Kewalahan Digempur Turki, Milisi Kurdi Hentikan Dulu Operasi Memburu ISIS

Oleh:

|

Kategori:

Ahmed Abu Kholeh, kepala dewan militer Deir Ezzor yang berjuang di bawah Pasukan Demokratik Suriah (SDF), berbicara dalam konferensi pers di desa Abu Fas, provinsi Hasaka, Suriah, September 2017. [Foto : Rodi Said/Reuters]

HASAKAH (Arrahmah.id) — Komandan Milisi Kurdi di Suriah telah menghentikan operasi mereka untuk melawan kelompok militan Islamic State (ISIS). Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (26/11/2022), setelah seminggu serangan udara intensif Turki di posisi mereka, sedikitnya 100 serangan udara menghantam posisi milisi.

Presiden Recep Tayyip Erdogan memerintahkan militer untuk memulai Operasi Claw Sword pada 20 November, dengan mengatakan bahwa serangan udara akan diikuti oleh invasi darat, mendorong pasukannya lebih jauh ke Suriah.

Operasi itu menyusul pengeboman 13 November di Istanbul yang menewaskan enam orang, termasuk dua anak, serangan yang Turki tuduhkan pada kelompok milisi sosialis Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang sebagian besar beroperasi di Irak utara tetapi juga memiliki posisi di Suriah.

Operasi Turki, serangan besar ketiga sejak 2016, terutama menargetkan Pasukan Demokrat Suriah, milisi Kurdi yang didukung AS, yang menguasai sebagian besar Suriah timur.

“Pasukan yang bekerja secara simbolis dengan koalisi internasional dalam perang melawan ISIS sekarang menjadi sasaran negara Turkiye dan oleh karena itu operasi dihentikan,” kata Komandan SDF Mazloum Abdi, dilansir dari The National News (27/11).

Tentara Turki sudah hadir di distrik beberapa provinsi di sepanjang perbatasan dengan Turki termasuk Aleppo, Raqqa dan Hasakah, menduduki daerah-daerah tersebut dengan sekutu kelompok perlawanan Suriah yang didanai oleh Ankara.

Negara-negara Barat telah mempersenjatai dan melatih milisi sosialis Kurdi, khususnya SDF, dalam perang melawan ISIS. Mereka fokus dalam bantuan serangan udara, khususnya AS, dan menjadi penasihat lapangan untuk mengusir ISIS.

Kemenangan besar SDF termasuk pertempuran Kobani pada 2015 dan pertempuran terakhir melawan ISIS di kota Raqqa dan Baghouz pada 2018. Tetapi Turki mengatakan SDF terkait dengan PKK, yang telah melakukan serangan teroris termasuk bom bunuh diri di Turki.

AS dan UE telah menetapkan PKK sebagai organisasi teroris dan mengatakan dukungan mereka untuk SDF tidak membantu PKK. Kedua kelompok mengatakan mereka tidak berperan dalam serangan Istanbul 13 November.

SDF mengatakan pada hari Jumat bahwa ketika drone Turki terbang di atas kamp Al Hol yang menampung puluhan ribu istri, janda dan anak-anak militan ISIS, beberapa anggota keluarga ISIS menyerang pasukan keamanan dan berhasil melarikan diri dari fasilitas yang luas. SDF tidak mengatakan berapa banyak yang lolos tetapi mereka kemudian ditangkap.

Otoritas Kurdi mengoperasikan lebih dari dua lusin fasilitas penahanan yang tersebar di timur laut Suriah yang menahan sekitar 10 ribu pejuang ISIS. Di antara yang ditahan adalah 2.000 orang asing yang negara asalnya menolak untuk memulangkan mereka, termasuk sekitar 800 orang Eropa. (hanoum/arrahmah.id)