GAZA (Arrahmah.id) - Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (26/11/2025) meminta negara-negara mediasi untuk menekan "Israel" agar mengizinkan akses aman bagi puluhan pejuangnya yang bersembunyi di terowongan di Jalur Gaza selatan.
Permintaan tersebut muncul setelah militer "Israel" mengatakan telah menewaskan lebih dari 20 anggota Hamas selama seminggu terakhir "yang berusaha melarikan diri dari infrastruktur 'teror' bawah tanah di daerah tersebut", dan menangkap delapan orang lainnya, lansir AFP.
"Kami menganggap (Israel) bertanggung jawab penuh atas nyawa para pejuang kami dan menyerukan kepada para mediator kami untuk segera mengambil tindakan guna menekan (Israel) agar mengizinkan putra-putra kami pulang," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Ini adalah pertama kalinya kelompok tersebut secara terbuka mengakui bahwa anggotanya terjebak di dalam terowongan.
Media "Israel" melaporkan bahwa selama berminggu-minggu, antara 100 dan 200 pejuang Hamas masih terjebak dalam jaringan terowongan di bawah kota Rafah.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata yang ditengahi AS dan mulai berlaku pada 10 Oktober, tentara "Israel" mundur dari wilayah pesisir Palestina menuju apa yang disebut "garis kuning" yang menandai wilayah di bawah kendali "Israel".
Awal bulan ini, Utusan Khusus AS Steve Witkoff menyinggung dalam sebuah konferensi bisnis di Miami tentang "200 pejuang yang terjebak di Rafah" dan mengatakan bahwa penyerahan diri mereka, termasuk menyerahkan senjata mereka, dapat menjadi "ujian" bagi kedua belah pihak dalam gencatan senjata, "Israel" dan Hamas.
Namun, "Israel" tampaknya tidak bersedia berkompromi terkait pembebasan mereka dari terowongan dengan aman.
Seorang juru bicara "Israel" mengatakan kepada AFP awal bulan ini bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu "tidak mengizinkan perjalanan aman bagi 200 'teroris' Hamas" dan bahwa ia "tetap teguh pada posisinya untuk membongkar kemampuan militer Hamas dan mendemiliterisasi Jalur Gaza."
Dalam pernyataannya pada Rabu, Hamas menuduh "Israel" melanggar perjanjian gencatan senjata melalui "pengejaran, likuidasi, dan penangkapan para pejuang perlawanan yang terkepung di terowongan Rafah." (haninmazaya/arrahmah.id)
