Khabbab bin Al-Arat, Sang Pandai Besi yang Pemberani

Oleh:

|

Kategori:

(Arrahmah.id) – Seorang wanita bernama Umm Anmaar yang berasal dari suku Khuza’a di Makkah pergi ke pasar budak di kota. Dia ingin membeli seorang budak untuk mengurusi pekerjaan rumah tangganya sekaligus yang bisa dieksploitasi tenaganya untuk keuntungan ekonomi.

Saat dia mengamati wajah orang-orang yang dipajang untuk dijual, matanya tertuju pada seorang anak laki-laki yang jelas-jelas belum remaja. Dia melihat bahwa dia kuat dan sehat dan ada tanda-tanda kecerdasan yang jelas di wajahnya. Tanpa berpikir panjang ia membeli lalu membawanya pulang.

Dalam perjalanan, Ummu Anmaar menoleh ke anak laki-laki itu dan berkata:

“Siapa namamu, Nak?”

“Khabbab.”

“Dan siapa nama ayahmu?”

“Al-Arat. “

“Darimana asal kamu?”

“Dari Najd.”

“Kalau begitu kamu orang Arab!”

“Ya, dari Bani Tamim.”

“Lalu bagaimana kamu bisa sampai ke tangan pedagang budak di Makkah?”

“Salah satu suku Arab menyerbu wilayah kami. Mereka mengambil ternak kami dan menangkap wanita dan anak-anak. Saya termasuk di antara yang ditangkap. Saya berpindah dari satu tangan ke tangan lain sampai saya berakhir di Makkah.”

Ummu Anmaar mengirim pemuda itu magang ke salah satu pandai besi di Makkah untuk belajar seni membuat pedang. Khabbab belajar dengan cepat dan segera menjadi ahli dalam profesinya. Ketika dia cukup kuat, Ummu Anmaar mendirikan bengkel untuknya dengan semua alat dan perlengkapan yang diperlukan dari pembuatan pedang. Tak lama kemudian dia cukup terkenal di Makkah karena keahliannya yang luar biasa. Orang-orang juga suka berurusan dengannya karena kejujuran dan integritasnya. Umm Anmaar memperoleh banyak keuntungan melalui dia dengan mengeksploitasi bakatnya secara maksimal.

Terlepas dari usianya yang masih muda, Khabbab menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan yang unik. Seringkali, ketika dia telah selesai bekerja dan dibiarkan sendiri, dia akan merenung secara mendalam tentang keadaan masyarakat Arab yang begitu tenggelam dalam korupsi. Ia muak dengan penindasan, kesewenang-wenangan serta ketidakadilan yang diihatnya setiap saat.

Sebagai salah satu korban kesewenang-wenangan, ia selalu menghibur diri dengan berkata:

“Setelah malam kegelapan ini, pasti ada fajar.” Seraya berharap ia akan hidup cukup lama untuk melihat kegelapan menghilang oleh cahaya yang baru.

Ternyata Khabbab tidak perlu menunggu lama. Ia mendapat keistimewaan untuk berada di Makkah ketika sinar pertama cahaya Islam menembus kota. Seseorang mengumumkan bahwa tidak ada yang pantas disembah atau dipuja kecuali Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Ia menyerukan diakhirinya ketidakadilan dan penindasan dan dengan tajam mengkritik praktik orang kaya dalam mengumpulkan kekayaan dengan mengorbankan orang miskin dan orang buangan. Dia mencela hak istimewa dan sikap aristokrat dan menyerukan tatanan baru berdasarkan penghormatan terhadap martabat manusia dan kasih sayang bagi yang kurang mampu termasuk yatim piatu, musafir dan yang membutuhkan. Dialah Muhammad bin Abdullah -Rasulullah shalallahu alayhi wa sallam.

Bagi Khabbab, ajaran Muhammad seperti cahaya kuat yang menghalau kegelapan. Ia lalu mendatangi dan mendengarkan ajaran ini langsung darinya. Tanpa ragu ia mengulurkan tangannya kepada Nabi dalam kesetiaan dan bersaksi bahwa “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.” Dia termasuk di antara sepuluh orang pertama yang menerima Islam.

Khabbab Radhiyallahu ‘Anhu tidak menyembunyikan keislamannya dari siapapun. Ketika berita keislamannya sampai ke Ummu Anmaar, sang majikan menjadi berang. Ummu Anmaar  lalu mendatangi saudara laki-lakinya Sibaa bin Abd al-Uzza yang lalu mengumpulkan sekelompok pemuda dari suku Khuzaa dan bersama-sama mereka pergi ke Khabbab Radhiyallahu ‘Anhu.

