AS dan Saudi Tekan “Israel” Untuk Pembicaraan Damai Palestina dengan Imbalan Normalisasi Riyadh

Oleh:

|

Kategori:

“Israel” telah didesak untuk memulai kembali dialog damai dengan Palestina. [MAHMUD HAMS/AFP via Getty Images]

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Washington dan Riyadh ingin “Israel” memulai kembali pembicaraan damai dengan Otoritas Palestina dengan imbalan AS menengahi kesepakatan normalisasi antara “Israel” dan Arab Saudi , menurut laporan dari Channel 12 “Israel”.

Laporan yang ditayangkan Selasa malam itu (23/5/2023) mengklaim bahwa baik AS maupun Arab Saudi berusaha menekan “Israel” untuk memulai kembali pembicaraan damai dengan Otoritas Palestina, sementara Washington juga menuntut agar “Israel” menghentikan reformasi yudisialnya.

Reformasi yudisial yang diusulkan “Israel”, yang akan memberi parlemen lebih banyak kendali atas Mahkamah Agung, telah dihentikan sementara setelah penentang mengorganisir beberapa protes terbesar yang pernah terjadi di “Israel”.

Pekan lalu, Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mengatakan kepada Liga Arab bahwa “masalah Palestina adalah dan tetap menjadi masalah utama bagi negara-negara Arab, dan itu menjadi prioritas utama kerajaan”.

Saudi juga telah membuat lebih banyak tuntutan sebagai imbalan normalisasi dengan “Israel”, menurut laporan itu. Riyadh ingin pemerintahan Biden mencairkan kesepakatan senjata era Trump, perjanjian pertahanan dengan AS yang serupa dengan NATO, serta persetujuan program nuklir sipilnya.

“Israel” setuju untuk menormalisasi hubungan dengan UEA, Bahrain, Maroko pada 2020 dan dengan Sudan pada 2021 sebagai bagian dari ‘Abraham Accords’ yang ditengahi AS. Kesepakatan serupa dengan Arab Saudi tampaknya semakin mendekati penyelesaian dalam beberapa bulan terakhir, karena muncul laporan bahwa Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman berbicara dua kali melalui telepon dalam beberapa pekan terakhir.

Harapan bahwa pakta normalisasi antara negara-negara Arab dan “Israel” akan memberikan kelonggaran bagi warga Palestina belum terwujud sejauh ini. Pada 2020, duta besar UEA untuk AS mengatakan kesepakatan dengan “Israel” ditandatangani untuk “mencegah aneksasi” wilayah Palestina oleh “Israel”.

Namun, sejak itu, “Israel” terus membangun pemukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki dan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.

“Israel” pada 2023 melancarkan kekerasan baru terhadap warga Palestina, tentara dan pemukim telah membunuh 156 warga Palestina tahun ini – rata-rata lebih dari satu orang per hari. (zarahamala/arrahmah.id)