KUWAIT CITY (Arrahmah.id) -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa empat anggota militer AS tewas dalam serangan drone yang diluncurkan oleh Iran di wilayah udara Kuwait pada Selasa (3/3/2026)
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Pentagon, seperti dilansir The Guardian (3/3), keempat tentara itu tewas ketika militer Iran menarget pasukan koalisi yang berada di dekat pangkalan udara di Kuwait. Pemerintah AS menyatakan bahwa tentara yang gugur itu berada dalam misi operasional rutin ketika serangan drone terjadi, dan pengumuman ini mengikuti kesedihan nasional di kalangan militer serta seruan untuk memperkuat pertahanan terhadap ancaman tak berawak Iran.
Menurut Reuters, ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat setelah serangan udara gabungan oleh AS dan 'Israel' terhadap sasaran militer di Iran pada akhir Februari 2026. Serangan drone di Kuwait kali ini merupakan salah satu insiden paling fatal dalam gelombang balasan tersebut.
Reaksi terhadap pengumuman Pentagon datang dari berbagai pihak internasional. Sekretaris Jenderal PBB menyatakan duka cita dan menyerukan de-eskalasi serta perlindungan terhadap pasukan serta warga sipil yang berada di kawasan konflik. Sementara beberapa negara NATO menunjukkan solidaritas dengan AS dan menekankan pentingnya menahan diri serta mencari penyelesaian melalui diplomasi.
Para analis menilai bahwa serangan drone yang menewaskan empat tentara itu menunjukkan peningkatan kemampuan militer tak berawak Iran dan taktiknya dalam konflik saat ini — terutama kemampuan drone untuk menembus pertahanan udara sekutu dan menarget personel militer secara langsung. Beberapa pakar keamanan menyatakan bahwa insiden ini bisa mendorong peninjauan ulang strategi Al Janub (strategi AS) di Teluk serta memperkuat kerja sama dengan sekutu regional untuk menghadang serangan tak berawak di masa mendatang. (hanoum/arrahmah.id)
