Kasus Gangguan Ginjal Akut pada Anak, Pakar Kesehatan: Ada Masalah Pengawasan Obat dan Makanan di RI

Oleh:

|

Kategori:

JAKARTA (Arrahmah.id) – Gangguan ginjal akut yang memakan korban, khususnya dialami anak-anak usia bawah lima tahun, diklaim berasal dari obat sirup dengan cemaran bahan kimia berbahaya.

Pakar kesehatan menduga ada masalah di pengawasan obat dan makanan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya sudah mengonfirmasi bahwa penyebab gangguan ginjal akut tersebut berasal dari cemaran ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG), dan ethylene glycol butyl ether (EGBE).

Di sisi lain, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI merasa bahwa keamanan produk seharusnya tanggungjawab dari pihak industri.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya terus memberikan informasi baru terkait gangguan ginjal akut, khususnya BPOM.

“Terpenting juga adalah obat-obat yang dicurigai menyebabkan gagal ginjal akut pada pasien-pasien tersebut. Jadi tentu ketika dilakukan pemeriksaan pada pasien dan ada riwayat tentu, ditanya orangtua, riwayat penggunaan obat-obat sirup, tentu sirup itu harus dikejar,” ujar Prof Ari, lansif VIVA, Senin (24/10).

Menurut Prof Ari, penyebab gangguan ginjal akut saat ini diduga kuat terkait dengan obat sirup cemaran bahan kimia. Maka dari itu, sudah seharusnya pengawasan dari pemerintah diperketat untuk penjualan suatu produk sebelum diedarkan.

“Selain pertama kali ketika obat itu diizinkan beredar, tentu setelahnya itu adalah pengawasan dilakukan,” tegasnya.

Prof Ari mengimbau agar produsen atau industri farmasi pun memperbaiki dan menjaga kualitas produknya.

Mrnurutnya, perlu komitmen dan kerjasama semua pihak agar pengawasan obat bisa lebih baik sehingga anak-anak dan generasi selanjutnya bisa menjalani hidup lebih baik.

“Bisa saja hal ini tidak sengaja dari produsen apalagi mereka sudah punya nama. Di dalam produksi obat tersebut walau produsen sudah punya CPOB (cara pembuatan obat yang benar) sudah diakui, punya kemampuan untuk buat obat sesuai ketentuan tapi komitmen dari industri tentu harus menjaga obat tersebut dalam keadaan baik dan aman untuk masyarakat,” jelasnya.

(ameera/arrahmah.id)