ISIS Klaim Serangan Bunuh Diri di Kedubes Rusia di Kabul

Oleh:

|

Kategori:

Militan ISIS bernama WAqas al Muhajir mengaku bertanggung jawab atas serangan dom di KEdubes Rusia di Kabul, Afghanistan. [Foto : twitter/@CalibreObscura]

KABUL (Arrahmah.id) — Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di Kedutaan Besar Rusia di kota Kabul, Afghanistan, Senin (5/9/2022) yang menewaskan 2 staff kedutaan besar tewas.

Dilansir Al Arabiya (5/9), mengutip pernyataan resmi ISIS, militan ISIS bernama Waqas al Muhajir meledakan rompi bom bunuh dirinya tepat ketika dua pegawai Rusia sedang melakukan pertemuan.

Rusia adalah salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan kedutaan di Kabul setelah Taliban mengambil alih negara itu lebih dari setahun yang lalu. Meskipun Moskow tidak secara resmi mengakui pemerintah Taliban, mereka telah melakukan pembicaraan dengan para pejabat mengenai kesepakatan pasokan bensin dan komoditas lainnya.

Sebelum insiden ini, pada Jumat (2/9) pekan lalu juga terjadi ledakan bom besar di salah satu masjid terbesar di kota Herat, Afghanistan barat waktu setempat. Sebanyak 18 orang dilaporkan tewas dan 23 lainnya mengalami luka-luka.

Juru bicara pemerintah Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa ulama terkemuka bernama Mujib ur Rahman Ansari telah tewas dalam ledakan tersebut. Serangan ini dilaporkan dilakukan oleh kelompok Islamic State (ISIS).

Diketahui beberapa kuil Syiah di seluruh negeri menjadi sasaran serangan yang diklaim oleh ISIS. Sedikitnya 21 orang tewas dan puluhan lainnya terluka saat ledakan di Kabul pada 17 Agustus lalu.

Kekerasan telah menurun sejak Taliban kembali berkuasa tahun lalu, tetapi beberapa ledakan bom, beberapa menargetkan komunitas minoritas, telah mengguncang negara itu dalam beberapa bulan terakhir, banyak yang diklaim oleh kelompok ISIS.

ISIS sendiri menargetkan komunitas minoritas seperti Syiah, Sufi, dan Sikh karena alasan ideologis dan teologis.

Pejabat pemerintah mengklaim bahwa ISIS telah dikalahkan tetapi para ahli mengatakan kelompok itu adalah tantangan keamanan utama bagi penguasa Islam di negara itu. (hanoum/arrahmah.id)