Dinamika sejarah Islam bergantung kepada Jihad

(Arrahmah.com) – Wahai saudaraku, engkau harus mengetahui bahwa tugasmu dalam hidup ini adalah menegakkan Dienullah (agama Allah). Dan menegakkan Dienullah di bumi merupakan suatu pekerjaaan yang mesti disertai jihad, tak pernah lepas darinya untuk selamanya. Dan mesti pula disertai taushiyah  bil  haq dan taushiyah bish shabr. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa kehidupan atau jihad itu hanyalah perangnya suatu kaum saja atau satu hari saja atau sebuah pergulatan demi mempertahankan hidup atau mengusir musuh yang menguasai sejengkal tanah, berarti mereka itu tidak mengetahui tabi’at agama ini dan tidak pula mengerti sunnah Sayyidil Mursalin saw.

Sesunguhnya jihad itu adalah tugas wajib yang tergantung di leher setiap muslim sejak qalam (pena) berjalan mencatat amal perbuatannya, sampai dia bertemu dengan Allah (mati), atau sampai qalam tersebut diangkat karena dia gila atau pingsan atau karena sebab yang lain. Tanpa alasan itu, maka tugas jihad akan tetap terus berlaku. Tak ada jalan lolos baginya. Jika seseorang meninggalkan kewajiban jihad, yang lebih didahulukan daripada shalat, seperti masa-masa sekarang ini, maka boleh jadi dia menjadi orang fasiq atau pendurhaka. Kewajiban jihad lebih didahulukan atas shalat dan puasa, seperti kata Ibnu Taimiyah :

“Tiada sesuatu yang lebih wajib hukumnya setelah iman kepada Allah daripada menolak musuh yang menyerang kehormatan dan agama”. 2

Artinya, jihad itu didahulukan atas shalat, shiyam, zakat, haji dan kewajiban yang lainnya. Jika berbenturan antara kewajiban jihad dengan haji, maka kewajiban haji ditangguhkan dan kewajiban jihad didahulukan. Apabila kewajiban shiyam berbenturan dengan kewajiban jihad, maka kewajiban shiyam ditangguhkan. Apabila berbenturan antara kewajiban jihad dengan kewajiban shalat, maka kewajiban shalat ditangguhkan sementara waktu, atau diqhashar atau dipersingkat atau dirubah bentuk dan keadaannya demi menyesuaikan dengan jihad. Karena menghentikan jihad sejenak saja sama artinya dengan menghentikan gerak laju agama Allah ‘Azza wa Jalla dalam kehidupan ini.

Lalu apa kehidupan itu? Apa sejarah itu?

Sejarah kaum muslimin tidak lain adalah gerak perjuangan para tokoh bersama agama ini melalui pedang dan pemahaman Al-Qur’an. Pedang di satu tangan, dan Al-Qur’an di tangan yang lain. Jika jihad terhenti dari perjalanannya di muka bumi, maka dinamika sejarah Islam pun terhenti. Karena itu para fuqaha menamakan jihad dengan “As Sairu”, yang berarti perjalanan.

Mereka menyebutnya dengan istilah: “As Sairu wa Al Maghazi”, maksudnya kisah perjalanan dan peperangan. Perjalanan jihad adalah perjalanan hidup para tokoh. Jihad itu adalah kisah-kisah para pahlawan’. Sirah agama adalah kisahnya para tokoh  dan gerak perjuangannya dalam menegakkan agama ini. Dan itu adalah perjalanan agama ini.  Kumpulan kisah itu disebut kumpulan sirah (perjalanan hidup).  Sirah si Fulan, si Fulan, dan si Fulan, keseluruhannya disebut sair (kisah-kisah perjalanan).  Dan “sair” mereka adalah jihad dan peperangan.

Oleh karenanya terkadang syetan masuk dalam hatimu untuk membisikkan rasa was-was dan menggoda.  Dia berkata ; “Apa perlumu wahai saudaraku, membuang-buang waktu bersama orang-orang Afghan?  Kaum yang tak memahami aqidah, kaum yang shalat mereka tidak tenang dan tidak khusyu’, kaum yang para pemimpin mereka saling bermusuhan dalam soal politik dan kekuasaan, kaum yang diantara mereka terdapat para pembohong dan pencuri, kaum yang hendak menghisap harta kekayaanmu”.

Kadang syetan masuk ke dalam dirimu melalui dalih maslahat dan tanggung jawab.  Syetan akan berkata kepadamu : “Mengapa engkau tinggalkan negerimu.  Ketahuilah masjid yang kau tinggalkan sekarang ini sedikit sekali yang memakmurkannya, perkampungan yang engkau tinggalkan menjadi sedikit jumlah orang-orang shalehnya.  Madrasah, sekolah yang kau tinggalkan telah kehilangan anak-anak didik yang pernah engkau asuh.  Orang-orang telah bercerai-berai dari masjidmu, maka kumpulkanlah kembali mereka yang terpisah-pisah dan satukan.  Keterikatan mereka hanya kepadamu, karena engkau adalah simbol keimanan dan figur pemimpin di mata mereka.  Mereka akan mengikuti jejakmu dan menelusuri langkahmu.

