Memuat...

Iran Ancam Balas AS dengan Serangan Mematikan, Sebut Trump dan Netanyahu sebagai "Pembunuh"

Zarah Amala
Rabu, 14 Januari 2026 / 25 Rajab 1447 09:30
Iran Ancam Balas AS dengan Serangan Mematikan, Sebut Trump dan Netanyahu sebagai "Pembunuh"
Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh (Getty Images)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Menteri Pertahanan Iran, Amir Nasirzadeh, menegaskan bahwa negaranya akan memberikan respons "menghancurkan dan menggelegar" terhadap setiap agresi yang menargetkan wilayahnya. Ia memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar tidak mengancam rakyat Iran.

Nasirzadeh menyatakan bahwa seluruh aset dan kepentingan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia akan berada dalam bahaya jika Trump melakukan "tindakan konyol" dengan menyerang kepentingan Iran. Ia juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang memfasilitasi serangan tersebut atau meminjamkan pangkalan militer mereka kepada penyerang akan menjadi target sah bagi balasan Iran.

"Posisi pertahanan kami saat ini jauh lebih baik dibandingkan saat perang terakhir berkat langkah-langkah yang telah kami ambil," ujar Nasirzadeh.

Senada dengan hal tersebut, Panglima Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, mengeklaim bahwa Teheran saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat "Perang 12 Hari" sebelumnya. Namun, ia mengakui bahwa ancaman dari AS dan Israel terhadap Iran adalah nyata dan disikapi dengan sangat serius oleh pihaknya.

Di Washington, seorang pejabat AS mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa Presiden Trump bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada Selasa sore (13/1/2026) untuk membahas berbagai opsi terkait Iran, termasuk opsi militer. Laporan New York Times juga menyebutkan bahwa Pentagon telah menyodorkan pilihan serangan yang lebih luas dari yang pernah dilaporkan sebelumnya.

Ketegangan ini memuncak setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, membalas pernyataan Trump. "Kami umumkan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran, pertama adalah Trump, dan kedua adalah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu," tegas Larijani.

Sebelumnya, Donald Trump melalui media sosial menyerukan rakyat Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengambil alih institusi pemerintah. Trump meminta demonstran mencatat nama-nama pihak yang ia sebut sebagai "pembunuh dan agresor," seraya berjanji bahwa mereka akan membayar mahal.

Trump juga membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran hingga "pembunuhan sia-sia terhadap demonstran" dihentikan. "Bantuan sedang dalam perjalanan," ujar Trump, sembari menggaungkan slogan untuk "membuat Iran hebat kembali."

Saat ini, Iran tengah diguncang aksi protes besar-besaran selama tiga pekan terakhir akibat memburuknya nilai tukar mata uang dan anjloknya daya beli masyarakat. Demonstrasi ini berlangsung di tengah pemutusan akses internet total di seluruh negeri.

Lembaga hak asasi manusia independen, HRANA, melaporkan pada Selasa (13/1) bahwa jumlah korban tewas dalam kerusuhan dua pekan terakhir telah mencapai sedikitnya 646 orang. Korban terdiri dari 512 demonstran, 133 aparat keamanan, dan seorang jaksa penuntut umum. (zarahamala/arrahmah.id)

IranHeadlineIsraelASkerusuhanAziz Nasirzadeh