TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Di tengah perhatian dunia yang terfokus pada perang melawan Iran, surat kabar terkemuka 'Israel', Haaretz, mengeluarkan peringatan keras melalui tajuk rencananya mengenai peningkatan drastis apa yang mereka sebut sebagai Terorisme Yahudi di Tepi Barat. Analisis tersebut menyatakan bahwa serangan sistematis oleh pemukim ekstremis terhadap warga Palestina bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan bagian dari pola pengusiran bertahap yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Haaretz menyoroti bahwa kebijakan pengusiran senyap ini dilakukan melalui intimidasi harian yang membuat kehidupan warga Palestina tidak tertahankan. Kelompok pemukim sering kali bertindak di bawah pengawasan atau bahkan bantuan dari unit keamanan regional, yang memicu tuduhan bahwa negara 'Israel' gagal memenuhi kewajibannya sebagai kekuatan pendudukan untuk melindungi penduduk sipil.
Pemukim bermasker menyerang desa, memicu bentrokan batu yang melukai kepala warga Palestina. Kedatangan militer 'Israel' justru diikuti laporan penembakan yang menelan korban jiwa, sementara seorang warga lainnya meninggal akibat sesak napas gas air mata.
Seorang warga Palestina tewas dan saudaranya kritis setelah ditembak oleh pemukim yang menggembalakan ternak di lahan pribadi milik warga. Pelaku diidentifikasi sebagai tentara cadangan dalam unit pertahanan wilayah.
Dua warga Palestina tewas saat mencoba menghalangi pemukim yang meratakan kebun zaitun mereka menggunakan buldoser.
Laporan tersebut mencatat bahwa beberapa komunitas, seperti di timur desa Duma dan wilayah Aqaba, telah terpaksa meninggalkan tanah mereka setelah berbulan-bulan mengalami pelecehan terus-menerus. Haaretz menegaskan bahwa penyelidikan terhadap insiden ini sering kali dialihkan dari polisi militer ke polisi sipil, sebuah langkah yang menurut para pengamat biasanya berakhir tanpa pertanggungjawaban hukum yang nyata bagi para pelaku.
Surat kabar tersebut juga memperingatkan bahwa para pejabat tinggi 'Israel', termasuk Benjamin Netanyahu, Itamar Ben Gvir, dan Bezalel Smotrich, serta komandan militer seperti Eyal Zamir dan Avi Bluth, dapat memikul tanggung jawab internasional atas pelanggaran serius terhadap hukum internasional jika pembiaran terhadap kekerasan ini terus berlanjut. (zarahamala/arrahmah.id)
