Negoisasi Damai Buntu, Bentrokan HTS – SNA Meletus Lagi di Afrin

Oleh:

|

Kategori:

Kelompok perlawanan Suriah Hai'ah Tahrir Syam (HTS) bersama sekutunya membawa bala bantuan di pinggiran wilayah Afrin di provinsi Aleppo utara untuk memerangi Legiun Ketiga, pada 13 Oktober 2022. [Foto : AFP]

AFRIN (Arrahmah.id) — Bentrokan kembali terjadi antara kelompok perlawanan Suriah Hai’ah Tahrir Syam (HTS) dan sekutunya melawan Legiun ketiga SNA di kota Afrin meski sebelumnya sudah tercapai gencetan senjata.

Dilansir North Press Agency (14/10/2022), menurut sumber setempat, bentrokan terjadi di wilayah Kafr Janneh Afrin menyebabkan korban dari kedua belah pihak.

Sebelumnya pada hari Jumat, negosiasi yang ditengahi Turki diadakan antara HTS dan Legiun Ketiga di perbatasan Bab al-Hawa yang melintasi utara Aleppo.

Pada negoisasi itu dicapai kesepakatan bahwa baik HTS naupun Legiun Ketiga akan menghentikan tembakan dan mengakhiri perselisihan antara kedua pihak.

Kesepakatan itu juga termasuk membebaskan tahanan dari kedua belah pihak dan mengembalikan markas yang disita ke Legiun Ketiga, menurut sumber lokal.

Afrin, sebuah kota Kurdi di utara Aleppo, telah berada di bawah pendudukan Turki sejak Maret 2018 menyusul operasi militer yang disebut “Cabang Zaitun” yang mengakibatkan perpindahan sekitar 300.000 orang dari penduduk asli kota dan pedesaannya.

Daerah-daerah yang dikuasai oleh faksi-faksi SNA, selama tiga hari, telah menyaksikan kerusuhan akibat bentrokan dengan Divisi Hamzah di belakang pembunuhan seorang aktivis dan istrinya di tangan militan divisi tersebut.

Namun menurut Hisham Iskef, juru bicara Legiun Ketiga, kepada Reuters (14/10), negosiasi untuk mengakhiri pertempuran telah gagal dan bentrokan semakin intensif

Pejabat lokal di kota Azaz menyerukan warga untuk melawan HTS sementara pernyataan serupa dari kota Al-Bab meminta Turki dan tokoh oposisi Suriah untuk turun tangan dan menjaga perdamaian.

Afrin, sebuah kota Kurdi di utara Aleppo, telah berada di bawah pendudukan Turki sejak Maret 2018 menyusul operasi militer yang disebut “Cabang Zaitun” yang mengakibatkan perpindahan sekitar 300.000 orang dari penduduk asli kota dan pedesaannya. (hanoum/arrahmah.id)