Nasionalisme Chauvinis Ala Hendropriyono

2.127

Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas

(Arrahmah.coom) – Mantan Kepala BIN Jenderal (Purn.) AM Hendropriyono menyatakan bahwa Palestina dan Israel bukan urusan kita, melainkan urusan mereka, bangsa Arab dan Yahudi.

1) “Urusan Indonesia adalah nasib kita dan hari depan anak cucu kita,” kata AM Hendropriyono di Jakarta, Selasa (18/05/2021).

Hal tersebut disampaikan AM Hendropriyono terkait dengan maraknya pro-kontra dukung-mendukung perang Israel-Palestina. Ia menyampaikan keprihatinannya yang disampaikan kepada teman-temannya sesama anggota Kerukunan Keluarga (KEKAL) Akmil 1967.

Pemikiran Hendropriyono terjebak dalam kerangkeng nasionalisme chauvinis, yaitu cinta membabi buta terhadap bangsanya, sebaliknya memandang rendah terhadap bangsa lain.

Pernyataan Hendro ini, bukan saja bertentangan dengan akal sehat, tapi juga bertentangan dengan konstitusi bangsa Indonesia.

Pembukaan UUD 1945, alinea satu dan dua: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan….”

Opini dunia internasional tidak mengakui eksistensi negara Israel. Sebaliknya, dianggap agresor dan penjajah bangsa Palestina. Maka penjajahan ini harus dilawan, bukan dibiarkan.

2) Menurut  Hendropriyono, banyak orang sudah terbawa arus pengkhianatan mendukung ideologi khilafah, liberalisme, kapitalisme, komunisme, atau ideologi asing apapun.  Ada juga oknum aparat militer dan polisi, apalagi ASN (aparat sipil negara), juga politisi.

“Kalau ada yang melecehkan saya karena saya membela filsafat dasar bangsa kita, Pancasila, tolong merapatkan barisan dengan saya untuk membela diri, bangsa kita sendiri. Ironis sekali orang yang mengritik saya membela Pancasila, demi membela negeri sendiri, tapi dia menggebu-gebu membela Palestina,” ujar Hendropriyono.

Benarkah Hendropriyono cinta Indonesia dan membela Pancasila? Ucapan Hendro ini tak ubahnya seperti klaim gembong komunis DN Aidit, mengaku pembela Pancasila tapi terbukti pengkhianat Pancasila dengan pemberontakan G30S/PKI 1965.

Lalu dimana Hendro ketika sejumlah anggota fraksi PDIP di DPR, inisiator RUU HIP, yang ingin merobah dasar negara Ketuhanan YME jadi  tuhan kebudayaan? Tidak hanya itu, mereka juga ingin membonsai Pancasila jadi trisila atau ekasila. Mengapa Hendro bungkam, tidak bereaksi. Apakah sikap diamnya menunjukkan persetujuannya?

Sebagai Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), AM Hendro juga tidak bereaksi terhadap likwidasi ulama dan tokoh nasional dalam buku kamus sejarah produk Kemendikbud. Nama pendiri NU, KH Hasyim Asyari, dan tokoh TNI Jend. AH Nasution dihapus, diganti tokoh PKI DN Aidit, Semaeon dll.

Dengan kenyataan ini, sulit bagi kita untuk percaya atas klaim, bahwa Hendro cinta NKRI dan pembela ideologi Pancasila.

Absurdnya, tiba-tiba Hendro berteriak tentang bahaya khilafahisme. Disatu sisi, ia anti Arab dan menentang khilafah, disisi lain diam terhadap invasi politik komunis Cina dan indikasi bangkitnya PKI. Bahkan, terang-terangan menyudutkan perjuangan kemerdekaan bangsa muslim Palestina serta mendiskreditkan seruan perlawanan terhadap agresor dan penjajah Yahudi. Maka, mafhum bila ada pihak yang menilai AM Hendropriyono sebagai tokoh Islamophobia di Indonesia.

Yogyakarta, 7 Syawal 1442 H/ 19/5/2021

(*/arrahmah.com)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya