Souq Waqif, pasar ala Qatari di tengah peradaban modern

0

Souq Waqif, yang terletak di jantung kota Doha, mampu membuat pengunjung merasakan atmosfer pasar tradisional Arab masa lalu. Kompleks yang semarak ini tak diragukan lagi merupakan salah satu tempat paling menyenangkan untuk dijelajahi di Qatar.

Hamalis (kuli angkut) berkeliaran di gang-gang sempit dengan gerobak dorongnya, ada yang membawa belanjaan pembeli, ada pula yang mencari pelanggan. Aroma eksotis kunyit, cengkeh dan kapulaga menguar di udara, tak ketinggalan pemandangan emas berkilau dan logam mulia lainnya yang berjejer rapi di etalase toko cukup memanjakan mata untuk sekedar window shopping.

Didirikan lebih dari seabad lalu, Souq Waqif pernah menjadi pusat perdagangan mingguan di tepi Wadi Msheirib, untuk memfasilitasi jual beli antara masyarakat Badui nomaden dan penduduk setempat.

Waqif dalam bahasa Arab berarti “berdiri”, disebut demikian karena pedagang dan penduduk melakukan transaksi sambil berdiri dikarenakan luapan air di kedua sisi Wadi yang mengalir ke pasar.

“Ketika pasar ini dibangun kembali, belum ada satu toko pun yang berdiri, sampai kemudian pengembang mulai menyulap tepi sungai menjadi daratan,” kata Shams al-Qassabi, wanita Qatar pertama yang membuka bisnis di Souq Waqif pada 2004, kepada Al Jazeera.

Pasar mingguan ini segera menjadi lokasi penting tidak hanya untuk perdagangan tetapi juga informasi dan berita.

“Pasar ini bukan sekedar tempat untuk berdagang, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Di sinilah masyarakat akan mengetahui perkembangan terkini, baik lokal maupun internasional,” tambahnya.

Dibesarkan di wilayah Al Jesra, berdekatan dengan Souq Waqif, al-Qassabi menyaksikan bagaimana bisnis ayah, paman, dan anggota keluarga besarnya berakar di pasar tradisional ini, ikatan emosional telah mengikat mereka dengan tempat tersebut.

Bottom of Form

“Saya menganggap Souq Waqif sebagai bagian penting dari kehidupan saya dan nenek moyang saya.”

Dia telah menyaksikan tidak hanya transformasi fisik souq tetapi juga perubahan sosial yang terjadi.

Mengikuti jejak ayahnya, dan dengan tujuan membantu suaminya yang telah memasuki masa pensiun, dia mendobrak stereotip gender dengan menjadi pedagang perempuan pertama di pasar yang didominasi laki-laki, membuka toko rempah-rempah dan restoran bernama Shay Al Shoomo.

“Berkunjung ke pasar dianggap hal tabu untuk dilakukan oleh perempuan pada saat itu. Jadi, para pedagang kain akan membawa keranjang yang disebut boksha, menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu, menawarkan pada para wanita untuk membeli barang-barang mereka.”

Seiring dengan ekspansi industri minyak pada 1950-an, ekonomi Qatar berubah menjadi lebih maju dan Souq Waqif berkembang pesat. Akan tetapi, ledakan kemakmuran serta pembangunan berbagai pusat perbelanjaan modern telah menyebabkan popularitas Souq Waqif mengalami penurunan.

Pada 2003, sebagian besar bangunan pasar ini hancur oleh kebakaran.

Saat Doha semakin berkembang ke arah modern, pemerintah menyadari akan bencana hilangnya tradisi, sehingga emir Qatar saat itu menugaskan seniman Qatar terkenal Mohamed Ali Abdullah untuk membangun pasar baru dengan tampilan lama.

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

Bangunan modern diganti dengan atap yang dibangun secara tradisional dari kayu dan bambu dengan lapisan pengikat tanah liat dan jerami, dan strategi untuk melindungi bangunan dari panas ekstrim diperkenalkan kembali.

Berkembang pesat selama bertahun-tahun, melangkah ke lorong Souq Waqif yang berliku rasanya seakan melangkah mundur ke masa lalu.

“Selain pelanggan lokal, saya menerima banyak turis setiap hari. Mayoritas mereka datang untuk mencicipi rempah-rempah souq yang khas, dan setelah itu biasanya mereka akan membeli beberapa pack rempah sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat,” kata Muhammad Abul Kalam kepada Al Jazeera di toko Muhammad Sadiq Ali Akbar miliknya yang telah menjual rempah dan herba selama lebih dari 30 tahun.

Piala Dunia Qatar 2022 semakin dekat, semua toko di pasar, terutama yang menjual souvenir bersiap menyambut para wisatawan.

KP Musammil, yang bekerja di Khor Aladid Ancient Art adalah salah satunya, ia sangat berharap adanya peningkatan pendapatan dengan masuknya para turis.

“Setiap hari, ada cukup banyak turis di sini. Namun, selama Piala Dunia, saya berharap jumlahnya akan lebih banyak dari biasanya.”

Nasirul Rain, yang bekerja di Galeri Esfahan, sudah lama tidak berkunjung ke negara asalnya, Nepal, ia menunda kepulangannya hingga Piala Dunia usai.

“Kami ingin para penggemar Piala Dunia memiliki kenangan indah tentang Qatar, membuat mereka terkesan dengan sesuatu yang unik yang tidak dapat mereka temukan di negara mereka sendiri,” katanya kepada Al Jazeera.

“Kami memiliki banyak karpet Persia buatan tangan, tapi tenun Sadu ini yang paling istimewa, ia kadung dianggap sebagai contoh sempurna dari produk budaya tradisional kawasan Teluk. Biasanya para turis membelinya sebagai kenang-kenangan,” tambah Rain.

Pilihan lain ada ukiran kayu, pernak-pernik dan kotak obat yang terbuat kayu dan perak, berbagai pilihan kopi dan kurma, atau bahkan barang-barang tradisional yang besar dan mahal seperti karpet dan permadani. (Foto: Al Jazeera)

Selain itu, pasar ini juga menawarkan beragam restoran yang menyajikan semua jenis masakan dari beberapa negara, mulai dari Irak, Mesir, Libanon, Suriah, India, Azerbaijan, hingga Yaman.

Untuk hiburan mengasyikkan, ada Falcon Souq, sebuah wilayah yang khusus menjual elang di pasar ini. Lebih dari selusin pencinta elang membuka toko di sini, mereka menyediakan berbagai macam produk elang populer dan menyelenggarakan tur elang sehingga para peserta bisa mengenal elang lebih dekat, bukan hanya sebagai salah satu jenis burung tapi sebagai tradisi olahraga dan budaya.

“Harga seekor elang mulai dari 2.500 riyal Qatar ($685) dan bisa mencapai beberapa ratus ribu riyal, tergantung jenisnya. Mayoritas pelanggan kami adalah orang Qatar, Saudi, dan Kuwait,” kata Mohammad Islam, perwakilan Al Ghizlaniyah Falcons & Requires yang telah berdagang selama lebih dari 30 tahun kepada Al Jazeera.

Di sebelah Falcon Souq, berdiri Souq Waqif Falcon Hospital, klinik khusus untuk elang dengan fasilitas yang cukup besar dan lengkap untuk merawat hingga 130 burung selama peak season.

Kehadiran Souq Waqif yang memadukan seni tradisional Islam dan Arab modern, mampu memberikan layanan untuk semua jenis pengunjung sebagai penghubung budaya dan sejarah antara masa lalu dan masa kini.  (ZarahAmala/arrahmah.id)

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...