Delapan Tewas, Sebelas Terluka Dalam Bentrokan Etnis Di Darfur

Oleh:

|

Kategori:

Delapan orang tewas dalam pertempuran di wilayah Darfur Sudan. [Getty/file photo]

ZALINGEI (Arrahmah.id) – Delapan orang tewas dalam bentrokan di wilayah Darfur barat Sudan antara kelompok Rizeigat Arab dan orang-orang Fur, lapor sebuah LSM, Kamis (29/12/2022).

Bentrokan pecah Rabu malam (28/12) di Zalingei, ibu kota negara bagian Darfur Tengah, setelah seorang anggota Fur terbunuh, memicu pertempuran yang lebih luas, kata saksi mata.

Orang-orang bersenjata Rizeigat dengan berkendara sepeda motor kemudian menyerbu sebuah kamp pengungsi di kota itu menyerang penduduk Fur, kata Adam Regal, juru bicara General Coordination for Refugees and Displaced di Darfur, NGO independen Sudan.

“Bentrokan itu menyebabkan delapan orang tewas dan 11 luka-luka,” kata Regal.

Pertempuran berkecamuk sepanjang malam hingga Kamis pagi (29/12) di kota itu, 1.020 kilometer (635 mil) barat ibu kota Khartoum.

Bentrokan etnis sering meletus di Darfur, wilayah gersang yang dibanjiri senjata otomatis yang masih terhuyung-huyung akibat perang saudara sengit yang meletus pada 2003.

Konflik itu mengadu pemberontak etnis minoritas melawan pemerintahan presiden Omar al-Bashir yang didominasi Arab.

Sekitar 300.000 orang tewas dan 2,5 juta mengungsi, menurut PBB.

Sementara konflik telah mereda selama bertahun-tahun, kekerasan masih berkobar antara penggembala nomaden dan petani menetap karena menyusutnya akses ke air yang langka dan lahan penggembalaan.

Pada Sabtu (24/12), setidaknya 11 orang dilaporkan tewas menyusul bentrokan mematikan di negara bagian Darfur Selatan. Tidak jelas apa yang memulai pertempuran itu.

Serangan kekerasan terbaru terjadi ketika Sudan bergulat dengan kudeta militer yang melumpuhkan yang dipimpin oleh panglima militer Abdel Fattah al-Burhan pada Oktober tahun lalu.

Kelompok sipil menandatangani kesepakatan awal dengan militer untuk mengakhiri krisis awal bulan ini tetapi menuai banyak kritik.

Konflik di wilayah yang jauh di Sudan telah menewaskan sekitar 900 orang tahun ini dan membuat hampir 300.000 orang mengungsi, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan. (zarahamala/arrahmah.id)