ يَقُولُونَ بِهِۦ جِنَّةٌۢ ۚ بَلْ جَآءَهُم بِٱلْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَٰرِهُونَ

“Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila”. Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.”

An Nisaa 82

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Muhammad 24

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Shad dan Al Mu’minun surat Makkiyah dan An Nisaa dan Muhammad surat Madaniyah. Artinya, baik saat berada di Mekkah maupun di Madinah, Allah memerintahkan ummat Islam untuk selalu mentadabburi Quran.  (haninmazaya/arrahmah.com)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Banner Donasi Arrahmah