TEHERAN (Arrahmah.id) - Badan intelijen Iran mengumumkan telah menyita senjata api, amunisi, serta lebih dari 200 kilogram bahan peledak dari sel-sel yang didukung asing dan terlibat dalam penghasutan kerusuhan di berbagai wilayah negara itu.
Dalam pernyataannya pada 13 Januari, Kementerian Intelijen Iran menyebutkan bahwa banyak dari senjata yang disita merupakan buatan Amerika Serikat, dan ditemukan tersembunyi di rumah-rumah para “militan” di berbagai kota.
Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa sejumlah “kelompok teroris” yang memiliki kaitan dengan Israel telah ditangkap di kota Zahedan, Iran tenggara.
Menurut Sepah News, kelompok-kelompok bersenjata yang terhubung dengan 'Israel', yang disebut telah menyusup ke Iran melalui perbatasan timur, berhasil dibongkar dalam operasi gabungan antara pasukan darat Garda Revolusi Iran (IRGC), kepolisian, dan badan intelijen di Zahedan. Laporan tersebut menegaskan bahwa senjata buatan AS turut ditemukan dalam operasi itu.
Pengumuman ini muncul di tengah laporan bahwa otoritas Iran berhasil menggagalkan upaya Amerika Serikat untuk menyediakan akses internet ke Iran melalui jaringan satelit Starlink.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran memutus akses internet nasional guna mencegah aktivitas para pemimpin kerusuhan yang disebut memiliki keterkaitan dengan badan intelijen asing.
“Menghentikan internet baru dilakukan setelah kami menghadapi operasi teror dan menyadari bahwa perintah datang dari luar negeri. Kami merekam suara individu-individu di luar Iran yang memberi instruksi kepada agen teroris untuk menembaki pasukan keamanan dan bahkan demonstran jika polisi tidak berada di lokasi. Tujuan mereka adalah menyebarkan pembunuhan,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada Al Jazeera pada 13 Januari.
Araghchi juga kembali memperingatkan Amerika Serikat agar tidak “menguji” Iran dengan melakukan serangan militer.
Sementara itu, televisi pemerintah IRIB melaporkan bahwa dinas intelijen Iran berhasil mencegat pengiriman besar perangkat Starlink dan peralatan elektronik canggih lainnya yang diduga ditujukan untuk kegiatan spionase dan sabotase. Pengiriman tersebut disebut berasal dari sebuah “negara regional” dan direncanakan untuk didistribusikan ke provinsi-provinsi yang tengah mengalami kerusuhan.
Sebagian perangkat itu, menurut laporan, juga dirancang untuk operasi pengumpulan intelijen di dekat lokasi-lokasi militer dan fasilitas rudal Iran sebagai persiapan konflik di masa depan.
Iran dilaporkan meningkatkan pembatasan internet secara signifikan dengan mengerahkan perangkat jammer kelas militer untuk mengganggu konektivitas satelit Starlink, sehingga pemadaman internet nasional tidak hanya terbatas pada jaringan domestik. Forbes menyebut langkah ini sebagai upaya skala besar pertama Iran untuk secara langsung mengganggu internet satelit, yang sebelumnya dianggap sebagai alternatif saat pemadaman.
Media oposisi Iran Wire melaporkan bahwa meskipun puluhan ribu unit Starlink diyakini beroperasi di Iran, gangguan koneksi melonjak drastis dari sekitar 30 persen menjadi lebih dari 80 persen hanya dalam hitungan jam.
Gangguan tersebut diduga terkait dengan pengacauan sinyal GPS, yang menyebabkan pemadaman bersifat lokal dan tidak merata. Kelompok pemantau yang dikutip Forbes menyatakan bahwa tingkat konektivitas nasional Iran kini hanya sekitar satu persen dari kondisi normal.
Sementara itu, sebuah kelompok aktivis berbasis di Amerika Serikat mengklaim bahwa jumlah korban tewas sejak protes dimulai telah mencapai 2.000 orang, dengan tuduhan bahwa mayoritas korban merupakan demonstran yang tewas akibat tindakan pemerintah.
Namun, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa lebih dari dua pertiga korban tewas diklasifikasikan sebagai “syuhada”, yang menurut otoritas Iran berarti mereka tewas akibat serangan kelompok bersenjata anti-pemerintah.
Tasnim mengutip Kepala Yayasan Martir dan Veteran Iran yang menyatakan bahwa warga sipil dan aparat keamanan dari berbagai latar belakang tewas akibat penggunaan senjata militer, senjata berburu, serta senjata tajam seperti pisau, kapak, dan bilah lainnya.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa kejahatan brutal, termasuk pembakaran korban hidup-hidup, pemenggalan kepala, dan pencekikan, menyulitkan proses identifikasi jenazah, sehingga memerlukan pemeriksaan forensik mendalam. Otoritas Iran mulai menyerahkan jenazah, menggelar pemakaman, dan proses penguburan diperkirakan akan dipercepat.
Menurut kantor berita Fars, dalam beberapa hari terakhir sel-sel kerusuhan melakukan serangan bergaya ISIS, termasuk eksekusi, penyembelihan, mutilasi, pelemparan granat, serta pembakaran masjid dan fasilitas umum. Mengutip penilaian intelijen dan pengakuan kelompok yang dikaitkan dengan Mossad dan AS, laporan tersebut menyebut kerusuhan ini dipandang sebagai kelanjutan dari perang 'Israel'–Iran selama 12 hari dan sebagai salah satu operasi teror terbesar terhadap warga sipil Iran sejak 1979.
Fars menyebut bahwa strategi “produksi kematian” digunakan untuk memperparah kekacauan, dengan jumlah korban tertinggi terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi militer jika Iran membunuh warga sipil.
Sekitar 100 korban yang telah diidentifikasi dijadwalkan dimakamkan hari ini.
Ratusan orang telah ditahan sejak kerusuhan dimulai, dan banyak di antaranya diduga memiliki keterkaitan dengan intelijen asing. Ponsel milik sebagian pelaku kerusuhan berisi video serta pesan instruksi dari agen asing.
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan menyerang Republik Islam Iran sejak kerusuhan berlangsung lebih dari dua pekan lalu, serta menyatakan niatnya untuk “menyelamatkan” para demonstran anti-pemerintah.
Badan intelijen 'Israel', Mossad, juga secara terbuka menyerukan warga Iran untuk turun ke jalan.
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu baru-baru ini mengunjungi AS dan membahas kemungkinan serangan baru terhadap Iran bersama Trump. Dalam konferensi pers saat itu, Trump menyatakan bahwa ia berpotensi mendukung serangan 'Israel' berikutnya.
Pejabat pemerintahan AS yang dikutip Wall Street Journal pada 10 Januari mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah melakukan diskusi awal mengenai skenario serangan terhadap Iran, termasuk target-target yang mungkin disasar.
“Salah satu opsi yang dibahas adalah serangan udara skala besar terhadap berbagai target militer Iran. Namun belum ada konsensus mengenai langkah yang akan diambil, dan belum ada pergerakan personel atau perlengkapan militer untuk persiapan serangan,” kata sumber tersebut.
Iran sendiri menegaskan akan memberikan respons keras terhadap setiap serangan, termasuk menyerang pangkalan militer AS dan Israel. (zarahamala/arrahmah.id)
