Media Barat menyembunyikan kekejaman NATO

Oleh:

|

Kategori:

CHICAGO (Arrahmah.com) – Ribuan demonstran dari seluruh Amerika Serikat (AS) telah berkumpul di Chicago, Amerika Serikat (AS) untuk memprotes KTT NATO, yang dijadwalkan mengadakan pertemuan pada hari ini (20/5/2012) dan Senin (21/5) besok. untuk membahas beberapa masalah termasuk perang salib lanjutan.

Hampir dua lusin demonstran telah ditangkap oleh polisi AS setelah bentrokan terjadi pada saat demonstrasi yang telah berlangsung sejak Senin (14/5).

Para demonstran anti-NATO itu mendesak pemerintah AS untuk menghentikan perang yang masih dilancarkan. Mereka menginginkan perang diakhiri karena hanya merugikan keuangan negara, dan salah satu misi KTT NATO adalah untuk mengobarkan perang dan melancarkan perang baru.

Pembunuhan demi pembunuhan telah dilakukan oleh pasukan salib pimpinan AS-NATO di negara-negara kaum Muslimin secara ilegal dan disengaja. Namun tak jarang berita pembantaian yang dilakukan AS-NATO disimpangkan atau ditutup-tutupi oleh media kafir Barat dan media yang berkiblat ke Barat.

Dalam sabuah wawancara dengan Presstv, Paul Street, seorang jurnalis Barat dan komentator politik mengatakan bahwa ada sejarah panjang dalam menutupi dan tidak mengatakan kebenaran tentang kematian dan tingkat rasisme oleh NATO, tidak menyebutkan kejahatan NATO dan penjajahan ilegal mereka.

“Ada sejarah panjang menutupi dan tidak memberitakan kenyataan yang benar tentang kematian dan tingkat rasisme, tidak menyebutkan kejahatannya dan penjajahan secara ilegal,” ungkap Street.

“Ketika kekejaman jelas tidak keliru bahwa itu terjadi, dan kalian sepenuhnya tidak dapat membantahnya, kemudian kalian mendapatkan mekanisme – jatuh ke dalam permainan media dan pemerintah AS, dan keduanya melakukan ini bersama-sama, terfokus pada hanya salah satu yang menurut dugaan”.

Street menjelaskan salah satu contoh pemberitaan tentang pembantaian massal di distrik Panjwai, Afghanistan yang menurut kesaksian saksi mata bahwa insiden pembantaian tersebut dilakukan oleh puluhan tentara salibis. Namun AS dan media-media di belakangnya hanya terfokus pada satu orang saja yang mereka anggap sebagai tersangka.

“Hanya satu orang yang mereka terfokus padanya ketika, faktanya, ada banyak indikasi bahwa sejumlah orang (tentara NATO -red) di tempat kejadian yang terlibat dalam pembantaian yang terus-menerus itu dengan dasar-dasar praktek pendudukan dari awal dengan penanaman kebencian dan ketidaksukaan terhadap umat Islam di dunia Arab, di dunia Pashtun, di dunia Persia,” ujar Street.

“Ini sangat ditanamkan dalam proses dasar pelatihan dan mereka melampaui batas – penjajahan ini telah berlangsung terlalu lama,” kata Street. “Mereka tidak memiliki sumber daya untuk memiliki pasukan yang cukup dan kalian memiliki pasukan mengerikan ini datang bersama-sama, rasisme dalam proses dasar pelatihan, sebuah pendudukan ilegal dan, tentu saja, perlawanan.”

Media Barat tidak pernah benar-benar mengungkapkan bagaimana NATO sebenarnya. Masyarakat AS sendiri, lebih mengetahui kekejaman NATO ketika demonstrasi dilakukan langsung di jalan-jalan. Menurut Street, bahkan ada orang-orang di AS tidak mengetahui apa itu NATO.

“Beberapa orang bahkan tidak mengetahui apa itu NATO, dan saya sendiri melakukan percakapan menarik dengan orang-orang tentang bagaimana NATO, faktanya, bukan seperti yang media katakan, (bahwa) NATO sebuah aliansi defensif murni, tetapi faktanya adalah sebuah aliansi agresif, ekspansionis, aliansi kerajaan militer yang mencakup tiga perempat dari satu triliun dolar dunia dalam pengeluaran militer.” jelas Street.

Selain itu, Street sebagai seorang jurnalis berbagi cerita tentang korporasi media lokal AS yang selama bertahun-tahun telah sering membuat cerita palsu tentang rencana aksi yang diduga dilakukan oleh sekelompok “anarkis” di beberapa tempat pemerintah AS. Semacam kabar teror yang dinisbatkan kepada kelompok Islam. (siraaj/arrahmah.com)