Mereka menemukan Khabbab yang tengah asyik dengan pekerjaannya. Sibaa berkata padanya:

“Kami telah mendengar beberapa berita tentang engkau yang tidak kami percayai.”

“Apa itu?” tanya Khabbab.

“Kami telah diberitahu bahwa Engkau telah meninggalkan agama nenek moyang dan sekarang mengikuti orang dari Bani Hasyim itu.”

“Saya belum melepaskan agama nenek moyang” jawab Khabbab dengan tenang. “Saya hanya percaya pada satu Tuhan Yang tidak memiliki pasangan. Saya menolak berhala kalian dan saya percaya bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”

Tidak lama setelah Khabbab mengucapkan kata-kata ini, Sibaa dan gengnya langsung menyerangnya. Mereka memukulinya bertubi-tubi dengan jeruji besi dan mereka menendangnya sampai Khabbab jatuh pingsan dengan darah mengucur dari luka yang ia terima.

Berita tentang apa yang terjadi antara Khabbab dan majikannya menyebar ke seluruh Makkah layaknya bola liar. Orang-orang tercengang akan kejujuran Khabbab. Mereka belum pernah mendengar ada pengikut Muhammad yang berani mengumumkan fakta dengan terus terang akan keyakinan baru yang mereka peluk.

Peristiwa Khabbab mengguncang para pemimpin kaum Quraisy. Mereka tidak menyangka bahwa seorang pandai besi, seperti milik Ummu Anmaar dan yang tidak memiliki kerabat di Makkah untuk melindunginya dan bahkan tidak ada asabiyyah yang bisa mencegahnya dari cedera, akan cukup berani untuk keluar mencela tuhan-tuhan dan menolak agama nenek moyangnya. Mereka menyadari bahwa ini hanyalah permulaan.

Orang Quraisy tidak salah dalam harapan mereka. Keberanian Khabbab Radhiyallahu ‘Anhu mengesankan banyak temannya dan mendorong mereka untuk mengumumkan penerimaan Islam mereka.

Satu demi satu, mereka mulai memberitakan pesan kebenaran kepada publik. Di halaman Masjidil Haram, dekat Kabah, para pemuka Quraisy berkumpul untuk membicarakan masalah Muhammad shalallahu alayhi wa sallam. Diantaranya adalah Abu Sufyan bin Harb, al Walid bin Mughirah dan Abu Jahl bin Hisyam. Mereka mencatat bahwa Muhammad semakin kuat dan pengikutnya bertambah hari demi hari, bahkan jam demi jam. Bagi mereka ini seperti penyakit yang mengerikan dan mereka memutuskan untuk menghentikannya sebelum menjadi tidak terkendali. Mereka memutuskan bahwa setiap suku harus menangkap pengikut Rasulullah shalallahu alayhi wa sallam di antara mereka dan menghukumnya sampai dia murtad atau mati.

Sibaa bin Abd al-Uzza dan orang-orangnya bertugas untuk menghukum Khabbab lebih jauh. Secara teratur mereka mulai membawanya ke semua area terbuka di kota ketika matahari berada di puncaknya dan tanah sangat panas. Mereka akan menanggalkan pakaiannya dan memakaikannya baju besi dan membaringkannya di tanah. Dalam panas yang menyengat kulitnya akan terbakar dan tubuh yang terkena akan melepuh. Ketika Khabbab telihat lemah seakan-akan sekarat, mereka akan datang dan menantangnya:

“Apa yang Engkau katakan tentang Muhammad?”

“Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dia telah datang dengan agama petunjuk dan kebenaran, untuk memimpin kita dari kegelapan menuju cahaya.”

Mendengar hal ini mereka menjadi lebih marah dan mengintensifkan penyiksaan. Mereka akan bertanya tentang al-Laat dan al-Uzza dan dia akan menjawab dengan tegas:

“Dua berhala, tuli dan bisu, yang tidak dapat membahayakan atau membawa manfaat apa pun…”

Ini membuat mereka semakin marah dan mereka akan mengambil batu besar yang panas dan meletakkannya di punggungnya. Rasa sakit dan penderitaan Khabbab sangat menyiksa tetapi dia tidak menarik kembali perkataannya.

