Memuat...

Massa Uighur Di Turki Seru Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing

Hanoum
Senin, 24 Januari 2022 / 22 Jumadilakhir 1443 05:25
Massa Uighur Di Turki Seru Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing
Muslim Uighur Cina menggelar aksi protes di luar gedung Komite Olimpiade Turki di Istanbul. [Foto : Al Jazeera/Umit Bektas/Reuters]

ISTANBUL (Arrahmah.id) -- Puluhan demonstran dari kelompok etnis Muslim Uighur Cina melakukan protes di Istanbul, menyerukan boikot Olimpiade Musim Dingin di Beijing yang akan digelar bulan depan.

Para pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung Komite Olimpiade Turki pada hari Ahad (23/1/2022), mengibarkan bendera biru-putih khas gerakan Turkestan Timur, sebuah kelompok yang menurut Beijing mengancam stabilitas wilayah barat jauh Xinjiang.

“Cina, hentikan genosida; Cina, tutup kamp,” teriak para demonstran, seperti dikutip dari Al Jazeera (23/1)

“Cina tidak memiliki hak untuk menjadi tuan rumah Olimpiade sambil melakukan semua penyiksaan, kekejaman dan genosida terhadap warga Uighur,” kata ibu rumah tangga Uighur Munevver Ozuygur, yang memiliki kerabat di kamp-kamp di Cina.

“Dunia, Turki, dan negara-negara Islam perlu bangun. China melakukan genosida sekarang,” kata pengunjuk rasa Abdurrahman Taymaz.

“Mereka menipu orang. Kami ingin Olimpiade ini diboikot sesegera mungkin.”

Pakar PBB dan kelompok hak asasi memperkirakan lebih dari satu juta orang, terutama dari Uighur dan minoritas Muslim lainnya, telah ditahan dalam beberapa tahun terakhir di kamp-kamp di Xinjiang.

Beijing menyangkal genosida atau keberadaan kamp kerja paksa di Xinjiang dan menuduh warga Uighur bersaksi di luar negeri tentang kondisi di wilayah barat laut sebagai pembohong bayaran.

Setelah awalnya menyangkal keberadaan kamp Xinjiang sama sekali, Cina kemudian membela mereka sebagai pusat pelatihan kejuruan yang bertujuan untuk mengurangi “ekstremisme”.

Amerika Serikat dan banyak sekutunya, termasuk Inggris, Kanada, Australia, Jepang, dan Denmark, mengatakan mereka tidak akan mengirim delegasi diplomatik resmi ke pertandingan itu sebagai protes terhadap catatan hak asasi Cina. (hanoum/arrahmah.id)