Memuat...

Laporan: 'Israel' Menahan 18.000 Warga Palestina di Tepi Barat Sejak Operasi Banjir Al-Aqsha

Zarah Amala
Senin, 4 Agustus 2025 / 11 Safar 1447 10:15
Laporan: 'Israel' Menahan 18.000 Warga Palestina di Tepi Barat Sejak Operasi Banjir Al-Aqsha
Serangan pendudukan 'Israel' di Tepi Barat terjadi hampir setiap hari (Associated Press)

GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah laporan gabungan dari tiga lembaga Palestina pada Ahad (3/8/2025) mengungkap bahwa pasukan pendudukan 'Israel' telah menangkap sekitar 18.500 warga Palestina di Tepi Barat sejak dimulainya perang genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023.

Laporan ini dirilis oleh Otoritas Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan, Klub Tahanan Palestina, dan Lembaga Addameer untuk Perawatan Tahanan dan Hak Asasi Manusia, sebagaimana dikutip oleh Anadolu Agency.

Angka tersebut mencakup semua yang masih ditahan maupun yang sempat dibebaskan. Hingga awal Juli 2025, total 10.800 warga Palestina masih mendekam di penjara 'Israel', termasuk 49 perempuan dan 450 anak-anak, angka tertinggi sejak Intifada Al-Aqsha pada 2000.

Penangkapan Brutal dan Penyiksaan

Laporan itu juga mencatat bahwa hingga kini, setidaknya 570 perempuan telah ditangkap di Tepi Barat, belum termasuk puluhan lainnya yang ditangkap dari Jalur Gaza. Sementara jumlah anak-anak yang ditangkap mencapai 1.500.

Pers juga menjadi sasaran. Tercatat lebih dari 194 jurnalis Palestina ditangkap, dan 49 di antaranya masih ditahan hingga laporan ini dirilis.

Ketiga lembaga itu menegaskan bahwa penangkapan-penangkapan ini disertai pelanggaran HAM berat: penyiksaan fisik, pemukulan brutal, ancaman terhadap tahanan dan keluarga mereka, serta perusakan besar-besaran di rumah-rumah warga. Tak jarang pula kendaraan, uang tunai, dan perhiasan milik warga disita begitu saja.

Sejak awal serangan ke Gaza, setidaknya 75 tahanan Palestina tewas di penjara 'Israel', dan 46 di antaranya berasal dari Gaza. Namun jumlah korban sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena masih banyak tahanan dari Gaza yang meninggal di kamp militer atau penjara tanpa identitas yang diungkap ke publik.

Tepi Barat: Ladang Kekerasan yang Terlupakan

Di tengah genosida brutal di Gaza, Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, juga tak luput dari gelombang kekerasan. Setidaknya 1.012 warga Palestina dibunuh dan sekitar 7.000 lainnya terluka oleh tentara dan pemukim 'Israel', menurut data resmi Palestina.

Malam Ahad (2/8), kekerasan kembali pecah. Seorang pemuda ditembak dengan peluru tajam dan beberapa lainnya mengalami sesak napas akibat gas di pusat kota Hebron. Pasukan 'Israel' juga menangkap seorang remaja yang terluka di Beit Fajjar, selatan Betlehem.

Penggerebekan juga terjadi di berbagai wilayah: Yatta (selatan Hebron), Hizma (timur laut Yerusalem), serta beberapa wilayah di Ramallah dan Al-Bireh seperti Silwad, Budrus, Qibya, dan lingkungan Al-Jinan.

Sementara itu, ratusan warga Palestina di kota Aqraba (selatan Nablus) mengantarkan jenazah Ma’in Diriyyeh, yang dibunuh oleh pemukim 'Israel'.

Sejak 7 Oktober 2023, 'Israel' melakukan perang pemusnahan di Jalur Gaza setelah operasi Banjir Al-Aqsha oleh kelompok perlawanan Palestina. Hingga kini, serangan tersebut telah menewaskan dan melukai lebih dari 210.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan. Lebih dari 9.000 orang dinyatakan hilang, dan ratusan ribu lainnya mengungsi dalam kondisi kelaparan parah.

Selama puluhan tahun, 'Israel' terus menduduki tanah Palestina serta wilayah Suriah dan Lebanon, dan hingga hari ini menolak mundur dari wilayah-wilayah tersebut serta menolak berdirinya negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Yang terjadi hari ini bukan sekadar perang, tapi penjajahan, perampasan hak, dan pembantaian yang dilembagakan, sementara dunia terus menonton dalam diam. (zarahamala/arrahmah.id)