Setelah Satu Dekade Hubungan Membeku, Presiden Suriah Temui Delegasi Hamas

Oleh:

|

Kategori:

Presiden Suriah Bashar al Assad bertemu dengan delegasi Hamas di Damaskus, pada 19 Oktober 2022. [Foto : Middle East Online]

DAMASKUS (Arrahmah.id) — Presiden Suriah Bashar al Assad bertemu dengan delegasi dari Hamas pada Rabu (19/10/2022). Hamas mengatakan, pertemuan itu dapat membantu membuka halaman baru setelah menjauhi Damaskus selama satu dekade.

“Untuk membalik semua halaman masa lalu,” ujar kepala delegasi dan anggota politbiro Hamas Khalil Al-Hayya, dikutip dari Anadolu Agency (19/10/2022).

“Kami menganggapnya sebagai pertemuan bersejarah dan awal baru untuk aksi bersama Suriah-Palestina,” ujarnya.

Hayya menyatakan, delegasi itu setuju dengan pernyataan Assad yang menegaskan untuk bergerak melewati masa lalu. Dia mengatakan beberapa faktor telah mendorong pemulihan hubungan saat ini, termasuk pengembangan hubungan Israel dengan negara-negara Arab lainnya.

“Perjuangan Palestina saat ini membutuhkan seorang pendukung Arab,” kata Hayya.

Para pemimpin Hamas secara terbuka mendukung pemberontakan jalanan Sunni pada 2011 melawan kekuasaan Assad dan mengosongkan markas di Damaskus pada 2012.

Tindakan itu membuat marah sekutu Suriah, Iran. Normalisasi hubungan dengan Assad dapat membantu memulihkan inklusi Hamas dalam poros perlawanan terhadap Israel, yang mencakup Iran dan Hizbullah Lebanon.

Kelompok yang menguasai Jalur Gaza ini telah memulihkan hubungannya dengan Iran. Pejabat kelompok ini memuji Iran atas kontribusinya terhadap persenjataan roket jarak jauh Gaza yang telah digunakan dalam memerangi Israel.

Momen tersebut telah mereda ke dalam rekonsiliasi dengan Suriah yang berjalan lebih lambat. Perbaikan hubungan ini terhambat dengan kekhawatiran reaksi dari sebagian besar pemodal Muslim Sunni dan pendukung lainnya, mengingat bahwa sebagian besar korban tindakan keras Assad di Suriah adalah Sunni.

Analis politik Palestina Mustafa Sawwaf mengatakan, langkah rekonsiliasi Hamas dengan Suriah bertujuan untuk menciptakan landasan baru bagi faksi Islam.

“Saya pikir sebagian besar wilayah di mana Hamas hadir mulai menyempit, termasuk Turki, dan oleh karena itu, gerakan itu ingin mencari landasan lain, dari mana dia dapat terus beroperasi,” kata Sawwaf. (hanoum/arrahmah.id)