Meski Sempat Bermusuhan, MBS Minta Aparatnya Bantu Qatar Selenggarakan Piala Dunia 2022

Oleh:

|

Kategori:

Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman tiba di Qatar untuk menghadiri upacara pembukaan Piala Dunia FIFA. [Foto : Twitter]

RIYADH (Arrahmah.id) — Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mengarahkan semua kementerian dan lembaga pemerintah Arab Saudi “untuk memberikan dukungan atau fasilitas tambahan yang diperlukan oleh Qatar” untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, seperti laporan Arab News (20/11/2022).

MBS tiba di Doha, Qatar, tuan rumah Piala Dunia satu hari sebelum pembukaan atas undangan Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, Emir Qatar, seperti laporan Saudi Press Agency (20/11).

Arab Saudi adalah salah satu negara yang bersaing dalam acara global di Qatar tersebut, bertarung melawan Argentina, Meksiko dan Polandia di Grup C.

Qatar mengakhiri tur luar negeri terbaru MBS, yang dimulai di Indonesia pada 15 November untuk menghadiri pertemuan para pemimpin 20 ekonomi teratas dunia, yang dikenal sebagai G20.

MBS kemudian terbang ke Seoul untuk serangkaian pertemuan dengan para pejabat Korea Selatan dan para pemimpin bisnis, diikuti dengan kunjungan resmi ke Thailand, di mana ia juga berpartisipasi dalam KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik APEC dan bertemu dengan beberapa pemimpin Asia.

Delegasi pendampingnya termasuk pejabat kunci kabinet dan sejumlah menteri senior.

Piala Dunia Sepak Bola tahun 2022 baru saja dimulai di Doha, Qatar, dipenuhi kritik dari negara Barat tentang berbagai hal, mulai kritik tentang perempuan, LGBTQ, dan hak-hak pekerja migran.

Presiden FIFA Gianni Infantino pada hari Jumat (19/11), seperti laporan Associated Press, menyatakan bangsa-bangsa Eropa menganut standar ganda dalam hal moralitas.

Hal tersebut disampaikan Infantino menanggapi kritik-kritik terhadap Piala Dunia Qatar 2022 yang ramai dilontarkan berbagai pihak di Eropa.

“Apa yang kita, bangsa Eropa, lakukan dalam 3.000 tahun terakhir, kita harus minta maaf atasnya selama 3.000 tahun ke depan sebelum kita mulai memberi pelajaran moral ke orang-orang,” kata Infantino dalam konferensi pers di Doha, Sabtu (19/11), dikutip Associated Press.

“Hari ini saya merasa jadi orang Qatar. Hari ini saya merasa jadi orang Arab. Hari ini saya merasa jadi orang Afrika. Hari ini saya merasa jadi orang gay. Hari ini saya merasa jadi buruh migran,” kata Infantino.

Lebih lanjut, Presiden FIFA itu mengaitkan kritik terhadap Piala Dunia Qatar dengan perundungan dan diskriminasi yang dialaminya sebagai keturunan Italia yang bermukim di Swiss.

Infantino pun menyanjung Qatar yang disebutnya membuka kesempatan bagi pekerja-pekerja India, Bangladesh, dan negara-negara Asia Tenggara kala negara-negara Eropa menutup pintu dari imigran.

Para pekerja migran di Qatar yang turut membangun infrastruktur Piala Dunia dilaporkan mengalami diskriminasi dan mesti bekerja dalam kondisi tak layak.

Equidem, organisasi hak asasi manusia yang berbasis di London pun menyebut para pekerja migran juga mengalami sederet pelanggaran dan para pelaku lolos dari hukuman. (hanoum/arrahmah.id)