Salah seorang pemuda Libya yang menangkap Qaddafi, diculik dan disiksa hingga tewas

Oleh:

|

Kategori:

TRIPOLI (Arrahmah.com) – Salah seorang pemuda Libya yang ikut ambil bagian saat menemukan Qaddafi dan menangkapnya di sebuah selokan drainase hampir setahun lalu, dikabarkan telah meninggal dunia pada Selasa (25/9/2012).  Ia mengalami cedera serius setelah diculik, dipukuli dan disayat oleh para pendukung diktator Qaddafi.

Kematian Omran Shaaban yang telah dirawat di Perancis, mengangkat prospek kekerasan yang masih terus terjadi di Libya.  Kongres Nasional terpilih memerintahkan polisi dan militer untuk menggunakan kekuatan jika diperlukan untuk menangkap orang-orang yang menculik pria berusia 22 tahun tersebut bersama tiga sahabatnya pada bulan Juli lalu di dekat kota Bani Walid.

Shaaban dianugerahi “martir terhormat” oleh Kongres Nasional Libya, meskipun keluarganya mengatakan ia tidak pernah menerima hadiah yang dijanjikan pemerintah baru Libya sebesar 1 juta dinar Libya (800.000 USD) untuk menangkap Qaddafi pada 20 Oktober 2011 lalu di Sirte.  Diktator Libya tewas di hari yang sama saat ia ditemukan.

Pemerintah baru Libya mengatakan akan menghormati Shaaban dengan mengubur jenazahnya di pemakaman pahlawan.  Jenazahnya disambut di bandara di kampung halamannya di Misrata oleh lebih dari 10.000 orang.

Di ibukota Libya, Tripoli, ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar markas besar Kongres Nasional untuk menuntut agar pemerintah membalas kematian Shaaban.

Keluarga Shaaban mengatakan bahwa ia dan tiga sahabatnya tengah berada dalam perjalanan pulang ke Misrata dari liburan di bulan Juli ketika mereka diserang oleh orang-orang bersenjata di suatu daerah yang disebut el-Shimekh, dekat Bani Walid.

Shaaban dan teman-temannya, seperti banyak warga Libya lain, memiliki senjata dan melepaskan tembakan balasan.

Dua peluru menghantam Shaaban, dia mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah, ujar keluarganya.  Mereka ditangkap oleh milisi bersenjata dari Bani Walid, sebuah kota berpenduduk sekitar 100.000 orang yang tetap menjadi kubu loyalis Qaddafi dan terisolasi dari seluruh Libya.

Presiden Mohammed el-Megarif mengunjungi Bani Walin pada bulan ini dan mengamankan pelepasan Shaaban dan dua temannya.  Seorang lainnya masih ditahan.  (haninmazaya/arrahmah.com)