Wanita bersenjatakan pistol mainan memaksa bank di Beirut menyerahkan deposito miliknya

Oleh:

|

Kategori:

(Foto: REUTERS)

BEIRUT(Arrahmah.id) – Seorang wanita memasuki sebuah bank di Libanon pada Rabu (14/9/2022) sambil mengacungkan pistol dan menyiram bensin ke tubuhnya seraya menuntut agar dia diizinkan untuk menarik deposito. Belakangan diketahui bahwa yang dibawanya adalah pistol mainan.

Peristiwa ini mengikuti insiden serupa pada hari sebelumnya di Aley. Akses dana yang disimpan di bank-bank Libanon telah dibatasi untuk beberapa waktu karena negara itu berada di tengah krisis keuangan yang sudah berlangsung lama.

Kedua insiden tersebut disambut dengan simpati dan dukungan luas dari masyarakat, terutama dari para nasabah yang telah frustrasi karena tidak bisa mendapatkan uang mereka.

Sali Hafiz, yang mengenakan pakaian serba hitam, memasuki bank BLOM cabang Sodeco di Beirut, di seberang markas pasukan keamanan, ditemani oleh aktivis dari Depositors’ Outcry Association dan seorang pengacara.

Dia mengeluarkan pistol, berdiri di atas meja dan menyiram dirinya dengan bensin dari botol. Dia mengancam akan membakar dirinya sendiri dan bank jika dia tidak menerima deposito miliknya sebesar $20.000. Dia mengatakan saudara perempuannya menderita kanker otak dan mereka membutuhkan uang untuk membayar tagihan medis.

Nancy, saudara perempuan Hafiz yang berusia 23 tahun, terlihat berada di dalam mobil yang diparkir di luar bank bersama suaminya yang sedang mengemudi. Dia tampaknya telah kehilangan rambutnya dan tubuhnya tampak lemah. Dia tidak bisa berjalan dan mengalami kesulitan berbicara.

Ketika Hafiz menuangkan bensin di dalam bank, sontak memicu kepanikan di antara karyawan dan nasabah. Orang-orang berteriak minta tolong, mereka menghancurkan dinding kaca dan melarikan diri, lansir AP.

Rekaman video yang direkam oleh para aktivis yang menemani Hafiz menunjukkan mereka menuntut dia menerima deposito miliknya dan menyuruh staf untuk membuka kotak uang. Salah satu kotak berisi $6.300 tetapi Hafiz menolak menerima jumlah ini dan meminta semua uang di rekeningnya. Akhirnya dia diberi $ 13.000 dan meninggalkan bank tanpa dihentikan oleh pihak keamanan.

Sebuah tim kecil petugas keamanan internal tiba kemudian dan menangkap beberapa aktivis di dekat bank tempat mereka memprotes bank dan gubernur bank sentral, Riad Salameh.

Dalam sebuah wawancara TV, Hafiz mengatakan dia bukan pencuri dan tidak merugikan siapa pun. Dia mengatakan dia telah dipaksa untuk mengambil tindakan karena saudara perempuannya sedang sekarat.

“Dia membutuhkan suntikan mahal setiap hari untuk perawatannya,” katanya. “Saya pergi ke bank dua hari sebelumnya dan meminta manajer bank untuk memberi saya deposit untuk menutupi biaya perawatan tetapi dia menawari saya hanya $200 sebulan, itu tidak cukup untuk satu suntikan per hari.

“Di rumah, kami menjual semua barang berharga untuk menutupi biaya pengobatan adik  saya dan saya hampir menjual salah satu ginjal untuk mendapatkan uang. Deposito di bank adalah hasil dari kerja keras kami selama ini yang kami kumpulkan.”

Dia mengatakan bahwa uang yang dia ambil dari bank telah direkam oleh kamera CCTV sehingga “kami tidak akan dituduh mencuri.”

Hafiz menambahkan: “Saya meyakinkan karyawan bank bahwa saya tidak akan menyakiti siapa pun, tetapi saya ingin menyelamatkan manusia. Senjata yang saya pegang adalah mainan keponakan saya.”

Keluarga Hafiz sendiri tinggal tidak jauh dari tempat kejadian. Ibunya mengatakan kepada Arab News: “Putri saya, Nancy, hampir bunuh diri karena dia menyerah pada kehidupan. Sali tidak tahan melihat adiknya menderita. Kami tidak mengambil uang yang bukan milik kami. Mereka menolak memberi kami uang kami, jadi Sali melakukan apa yang dia lakukan.”

Nancy menganggap kakaknya sebagai “pahlawan.” Orang-orang Libanon mendukung Hafiz dan mengatakan “Dia sangat hebat dan kami mendukungnya.”

Dalam insiden terpisah pada hari sebelumnya, seorang pemuda bernama Rami Sharaf Al-Din memasuki cabang Bankmed di kota Aley. Dia dilaporkan mengancam karyawan, pihak keamanan turun tangan dan menangkapnya.

Insiden itu terjadi sebulan setelah seorang nasabah bernama Bassam Al-Sheikh Hussein menyandera staf di sebuah bank di Beirut untuk mendapatkan tabungannya sehingga dia bisa membayar tagihan medis ayahnya. Mengingat peristiwa tersebut, karyawan bank dikatakan sedang mempertimbangkan untuk melakukan pemogokan.

BLOM Bank mengatakan bahwa insiden di cabangnya pada Rabu kemarin adalah “operasi yang direncanakan dengan maksud untuk merugikan.”

George Al-Hajj, presiden Federation of Syndicates of Banks Employees di Libanon, mengatakan kepada Arab News: “Sejauh ini, insiden terjadi tanpa pertumpahan darah. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana dilema ini akan diselesaikan?”

“Pemogokan bukan solusi, justru bisa menyebabkan kerugian negara. Nasabah memiliki hak untuk menerima simpanan mereka. Karyawan bank juga merupakan nasabah. Tiga tahun telah berlalu dan dilema ini belum terpecahkan.”

“Mereka membahas undang-undang pengendalian modal tetapi tidak menyetujuinya. Mereka mengusulkan rencana untuk merestrukturisasi bank. Namun, mereka tidak melakukan apa-apa. Setiap hari, krisis semakin memburuk, kerugian meningkat.”

Dia menambahkan bahwa federasi ingin mempertahankan posisi para karyawan atau mereka akan kehilangan pekerjaan. Pembobolan yang terjadi mempengaruhi semua pihak. Sektor perbankan masih menjadi katup pengaman ekonomi Libanon.

Hassan Moghnieh, kepala Depositors’ Outcry Association di Libanon, mengatakan kepada Arab News: “Kami tidak pernah mendorong pembobolan bank, akan tetapi karena krisis yang semakin intens, dan ini berkaitan dengan uang, akhirnya mendorong banyak nasabah untuk mengambil langkah ini. Ini bukan pencurian ataupun penyerangan.”  (zarahamala/arrahmah.id)