ISTANBUL (Arrahmah.id) -- Sheikh Muhammad al-Hassan Ould al-Dedew, Wakil Ketua Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), menyerukan pencabutan pengepungan milisi Syiah Houtsi atas kota Taiz di Yaman barat daya dan meminta umat Islam membantu warganya. Seruan itu disampaikan dalam pidato video pada konferensi IUMS di Istanbul, Turki.
Dilansir Al-Mashhad Al-Yamani (29/10/2026), Dedew menyebut Taiz sebagai “simbol kemuliaan” di Yaman dan Semenanjung Arab, yang sudah bertahun-tahun dikepung sebelum pengepungan dan serangan kembali menguat dari berbagai arah. Ia menyatakan solidaritas bagi penduduk kota serta penyaluran bantuan, bahan bakar, dan air bersih adalah kewajiban syariat dan kemanusiaan yang mendesak.
Menurut Yemen Monitor, ia juga menyebut kediaman dunia di hadapan penderitaan warga sipil dan anak-anak sebagai bentuk keterlibatan dalam kejahatan.
Seruan itu muncul saat kondisi Taiz memburuk. AP melaporkan pada 20 Oktober bahwa Houtsi yang didukung Iran sudah mengepung Taiz hampir seluruhnya, memutus sebagian besar jalur pasokan, dan menempatkan warga sipil dalam “risiko serius” menurut PBB.
Kepala HAM PBB Volker Türk menuntut bantuan segera diizinkan masuk dan warga yang ingin pergi dibebaskan. Ia juga meminta Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi menghindari senjata peledak di area berpenduduk.
Angka korban bervariasi menurut lembaga. Jaringan Yaman untuk Hak dan Kebebasan mencatat 212 warga sipil tewas, termasuk 38 anak, dan 319 luka-luka antara 1 September dan 22 Oktober.
Pusat HAM Taiz mengatakan tembakan artileri dan sniper Houtsi menewaskan 44 warga sipil dan melukai 110 lainnya pada 1–26 Oktober, dalam pernyataan saat sejumlah warga berunjuk rasa menuntut pencabutan blokade. Pelaporan itu bersumber dari kelompok yang menuduh Houtsi, dan Houtsi sebagai pihak yang dituduh belum memberikan tanggapan.
Pertempuran di sekitar kota juga meningkat. Pemimpin Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, mengatakan operasi “Fajar Yaman” bertujuan merebut kembali seluruh wilayah yang tersisa dari tangan Houthi. (hanoum/arrahmah.id)