Maka bertambahlah keraguan, kebimbangan dan kebingungan manakala bertambah kepedihan dalam perjalanan jihad.  Akan tetapi tidak ada jalan keluar.  Jika engkau meninggalkan bumi jihad dan kembali ke negerimu, maka engkau akan membawa gelar fasiq dari Allah.

“Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”.  (QS. At Taubah : 24)

Engkau membawa gelar fasiq, meskipun engkau mengerjakan shalat di malam hari dan shiyam di siang hari.  Meski engkau mengerjakan shalat malam di negerimu dan shiyam, namun engkau tetap fasiq.  Setiap orang yang tidak berjihad di muka bumi sekarang ini, maka dia adalah fasiq.  Meskipun dia adalah aktifis masjid, meskipun dia adalah dari golongan abid (ahli ibadah) dan zahid ( ahli zuhud).

Demi Allah, kutanyakan kepada kalian, ibadah apa, kezuhudan apa dan ghirah iman yang bagaimana yang ada pada mereka yang menyaksikan kehormatan dirusak, kesucian diinjak-injak, kaum muslimin dibantai, darah mereka mengalir sia-sia, batas-batas mereka dihalalkan, agama mereka dihina dan dilecehkan?.

Ghirah/kecemburuan apa, agama apa, kezuhudan apa dan shalat malam apa yang ada pada mereka itu?  Sesungguhnya mereka yang lari dari bumi pertempuran kemudian mencurahkan waktunya untuk beribadah, karena dada mereka sempit berjuang di atas jalan jihad,4 maka dada mereka akan bertambah sempit manakala tujuan yang paling besar lenyap dari matanya, tujuan yang diciptakan untuknya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan”. (QS. Adz Dzariyat : 56-57)

Ya, mungkin pengorbanan  itu amat tinggi, mungkin beban tersebut sangat berat.  Boleh jadi jalan yang akan kamu lalui menyusahkan, di sana-sini penuh dengan onak dan duri.  Akan tetapi, tidak ada tempat lari dan tidak ada jalan untuk meloloskan diri, engkau duduk dengan kefasikan atau engkau berjihad dengan keimanan dan engkau mencapai  Jannah dengan jihadmu itu.

Saya katakan kepada salah seorang ikhwan yang hendak meninggalkan tempat ini (kamp. Latihan) ke dalam wilayah Afghanistan : “Saya mohon kepada Allah supaya Dia memberimu karunia syahadah.  Atau saya berdoa kepada Allah supaya memberi karunia pada diri saya dan kepada dirimu syahadah”.

Dia menjawab : “Saya ingin mati syahid namun tidak di atas bumi ini”.

Saya katakan padanya : “Engkau berhak bercita-cita mati syahid di bumi Arab, namun saya tetap ingin mati syahid di atas bumi Afghanistan.  Oleh karena tiada perbedaan antara mati syahid di bumi Afghanistan dengan di bumi Arab”.

Sesungguhnya mati syahid di Afghanistan berarti mati syahid di atas bumi Islam, hal ini  tidak perlu dibantah atau diperdebatkan.  Mereka berperang di bawah bendera Laa ilaaha illallaah muhammadur rasulullah, bukan di bawah bendera nasionalisme dan bukan di bawah bendera sekularisme.  Sedangkan kaum (mujahidin) yang berperang bersama mereka tidak keluar dari iman dan tidak menyimpang dari Islam.  Memang mereka mempunyai kesalahan dan kekhilafan, dan kalian lihat diantara mereka ada yang tergelincir dalam dosa.  Akan tetapi jika tidak kamu bantu menguranginya, maka siapa lagi yang akan membantu mereka ?!?

 

//Kau habiskan umurmu wahai si miskin dengan rintihan dan kesedihan.

Kau hanya duduk berpangku tangan seraya berkata : “Zaman telah memerangiku.”

Jika engkau tidak mau memikul beban itu maka siapa lagi yang akan memikulnya?//

 

Jika para pemuda Islam enggan memikul beban tersebut, jika kalian tidak mau membawa bendera itu, maka siapa lagi yang akan membawanya? Jika kalian sendiri tidak mau menentang dan mengusir musuh, apakah kalian berharap pada mereka, orang-orang bodoh, pemuda-pemuda jalanan yang sesat dan buta, untuk melawan ghazwul fikri, pasukan yang besar , dan doktrin-doktrin yang merusak itu?

Apakah karena engkau seorang dokter, atau seorang  Insinyur, atau guru atau dosen, dan engkau mempunyai ranjang tidur yang empuk dan kain sutera, sedangkan mereka ( Mujahidin Afghan ) itu darahnya tak berharga. Jadi tidak ada persoalan kalau darah mereka tertumpah atau nyawa  mereka hilang. Karena engkau menyangka bahwa timbanganmu lebih berat dari timbangan mereka. Jika kamu ingin dirimu berat bobotnya dalam timbangan, maka majulah untuk mengerjakan suatu amalan yang akan memperberat timbanganmu disisi Rabbul ‘Alamien.

Oleh: Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah, Tarbiyah Jihadiyah.

Source: Gashibu

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya