Memuat...

'Israel' Kembali Jatuhkan Selebaran di Gaza, Perintahkan Keluarga untuk Mengungsi

Zarah Amala
Kamis, 22 Januari 2026 / 4 Syakban 1447 13:06
'Israel' Kembali Jatuhkan Selebaran di Gaza, Perintahkan Keluarga untuk Mengungsi
Seorang pria memegang salah satu selebaran yang dijatuhkan oleh militer 'Israel' di Kota Gaza, yang mendesak evakuasi ke selatan menuju al-Mawasi, pada 9 September 2025. Omar Al-Qattaa/AFP/Getty Images

GAZA (Arrahmah.id) - 'Israel' dilaporkan telah menyebarkan selebaran di Jalur Gaza bagian selatan yang memerintahkan puluhan keluarga Palestina untuk meninggalkan rumah mereka. Menurut laporan Reuters, ini merupakan perintah evakuasi paksa pertama sejak gencatan senjata yang rapuh diberlakukan pada Oktober lalu.

Warga di Bani Suhaila, sebelah timur Khan Yunis, menyatakan bahwa selebaran tersebut dijatuhkan pada Senin (19/1/2026) menyasar keluarga-keluarga yang tinggal di kamp tenda di lingkungan Al-Reqeb. Selebaran yang ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Inggris tersebut berbunyi: "Pesan mendesak. Wilayah ini berada di bawah kendali IDF. Kalian harus segera mengungsi."

Gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat telah berjalan sejak Oktober tahun lalu di bawah rencana perdamaian 20 poin Presiden Donald Trump. Meski demikian, 'Israel' terus melanggar kesepakatan tersebut; menewaskan lebih dari 466 warga Palestina dan melukai 1.294 lainnya selama periode gencatan senjata.

Pihak militer 'Israel' membantah telah memerintahkan evakuasi. Mereka mengklaim selebaran tersebut hanya bertujuan untuk memperingatkan warga agar tidak melintasi apa yang disebut sebagai "Garis Kuning" (Yellow Line). Namun, dalam dua tahun terakhir, penyebaran selebaran serupa biasanya menjadi pertanda akan adanya serangan udara atau penggerebekan darat.

Ismail Al-Thawabta, direktur kantor media pemerintah Gaza, mengatakan kepada Reuters bahwa sekitar 3.000 orang terdampak oleh perintah evakuasi ini. Ia menyebut langkah tersebut sebagai "kebijakan intimidasi dan tekanan terhadap warga sipil" yang memperparah krisis pengungsian internal di wilayah tersebut.

Sejak fase pertama gencatan senjata, Gaza terbelah. Hampir seluruh populasi yang berjumlah dua juta orang terkurung di hanya sepertiga wilayah Gaza. Militer 'Israel' mempertahankan kendali atas sisa wilayah di luar Garis Kuning dan secara bertahap memperluas batas tersebut, merambah ke area yang dikelola oleh Hamas.

Seorang warga mengungkapkan bahwa evakuasi ini memaksa setidaknya 70 keluarga untuk pindah ke arah barat. "Ini mungkin keempat atau kelima kalinya penjajah memperluas Garis Kuning sejak bulan lalu," katanya. "Setiap kali, mereka memajukan garis itu sekitar 120 hingga 150 meter ke dalam wilayah kendali Palestina, menelan lebih banyak lahan."

Hamas menyatakan pada Selasa (20/1) bahwa pasukan 'Israel' melakukan pelanggaran hampir setiap hari sejak gencatan senjata diumumkan. Pelanggaran ini mencakup penembakan di area pemukiman, pembongkaran bangunan, penangkapan sewenang-wenang, hingga serangan terhadap nelayan.

Pada Rabu (22/1), eskalasi semakin mematikan setelah pasukan 'Israel' menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina menggunakan peluru tajam, artileri, dan drone. Salah satu insiden paling berdarah adalah tewasnya tiga jurnalis di area Netzarim setelah drone 'Israel' menargetkan kendaraan mereka. Ketiga jurnalis tersebut diketahui sedang bekerja dengan Komite Mesir untuk Bantuan Gaza.

Total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 kini telah melonjak menjadi lebih dari 71.551 orang tewas dan lebih dari 171.372 orang luka-luka. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazaselebaran