TEL AVIV (Arrahmah.id) - Pejabat pertahanan dan intelijen 'Israel' dilaporkan terkejut dengan kecepatan pemulihan kemampuan militer Iran, khususnya terkait produksi rudal balistik, menyusul eskalasi konflik besar yang terjadi.
Berdasarkan laporan eksklusif dari surat kabar The Jerusalem Post, pemulihan ini mengindikasikan ketahanan industri pertahanan Teheran yang tidak diantisipasi sebelumnya oleh perencana militer 'Israel'.
Sebelumnya, kampanye militer besar-besaran yang dilancarkan AS dan 'Israel' menargetkan ribuan instalasi militer dan industri guna melumpuhkan infrastruktur strategis Iran. Namun, alih-alih mengalami kemunduran bertahun-tahun seperti yang diperhitungkan, laporan intelijen menunjukkan bahwa Teheran mampu menemukan cara kreatif untuk memfokuskan sumber daya guna memulihkan sektor-sektor strategis, meskipun sebagian wilayah lainnya masih mengalami kerusakan.
Perhitungan sebelumnya memperkirakan jumlah rudal jarak jauh Iran yang tersisa pascakonflik berada di kisaran 500 hingga 1.000 unit. Asumsi tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa Iran memerlukan waktu lama untuk mengisi ulang stok.
Kendati demikian, jika tingkat produksi kembali mencapai 100 hingga 300 rudal per bulan, Iran dinilai mampu memulihkan volume persenjataannya ke level pertengahan 2025 dalam kurun waktu satu tahun ke depan, serta berpotensi menghadirkan ancaman yang lebih besar pada 2028.
Perubahan penilaian ini diperkirakan akan memengaruhi kalkulasi strategis 'Israel' terkait perlu atau tidaknya melancarkan serangan lanjutan, terlepas dari dinamika negosiasi program nuklir maupun isu jalur pelayaran Selat Hormuz. Di sisi lain, militer 'Israel' menegaskan bahwa pihaknya telah merusak berbagai komponen penting kapabilitas militer Iran selama perang, namun pemantauan terhadap upaya rekonstruksi terus diperbarui secara berkala sesuai dengan perkembangan di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)
