Hujan Musim Gugur Datangkan Malapetaka Di Kamp Pengungsi Suriah Utara

Oleh:

|

Kategori:

Suhu secara teratur turun di bawah titik beku di Suriah utara - di mana banyak kamp pengungsi terbesar berada. [Getty]

HASAKEH (Arrahmah.id) – Hujan musim gugur yang lebat menyebabkan kehancuran di kamp-kamp pengungsi di Suriah Utara pada Sabtu dan Ahad (27/11/2022), di tengah peringatan dari PBB tentang “salah satu musim dingin paling keras” di seluruh negeri.

Lebih dari 62 tenda hancur total akibat hujan di seluruh wilayah, menurut pejabat setempat.

“Tidak mungkin untuk mengatasinya. Hujan telah menghancurkan tenda kami dan semua barang yang ada di rumah. Saya harus membawa anak-anak saya ke tenda baru untuk semua keluarga yang terkena banjir,” kata Khadijah, ibu tiga anak di kamp pengungsi al-Tala’i, provinsi Hasakeh.

Pejabat kesehatan setempat Dula Mohammed Ali mengatakan kepada al-Araby al-Jadeed: “Hujan badai yang melanda al-Tala’i telah menyebabkan kekacauan. Banyak keluarga yang tendanya hancur dan tersapu.”

“Keluarga telah dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi, keluar dari rawa-rawa air yang berkembang di bagian bawah kamp sejak banjir,” kata Ali.

Kamp Al-Tala’i, salah satu dari sekian banyak di provinsi al-Hasakeh, menampung lebih dari 14.000 pengungsi Suriah yang tinggal di kurang dari 3.000 bangunan tenda sementara. Di musim hujan terakhir, lebih dari 20 tenda di al-Tala’i hancur.

PBB mengatakan mereka memperkirakan musim dingin yang akan datang menjadi “salah satu musim dingin paling keras” bagi Suriah sejak negara itu terjerumus ke dalam perang saudara pada 2011.

Peringatan telah dikeluarkan tentang “bencana kekurangan bahan bakar dan listrik” yang meningkat dari tahun ke tahun.

“Suhu secara rutin turun di bawah titik beku di bagian pegunungan yang tinggi di negara itu sementara dataran rawan banjir,” kata sebuah laporan baru-baru ini.

Lebih dari 19 kamp pengungsi dilanda banjir baru-baru ini di Suriah utara, karena itu PBB menyerukan dukungan keuangan darurat untuk lebih dari 6 juta orang di Suriah – 2,5 juta di antaranya tinggal di wilayah barat laut negara itu, di luar kendali rezim. (zarahamala/arrahmah.id)