Riyadh Akan Bebaskan Al Khudari dan Mendeportasinya ke Amman

Oleh:

|

Kategori:

Dr. Muhammad Al Khudari berada dalam tahanan Saudi. (Foto: Screengrab)

RIYADH (Arrahmah.id) – Sebuah sumber resmi di Hamas mengatakan kepada Arabi 21 bahwa pihak berwenang Saudi akan membebaskan perwakilan Hamas, Muhammad Al Khudari, yang ditangkap dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara, tetapi hukumannya kemudian dikurangi menjadi 6 tahun.

Dalam pernyataan eksklusif kepada Arabi 21, sumber tersebut mengatakan bahwa Al Khudari akan dideportasi ke Amman setelah pembebasannya, yang seharusnya Senin (17/10/2022), tetapi ditunda hingga Selasa (18/10) karena beberapa prosedur.

Al Khudari ditangkap bersama putranya, Hani, dan beberapa lainnya yang dituduh Riyadh terkait dengan Hamas. Berbagai hukuman penjara dijatuhkan terhadap mereka, dan beberapa dari mereka dibebaskan dan dideportasi dari Arab Saudi.

September lalu, sebuah sumber mengatakan kepada Arabi21 bahwa pihak berwenang Saudi telah mendeportasi Wijdan Al Shanti, istri mantan perwakilan Hamas, Muhammad Al Khudari, yang telah ditahan sejak 2019.

Sumber tersebut mengatakan bahwa Al Shanti tiba di ibu kota Yordania, Amman, dan sedang menunggu suaminya, yang seharusnya dideportasi ke Yordania dalam beberapa hari.

Lembaga hak asasi manusia Saudi “Prisoners of Conscience” menyatakan bahwa Al Shanti telah ditahan selama seminggu di Pusat Deportasi Shumaisi di Riyadh.

Sementara itu, sumber mengatakan kepada Arabi 21 bahwa pihak berwenang Saudi tidak mengizinkan Al Shanti mengambil barang miliknya.

Pihak berwenang Saudi telah menuduh perwakilan Hamas, Muhammad Al Khudari terkait dengan pembiayaan “teroris”.

Al Khudari bertanggung jawab untuk mengelola hubungan antara Hamas dan Arab Saudi selama dua dekade dan menempati posisi kepemimpinan tinggi di Hamas. Pihak berwenang Saudi menangkapnya, bersama putranya, Hani, pada 4 April 2019.

Amnesti Internasional telah meminta Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz, untuk membebaskan Al Khudari, yang menderita kondisi kesehatan yang semakin memburuk akibat kanker karena tidak menerima perawatan yang diperlukan di penjara. (zarahamala/arrahmah.id)