Kebiadaban Umm Anmaar terhadap Khabbab tidak kalah dengan kakaknya. Suatu kali dia melihat Nabi shalallahu alayhi wa sallam berbicara dengan Khabbab di bengkelnya dan dia menjadi sangat marah. Setiap hari setelah itu, selama beberapa hari, dia pergi ke bengkel Khabbab dan menghukumnya dengan meletakkan besi panas dari tungku di kepalanya. Penderitaan Khabbab tak tertahankan dan ia sering pingsan.

Khabbab menderita dalam waktu yang lama dan satu-satunya jalan adalah berdoa. Dia berdoa untuk hukuman Ummu Anmaar dan kakaknya.

Pembebasannya dari rasa sakit dan penderitaan hanya datang ketika Nabi shalallahu alayhi wa sallam memberikan izin kepada para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah.

Ummu Anmaar saat itu tidak bisa mencegahnya pergi. Dia sendiri menderita penyakit mengerikan yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya. Dia berperilaku seolah-olah dia telah menderita serangan rabies. Sakit kepala yang dia alami sangat menyakitkan. Anak-anaknya mencari bantuan medis ke mana-mana sampai akhirnya mereka diberitahu bahwa satu-satunya obat adalah membakar kepalanya. Perawatannya dilakukan dengan menuangkan besi panas di atas kepalanya persis seperti yang telah ia lakukan terhadap Khabbab.

Di Madinah, di antara orang-orang Ansar yang dermawan dan ramah, Khabbab mengalami ketenangan yang sudah lama tidak ia kenal. Dia senang berada di dekat Nabi shalallahu alayhi wa sallam, tanpa ada yang mengganggunya. Ia berjuang bersama Nabi yang mulia di perang Badar, juga berpartisipasi dalam pertempuran Uhud di mana ia merasa puas melihat Sibaa bin Abd al-Uzza menemui ajalnya di tangan Hamzah bin Abdul Muttalib Radhiyallahu ‘Anhu, paman Nabi shalallahu alayhi wa sallam.

Khabbab RA hidup cukup lama untuk menyaksikan ekspansi besar Islam di bawah empat Khulafaur Rasyidin – Abu Bakar Ash Shiddiq RA, Umar bin Khattab RA, Utsman bin Affan RA dan Ali bin Abi Thalib RA. Ia pernah mengunjungi Umar RA pada masa kekhalifahannya. Umar RA yang sedang rapat pada saat itu langsung berdiri dan menyapa Khabbab dengan kata-kata:

“Tidak ada seorang pun yang lebih pantas darimu untuk berada di majelis ini selain Bilal Radhiyallahu ‘Anhu.”

Umar lalu bertanya kepada Khabbab tentang penyiksaan dan penganiayaan yang ia terima di tangan musyrikin. Khabbab menjelaskan hal ini secara mendetail karena masih sangat jelas di benaknya. Ia kemudian memperlihatkan punggungnya dan bahkan Umar terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Di fase terakhir hidupnya, Khabbab dikaruniai kekayaan yang belum pernah ia impikan sebelumnya. Namun, dia terkenal murah hati. Bahkan dikatakan bahwa ia menempatkan dirham dan makan malamnya di bagian rumahnya yang diketahui orang miskin dan yang membutuhkan. Dia tidak mengamankan uang ini dengan cara apa pun dan mereka yang membutuhkan akan datang dan mengambil apa yang mereka butuhkan tanpa meminta izin atau mengajukan pertanyaan apa pun.

Meskipun demikian, dia selalu takut akan pertanggungjawabannya kepada Allah SWT atas cara dia ‘membuang’ kekayaannya tersebut. Sekelompok sahabat menceritakan bahwa mereka mengunjungi Khabbab ketika dia sakit dan dia berkata:

“Di tempat ini ada 80.000 dirham. Demi Allah, aku tidak pernah mengamankannya dengan cara apa pun dan aku tidak melarang siapa pun yang membutuhkannya.”

Dia menangis dan mereka bertanya mengapa dia menangis.

“Saya menangis,” katanya, “karena teman-teman saya telah meninggal dunia dan mereka tidak memperoleh harta sebesar ini di dunia. Sementara saya masih hidup dan memperoleh kekayaan ini, saya khawatir ini akan menjadi satu-satunya balasan perbuatan saya.

Segera setelah dia meninggal. Khalifah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, semoga Allah SWT meridhoi dia, berdiri di kuburannya dan berkata:

“Semoga Tuhan mengampuni Khabbab. Dia menerima Islam dengan sepenuh hati. Dia melakukan hijrah dengan rela. Dia hidup sebagai seorang mujahid dan Allah SWT tidak akan menahan pahala orang yang telah berbuat baik.” (zarahamala/arrahmah.id)