Memuat...

Dari Peringatan Hari Ibu, Menuju Pemuliaan Peran Ibu

Oleh Fatonah
Sabtu, 3 Januari 2026 / 14 Rajab 1447 16:11
Dari Peringatan Hari Ibu, Menuju Pemuliaan Peran Ibu
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/vanbeets)

Pemerintah Kabupaten Bandung pada 22 Desember 2025 menggelar peringatan Hari Ibu ke-97. Ini menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan peran strategis ibu dan perempuan dalam kehidupan bangsa. Bupati Bandung Dadang Supriatna menyatakan bahwa perempuan bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek utama dengan daya cipta dan daya ubah. (ketik.com, 22/12/2025)

Pernyataan ini sejalan dengan fakta historis bahwa Hari Ibu lahir dari Kongres Perempuan Indonesia 1928, simbol perjuangan perempuan untuk berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, pada realitasnya dalam sistem sekuler sekarang ini, tolok ukur keberhasilan perempuan sering kali diukur dari produktivitas ekonomi dan partisipasi pasar kerja, bukan dari peran sebagai ibu dan pendidik generasi.

Akibatnya, banyak perempuan dipaksa memikul beban ganda: tetap bertanggung jawab atas rumah tangga, sekaligus dituntut bersaing di ruang publik demi bertahan secara ekonomi. Alih-alih dimuliakan, perempuan kerap menjadi objek eksploitasi, baik tenaga, tubuh, maupun perasaannya.

Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat, sementara perlindungan yang diberikan negara sering bersifat reaktif dan parsial. Penghormatan terhadap ibu akhirnya terjebak dalam seremonial tahunan, belum menyentuh akar persoalan sistemik.

Islam sangat memuliakan perempuan secara hakiki

Berbeda sekali dengan sistem sekuler. Islam memuliakan ibu bukan sebatas slogan, tetapi melalui sistem kehidupan yang menyeluruh. Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan 3x, lebih utama daripada ayah dalam hal bakti anak.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Islam juga menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama generasi (al-ummu madrasatul ula), bukan sekadar pepatah, melainkan cerminan konsep Islam dalam membangun peradaban.

Allah SWT berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (TQS. Luqman: 14)

Dalam Islam, tanggung jawab nafkah diwajibkan kepada laki-laki, dan bukan kepada perempuan. Hal ini memberikan ruang bagi ibu untuk menjalankan peran utamanya tanpa tekanan ekonomi. Negara dalam sistem Islam (Khilafah) juga berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sehingga ibu dananak terlindungi secara nyata.

Solusi Islam bukan sekadar imbauan moral, melainkan penerapan Syariat secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan sistem Islam:
- Ibu dimuliakan melalui hukum yang jelas dan adil.
- Perempuan dilindungi dari eksploitasi.
- Anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan berakhlak, dan
- Negara hadir sebagai pelindung, bukan sekadar regulator.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memuliakan Ibu tidak cukup dengan peringatan dan slogan. Tetapi, dibutuhkan sistem kehidupan yang benar agar penghormatan itu nyata dan berkelanjutan. Islam telah memberikan konsep paripurna dalam memuliakan ibu, melindungi perempuan, dan membangun generasi unggul. Sudah saatnya umat Islam kembali menjadikan Islam sebagai solusi, bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Wallahua'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya

perempuanislam memuliakan perempuan