Nigeria Sangkal ‘Program Aborsi’ Massal Korban Boko Haram

Oleh:

|

Kategori:

Kelompok bersenjata menyebabkan lebih dari dua juta orang meninggalkan rumah mereka di timur laut Nigeria sejak 2009, dengan sebagian besar menetap di kamp-kamp kumuh. (AFP)

ABUJA (Arrahmah.id) – Militer Nigeria membantah melakukan program terlarang selama bertahun-tahun yakni melakukan aborsi pada perempuan yang telah menjadi korban kelompok bersenjata di barat laut, sebuah klaim yang dilaporkan oleh Reuters pada Rabu (7/12/2022).

“Sejak 2013, militer Nigeria telah melakukan program aborsi rahasia, sistematis dan ilegal di timur laut negara itu, dengan mengakhiri setidaknya 10.000 kehamilan,” kata kantor berita tersebut.

Dikatakan banyak perempuan dan anak perempuan telah diculik dan diperkosa oleh pejuang bersenjata, dan menambahkan bahwa mereka yang menolak aborsi berisiko “dipukuli, ditahan di bawah todongan senjata atau dibius agar patuh.”

Laporan tersebut didasarkan pada pernyataan saksi dari 33 perempuan dan anak perempuan, lima pekerja kesehatan, dan sembilan personel keamanan yang terlibat dalam dugaan program tersebut, dan pada dokumen militer dan catatan rumah sakit yang “menggambarkan atau menghitung ribuan prosedur aborsi”.

Sebagian besar aborsi, kata Reuters, dilakukan tanpa persetujuan para wanita dan beberapa dilakukan tanpa sepengetahuan mereka sebelumnya, melalui pil atau suntikan pemicu aborsi dengan dalih sebagai obat untuk meningkatkan kesehatan atau memerangi penyakit. Laporan  tersebut tidak dapat menemukan siapa yang membuat program aborsi atau menentukan siapa di militer atau pemerintah yang menjalankannya.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Ned Price mengatakan pada Rabu (7/12) bahwa Washington sedang menyelidiki laporan tersebut.

“Itu adalah laporan yang mengerikan. Ini laporan yang memprihatinkan dan untuk alasan itu, kami sedang mencari informasi lebih lanjut,” katanya.

Nigeria timur laut adalah pusat konflik yang dipelopori oleh kelompok bersenjata, terutama Boko Haram pada 2009.

Lebih dari 40.000 orang telah tewas dan sekitar dua juta orang mengungsi dalam konflik berkepanjangan, yang telah meluas ke negara tetangga Chad, Niger dan Kamerun.

Dalam reaksinya, tentara Nigeria mengecam laporan itu sebagai “sebuah penghinaan terhadap masyarakat dan budaya Nigeria. Personel militer Nigeria telah dibesarkan dan dilatih untuk melindungi kehidupan,” katanya.

“Oleh karena itu, [militer Nigeria] tidak akan melakukan kejahatan dengan menjalankan program aborsi yang sistematis dan ilegal di mana saja dan kapan saja, dan tentunya tidak di tanah kita sendiri.”

Agama memainkan bagian inti dalam kehidupan Nigeria, dengan Islam sebagai keyakinan dominan di utara negara itu, dan Kristen di selatan.

Aborsi adalah ilegal di negara ini kecuali jika nyawa ibu dalam bahaya.

Di utara, penghentian kehamilan ilegal membawa risiko hukuman penjara 14 tahun. (zarahamala/arrahmah.id)