Saudi Game of Thrones; Kisah MBS Merebut Tahta Putra Mahkota Arab Saudi

Oleh:

|

Kategori:

Raja Arab Saudi (kanan), Mohammed bin Nayef (tengah), dan Mohammed bin Salman (kiri). [Foto : Bandar Algaloud/Saudi Royal Council/Anadolu Agency/Getty Images]

RIYADH (Arrahmah.id) — Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), disebut menodongkan senjata kepada mantan Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Nayef, saat memaksa sepupunya itu menyerahkan gelar pewaris kerajaan kepadanya pada 2017 lalu.

Hal itu terungkap berdasarkan laporan sejumlah sumber kerajaan dan pesan teks Pangeran Mohammed bin Nayef yang didapat jurnalis The Guardian Anuj Cophra dalam laporan mendalamnya berjudul “The Godfather, Saudi-Style: Inside the Palace Coup that Brought MBS to Power” pada Selasa (29/11/2022).

Dalam laporannya itu, sejumlah orang dalam kerajaan mengatakan bahwa Pangeran Mohammed bin Nayef turun takhta sebagai Putra Mahkota Saudi setelah dipaksa dan diancam MBS melalui kudeta kejam.

Kala itu, yakni pada 20 Juni 2017, sehari sebelum Pangeran Mohammed bin Nayef dicopot dari gelar putra mahkota oleh Raja Salman, dia dipanggil ke istana Raja di Mekah.

Menurut sumber terdekatnya, Pangeran Mohammed bin Nayef lalu diantar ke sebuah ruangan oleh Turki Al-Sheikh, orang kepercayaan MBS yang dikenal kasar dan mengintimidasi.

Sheikh diduga mengurung bin Nayef di kamar selama berjam-jam. Dia diduga mendesak keponakan Raja Salman itu untuk menandatangani surat pengunduran diri dan bersumpah setia kepada MBS.

Awalnya, bin Nayef menolak. Namun dia diancam bahwa keluarga perempuannya akan diperkosa jika tidak segera melepas gelar.

Dia juga diancam bakal berada di rumah sakit lantaran obat hipertensi dan diabetesnya disita. Bin Nayef yang ketakutan bahkan tak mau minum karena takut diracun.

Meski begitu, bin Nayef diperbolehkan bicara dengan dua pangeran di Dewan Kesetiaan, sebuah badan yang mengesahkan garis sukesi. Dia lantas terkejut saat mengetahui bahwa mereka sudah mengajukan gelar putra mahkota ke MBS.

Pangeran Mohammed bin Nayef akhirnya menyerah dan menandatangani surat pengunduran diri sebagai Putra Mahkota.

Tak lama setelah itu, dia diminta masuk ke kamar sebelah, tempat MBS menunggu bersama kamera televisi dan seorang pengawal yang membawa senjata.

Dalam rekaman yang dirilis oleh penyiar Saudi menunjukkan MBS berjalan mendekati sepupunya itu dan secara dramatis membungkuk untuk mencium tangan dan lutut bin Nayef. Dalam sejumlah foto yang beredar di media, MBS dan Pangeran Mohammed bin Nayef memang terlihat mesra.

Namun, melalui kesaksian sejumlah sumber dan pesan teks Pangeran Mohammed bin Nayef kepada penasihatnya, sang pangeran mengaku ditodong senjata saat dipaksa melafalkan janji setia kepada MBS saat menyerahkan takhta Putra Mahkota.

“Ketika saya berjanji setia, ada senjata di punggung saya,” tulis Nayef dalam sebuah teks kepada penasihatnya seperti dikutip The Guardian.

Pada 21 Juni 2017, Press Agency mengkonfirmasi 31 dari 34 anggota Dewan Kesetiaan Arab Saudi telah memilih MBS sebagai putra mahkota menggantikan Nayef. Perombakan kabinet itu pun diendus sebagai upaya kudeta.

Namun, Arab Saudi mengklaim bin Nayef digulingkan karena kecanduan morfin dan kokain. Dia pun ditahan oleh Kerajaan Saudi.

Pada 2018 dan 2019, bin Nayef akhirnya diberi sedikit kelonggaran. Dia diizinkan pergi berburu ke pedesaan dan menghadiri pernikahan kerajaan serta pemakaman.

Namun pada Maret 2020, bin Nayef kembali harus menelan pil pahit. Para pejabat menggerebek pengasingan dirinya di gurun dekat Riyadh hingga dia kembali ditahan bersama beberapa stafnya.

Dikutip The New York Times, di masa awal penahanannya, Pangeran Mohammed bin Nayef ditahan di sel isolasi, dilarang tidur hingga digantung terbalik di pergelangan kakinya, menurut dua orang yang diberi pengarahan tentang situasinya yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas masalah tersebut.

Pangeran Mohammed bin Nayef disebut mengalami kerusakan permanen pada pergelangan kakinya akibat perlakuan yang ia terima selama di tahanan dan tidak bisa berjalan tanpa tongkat.

Pada Agustus 2020, kuasa hukum Pangeran Mohammed bin Nayef melayangkan kekhawatiran terkait kondisi kesehatan kliennya. Ia menuduh otoritas Saudi tidak mengizinkan dokter atau keluarga mengunjunginya sejak menjadi tahanan.

Sementara itu, di musim gugur 2021, Pangeran Mohammed bin Nayef dilaporkan dipindahkan ke sebuah vila di dalam kompleks yang mengelilingi Istana Raja Al-Yamamah di Riyadh.

Pangeran Mohammed bin Nayef dikurung sendiri tanpa televisi atau perangkat elektronik lainnya dan hanya menerima kunjungan terbatas dari keluarganya, kata sejumlah sumber.

Sampai saat ini, pemerintah Saudi juga belum mengajukan tuntutan resmi terhadap Mohammed bin Nayef atau menjelaskan mengapa dia ditahan.

Sebagian besar ahli Saudi berasumsi bahwa penahanan itu karena MBS khawatir bahwa Mohammed bin Nayef dapat menghalangi upayanya untuk menjadi Raja Saudi berikutnya. (hanoum/arrahmah.id)