Karakter Wanita Salehah

Oleh:

|

Kategori:

Ilustrasis wanita salehah. (Foto: Internet)

(Arrahmah.id) – Mengambil inspirasi dari surah An Nisa ayat 34. Ayat ini menjelaskan bahwasanya kaum lelaki adalah qawwam, orang yang bertanggung jawab atas pendidikan istrinya.

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).”

Terdapat dua kelebihan laki-laki:
1. Bersifat alami
2. Sesuatu yang harus diusahakan

Seorang laki-laki harus memaksimalkan bakat alaminya sebagai laki-laki dan mengusahakan untuk memantaskan diri sebagai qawwam.

Wanita-wanita salehah adalah yang qanitan (taat), hafidzan (memelihara diri) ketika suaminya tidak ada.

Kata arrijal adalah jenis, tetapi Allah tidak menyebutkan sifatnya secara spesifik, karena tidak perlu lagi laki-laki disebut lelaki saleh, karena lelaki salehlah yang mampu menjadi qawwamnya para wanita, terutama istrinya.

Allah tidak menyebutkan jenis wanita, tetapi langsung sifatnya. Laki-laki yang telah menjadi qawwam, akan mampu mendidik istri-istri yang salehah.

Laki-laki atau suami memiliki kewajiban, setelah kewajiban dilakukan, maka ia mendapat haknya. Istri juga punya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, setelah itu baru ia mendapatkan haknya. Setelah menjaga dirinya, ia mendapatkan haknya yaitu nafkah dari suami.

Kata salehah sangat sering kita dengar, pernah tidak terpikir apa makna saleh/salehah itu?

Saleh itu kebalikan atau lawan dari fasad (kerusakan), selain itu saleh juga berarti bermanfaat, banyak keberkahannya.

Sehingga wanita salehah itu adalah wanita yang jauh dari fasad.

Bagaimana menjadi seorang istri yang salehah?

Posisi wanita sebagai hamba Allah. Dalam Qur’an surah At Tahrim ayat 5: muslimat, mukminat, qonitat, taibat, a’bidat, saihat, tsaiyybat, baik itu janda ataupun gadis.

Di ayat ini ada ancaman dari Allah, bisa jadi Allah akan mengganti istri-istri Rasul dengan istri-istri yang lebih baik.

Muslimat: kepatuhan/berserah diri
Mukminat: keyakinan mendalam

Secara urutan, Allah menyebutkan muslimat lebih dulu dibandingkan mukminat. Karena kata muslimah asal katanya adalah menyerah, berserah diri, menyerah secara dzahir meskipun hatinya menolak. Jadi berserah diri itu sebagai gerbang untuk memperdalam lagi apa yang diperintahkan oleh Allah.

Seorang wanita yang salehah maka dia harus baik dari dzahir ataupun batinnya. Adapun iman kaitannya sangat erat terhadap sesuatu yang ada di dalam diri.

Qanitat: berasal dari kata qanata, maknanya tunduk, patuh dan tenang. Wanita yang qanitat senantiasa berusaha menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangannya dengan tunduk, patuh dan tenang. Dan jika telah terbentuk, maka ia juga akan tunduk terhadap suaminya selama tidak berseberangan dengan syariat.

Taibat: kembali dari kemaksiatan yang telah ia lakukan.

Semua kriteria ini Allah sebutkan dengan bentuk isim, bukan fi’il. Artinya memiliki makna sesuatu itu sudah melekat pada dirinya.

Wanita yang disebut sebagai taibat adalah wanita yang sangat cepat menyadari kesalahannya serta bersegera memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang ia lakukan.

Abidat: wanita-wanita yang beribadah. Artinya wanita salehah itu yang banyak ibadahnya, bukan yang wajib saja. Karena ibadah itu ekspresi kecintaan.

Wanita-wanita salehah boleh mencintai siapapun baik suami, anak-anak, keluarga, tetapi cinta untuk taraf ibadah hanya boleh untuk Allah.

Para suami dalam mendidik istri, ajari mereka cinta jangan sampai rasa cinta itu mengalahkan cinta kepada Allah.

Saihat: dalam At tahrim diartikan wanita yang berpuasa. Tapi secara bahasa siyaha artinya pelancong (berjalan-jalan). Karena orang yang berpuasa itu adalah orang yang berjalan-jalan tanpa bekal sampai ia berbuka.

Ada ulama yang mengartikan saihat ini sebagai muhajirat (wanita-wanita yang hijrah).

