Memuat...

Campur tangan Kemenag dalam pendidikan biang diskriminasi agama (?)

Rasul Arasy
Kamis, 11 Agustus 2011 / 12 Ramadan 1432 14:52
Campur tangan Kemenag dalam pendidikan biang diskriminasi agama (?)
Campur tangan Kemenag dalam pendidikan biang diskriminasi agama (?)

JAKARTA (Arrahmah.com) – Campur tangan Kementerian Agama dalam dunia pendidikan adalah sumber diskriminasi agama yang menimbulkan kebencian, karena itu Departemen Agama seharusnya tidak menangani pendidikan di Indonesia, sehingga pendidikan menjadi satu atap di Departemen Pendidikan.

Hal tersebut diungkapkan Musdah Mulia dalam Seminar bertema "Tuhan Tolong Pulihkan Bangsa Kami" yang diadakan Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) bekerjasama dengan Perhimpunan Pelayan Penjara PGI.

Tokoh pluralis dan direktur eksekutif Indonesian Conference on Religion and Pease (ICRP) tersebut berpendapat bahwa diskriminasi agama merupakan dampak dari pendidikan yang diatur oleh dua departemen, yakni Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag). Padahal,  sebenarnya pendidikan di Indonesia cukup satu atap, yakni ditangani oleh Kemendiknas, bukan kementerian agama.

"Diskriminasi agama terjadi karena problem dalam pendidikan kita di bawah dua atap, agama dan negara sehingga pendidikan kita terbelah. Dengan sistem yang terbelah ini membuat anak-anak juga terbelah," kata Musdah dalam seminar yang  diadakan di Jakarta, Jum'at (5/8/2011) lalu yang dihadiri sekitar 200 orang.

Musdah mengklaim berdasarkan penelitian ICRP, pendidikan dua atap berakibat timbulnya kebencian. Ironisnya, hal ini dibiarkan berlangsung oleh pemerintah.

"Kita jangan mengharapkan dunia pendidikan kita untuk membangun toleransi. Kita harus mulai dari keluarga kita untuk membangun toleran," ujar Musdah.

Musdah juga mengajak semua untuk tidak diam tapi harus berani berteriak jika negara melakukan diskriminasi.

"Kita hanya memperlakukan Tuhan sebagai mesin cuci. Setiap hari Jumat dan hari Minggu orang padati gereja dan masjid, tapi tak sesuai dengan imannya. Bahkan mengaku sebagai orang beragama tapi pelakunya lebih dahsyat dari setan. Semakin kita beragama semakin tidak manusiawi," tegas profesor wanita yang dijuluki ‘Ratu Sepilis' itu.

Sayangnya ia tidak menjelaskan lebih lanjut perlakuan seperti apa yang ia sebut sebagai perlakuan setan. Apakah yang diharapkan adalah ketika seseorang bergelimang dengan kesalahan dan dosa ia tak berhak untuk bertobat?

Bahkan Allah saja masih membuka pintu pengampunan dan mensucikan segala dosa ketika kita bertobat dengan sungguh-sungguh, kenapa kita yang hanya manusia nista sinis pada setiap hamba yang hendak bertobat. Sungguh angkuh konsep "tuhan mesin cuci " yang diusung professor Musdah. Wallohua'lam.  (voaI/arrahmah.com)