TEL AVIV (Arrahmah.id) - Surat kabar Ibrani, Israel Hayom, melaporkan bahwa militer 'Israel' terus mematangkan persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Iran. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional dan potensi eskalasi situasi jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Teheran.
Dalam artikel yang diterbitkan pada Senin (19/1/2026), dijelaskan bahwa persiapan tersebut mencakup pemanggilan pasukan cadangan dan pengerahan sistem pertahanan udara. Meski demikian, hingga saat ini belum ada perubahan instruksi khusus bagi warga sipil dari Komando Front Dalam Negeri (Home Front Command).
Israel Hayom menambahkan bahwa lembaga keamanan, khususnya Angkatan Udara, bekerja sepanjang waktu untuk memperkuat kemampuan pertahanan serta menyiapkan berbagai opsi balasan jika Iran meluncurkan rudal ke arah 'Israel'. Sumber keamanan menyebutkan bahwa kesiapan 'Israel' dalam mencegat rudal terus meningkat setiap harinya seiring mobilisasi pasukan cadangan dan optimalisasi sebaran sistem pertahanan yang lebih baik.
Walaupun persiapan terus dilakukan, surat kabar tersebut mencatat bahwa kepastian apakah Presiden AS Donald Trump akan benar-benar menyerang Iran masih belum diketahui.
Senada dengan hal itu, Kepala Staf Militer 'Israel', Eyal Zamir, menyatakan bahwa selain fokus pada pertahanan, militer juga mempertahankan kemampuan ofensif skala besar. Saat mengunjungi Komando Front Dalam Negeri, Zamir menegaskan, "Militer 'Israel' siap mengerahkan kekuatan serangan yang belum pernah ada sebelumnya terhadap upaya apa pun yang mengancam negara."
Ia juga mengungkapkan bahwa militer telah menyerap pelajaran dari operasi militer bulan Juni lalu dan kini bersiap menghadapi kemungkinan pecahnya perang secara mendadak.
Langkah-langkah ini diambil menyusul meningkatnya kekhawatiran kepemimpinan keamanan 'Israel' dalam beberapa bulan terakhir terkait perkembangan program rudal Iran dan potensi kembalinya Teheran ke program nuklirnya. Isu-isu ini sebelumnya telah dibahas dalam pertemuan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Trump beberapa pekan lalu.
Estimasi 'Israel' menunjukkan bahwa ketegangan ini bisa berlangsung dari beberapa hari hingga beberapa minggu, mengingat pengerahan pasukan AS di kawasan tersebut sudah lengkap. Saat ini, semua skenario masih terbuka, mulai dari serangan militer hingga langkah diplomasi.
Sebagai catatan, ketegangan ini merupakan kelanjutan setelah Israel melancarkan perang 12 hari terhadap Iran pada 13 Juni lalu. Serangan tersebut menargetkan fasilitas nuklir, situs militer, serta menewaskan sejumlah petinggi militer, termasuk Komandan Garda Revolusi dan Kepala Staf Gabungan, serta ilmuwan nuklir. Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal yang menyebabkan kerusakan masif di sejumlah kota di 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