Banyak ulama menjauhi makna berjalan-jalan, alasannya karena wanita tidak boleh safar tanpa mahramnya.

Ibrah (hikmah) siyaha:
1. Bisa melatih nalar dan bisa mendapatkan pelajaran dari informasi yang didapatkan dari tempat yang sangat jauh. Bisa dilihat dalam surah Al Hajj ayat 46. Orang yang banyak melakukan perjalanan maka hatinya, telinganya terbuka, cakrawala wawasannya akan terbuka lebar. Travelling harusnya lebih banyak membuka hati dan telinga.
2. Travelling memberikan pelajaran akan apa yang terjadi pada ummat terdahulu. Terdapat dalam surah Ghafir 21. Banyak kaum yang lebih kuat dibanding kita saat ini, tapi Allah memberi pelajaran terhadap mereka.
3. Agar tahu budaya, teknologi ummat lain.
4. Mendapatkan keuntungan dari perdagangan.

Istri yang salehah itu kemanapun suaminya pergi harus mengikuti.

Karakter wanita salehah yang layak dijadikan istri

  1. Menjaga kehormatan diri (baik pandangan atau kemaluan) dan menutup aurat. An Nur 31.

Iman itu 70 lebih cabangnya dan rasa malu itu adalah salah satu cabang iman.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam disebutkan dalam beberapa riwayat beliau itu adalah seorang pemalu, bahkan lebih malu dari gadis pingitan.

Seorang hamba harus punya rasa malu kepada Allah. Sampai dikatakan: “jika kalian tidak punya rasa malu, maka lakukan apa saja sesuka kalian.”

Salah satu sifat utama Allah arrahman dan arrahim, Allah malu jika hambanya meminta, tapi pulang tanpa membawa apa-apa. Dari sifat itu Allah ingin menimbulkan rasa malu di dalam diri hambanya. Agar hambanya malu jika bermaksiat terhadap Allah yang Maha penyayang dan pengasih. Kita ini sering melakukan maksiat karena kurangnya rasa malu.

Yang menjadikan wanita indah itu adalah rasa malunya, sebagaimana di jelaskan dalam Al Qashas ayat 25.

Malu itu juga ada tempatnya, jangan karena alasan malu kemudian tidak melakukan banyak hal.

  1. Menjaga kebersihan diri.

“Dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم  ingin menikahi seorang wanita. Maka beliau pun mengutus seorang wanita untuk melihatnya. Beliau bersabda, ‘Ciumlah aroma mulutnya dan lihatlah kedua Urqub (urat besar di atas tumit)nya.”

Ajari anak-anak perempuan untuk merawat dirinya, agar kelak bisa menyenangkan suaminya.

Karakter wanita salehah sebagai istri

  1. Taat pada suami

Rasulullah bersabda: “Apabila seorang wanita shalat 5 waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, dikatakan kepadanya masuklah engkau ke dalam surga dari semua pintu surga yang engkau kehendaki.”

Wanita mau masuk surga mudah, lebih mudah persyaratannya dari laki-laki.

Rasulullah pernah ditanya: wanita seperti apa yang disebut wanita terbaik? Beliau menjawab yakni para wanita yang menyenangkan ketika suaminya melihat dirinya (menyenangkan itu lebih kepada ekspresi wajah, senyumnya). Menaatinya apabila diperintah oleh suami (perintah apa saja asal tidak bertentangan dengan aturan Allah). Dan tidak menyelisihi suaminya pada dirinya dan hartanya dengan apa-apa yang tidak disukai suaminya.

Kemudian menjaga rahasia. Menjaga kehormatan, menjaga harta, setia, dan pandai berterima kasih.

Salah satu penyakit wanita yang menjadi perhatian dalam syariat ini adalah tidak pandai bersyukur atau suami atas apa-apa yang telah diberikan oleh suaminya.

Rasulullah bersabda: “Allah tidak akan sudi untuk melihat seorang wanita yang tidak pandai berterima kasih kepada suaminya padahal ia tidak bisa hidup tanpa suaminya.”

Imam Al Qasimi mengatakan: salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap para wanita adalah, meskipun Allah menjadikan para lelaki sebagai pemimpin, ketika para lelaki mendzalimi wanita, Allah memberi ancaman bahwasanya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar.

“Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (An Nisa 34).

(haninmazaya/arrahmah.id)

*Disarikan dari kajian yang diisi oleh: Ustadz Baihaqi