Mudzakir & Tuduhan Syiah Sebuah Apologi

0 1.020

Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas 

(Arrahmah.com) – Kontroversi terkait Pimpinan Ponpes Al-Islam Gumuk, Surakarta, ustadz Muzakir, apakah dia Syiah atau Sunni, masih hangat dibicarakan.

Diadakannya Bedah buku berjudul “Al-Ustadz KH. Mudzakir dan Tuduhan Syiah, Sebuah Klarifikasi” yang diselenggarakan oleh Majelis Ta’liem Ihya’us Sunnah di Masjid Jami MUI Semanggi Pasar Kliwon, Surakarta, pada hari Ahad, 12 September 2021 lalu, sebagai bukti.

Hadir sebagai pembedah, adalah Ustadz Fuad Al Hazimi, Mudir PPTQ An Nahl Magelang. Menurut panitia, penulis buku juga diundang, tapi tak bersedia hadir.

Dalam paparannya, Fuad Al-Hazimi menyatakan terdapat sejumlah kejanggalan dalam penyusunan buku yang ditulis keroyokan oleh mereka yang mengaku Komisi Ukhuwah MUI Surakarta itu.

“Menurut saya, judul buku ini lebih tepat, Äl-Ustadz KH Mudzakir dan Tuduhan Syiah, Sebuah Upaya Pembelaan,” kata Fuad mengawali paparannya.

“Ustadz Mudzakir selalu menolak tuduhan Syiah yang diarahkan pada dirinya, tetapi dalam berbagai kesempatan beliau tidak jujur menjelaskan definisi (pengertian) Syiah. Beliau hanya menjelaskan Syiah secara sepotong-sepotong sambal membangun opini bahwa Syiah itu baik, sama seperti Ahlus Sunnah. Kalau ada Syiah yang sesat, bukankah Ahlus Sunnah juga banyak yang sesat? Perbedaannya hanya Syiah adalah pengikut Ali bin Abi Thalib sedangkan Ahlus Sunnah adalah pengikut Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dan kalimat-kalimat pengkaburan lainnya”, lanjut Fuad Al Hazimi.

“Seorang muslim yang mengaku menolak Syiah karena telah mempelajari kitab Al Kaafi tidak mungkin tidak paham tentang Syiah Imamiyyah Itsna Asyariyyah dan tidak mungkin akan menyatakan bahwa Syiah itu baik,” kata Fuad lagi.

Jika ia tetap menyatakan bahwa Syiah itu baik atau sengaja membangun opini seolah-olah mayoritas Syiah itu baik, berarti ia menganggap baik orang-orang yang mengkafirkan Abu Bakar, Umar dan Utsman. Dan menganggap baik orang yang menyatakan AlQur’an sudah dirubah-rubah oleh para shohabat. Patut diduga bahwa yang bersangkutan memang sedang melakukan strategi tasykik atau strategi membangun keragu-raguan akan kesesatan Syiah dikalangan umat Islam ahlus sunnah,” terang Fuad Al-Hazimi.

Mengapa umat Islam di Solo, menilai Mudzakir sebagai orang yang berpaham Syiah dan bukan ahlus Sunah? Jika ditanya demikian, Mudzakir balik menantang. “Kalau saya Syiah, kenapa dan mau apa?”

Apakah seseorang itu Syiah atau bukan, muslim atau kafir, sebenarnya tak terlalu penting untuk dibahas. Bukankah Allah SWT sendiri melalui firman-Nya mempersilahkan semua orang, semua hamba tanpa kecuali untuk memilih: “Yang mau beriman, silahkan! Yang mau kafir, silahkan juga!” Melalui firman ini, Allah Swt ingin menegaskan bahwa tiap pilihan ada risiko dan konsekuensinya.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَاۗ وَاِنْ يَّسْتَغِيْثُوْا يُغَاثُوْا بِمَاۤءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِى الْوُجُوْهَۗ بِئْسَ الشَّرَابُۗ وَسَاۤءَتْ مُرْتَفَقًا

Wahai Muhammad, katakanlah: “Al-Qur’an itu datang dari Allah, Tuhan kalian. Siapa saja yang mau mempercayainya, silakan ia beriman; dan siapa saja yang tidak mempercayainya, silakan ia kafir.” Sungguh Kami telah menyediakan siksa neraka bagi orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an. Api neraka selalu mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan, mereka akan diberi minuman yang sangat tidak enak berupa air mendidih yang justru membakar wajah-wajah mereka. Neraka adalah tempat istirahat yang sangat buruk. (QS Al-Kahfi (18) : 29)

Akan tetapi, adanya upaya klarifikasi dari pihak yang mengatasnamakan MUI, yang berpotensi memecah belah umat, maka munculnya penolakan pun tak bisa dihindari.

Dialog berikut ini, yang pernah dipublikasikan melalui laman voaislam.com menunjukkan sikap ambigu Mudzakir terhadap kesesatan Syiah.

Dialog ABB vs Mudzakir

Selasa 27 Agustus 2013, situasi di pelabuhan penyeberangan Wijayapura, Cilacap, terlihat lebih ramai dari biasanya. Sebuah bus besar yang membawa rombongan dari Solo, Jawa Tengah, nampak terparkir, begitu pun beberapa minibus dengan plat B.

Ternyata rombongan asal Solo, penumpang bus tersebut terdiri dari rombongan ulama, di antaranya Ustadz Wahyudin (pimpinan Ponpes Al-Mukmin Ngruki), Ustadz Mudzakir (Pengasuh Ma’had Al-Islam Gumuk Solo), Ustadz Hasan El-Qudsi, Joko Ikram dan Khalid Hasan. Turut pula rombongan Tim Pengacara Muslim (TPM), di antaranya Ahmad Khalid, Farid Ghazali, Guntur dan lain-lain. Di antara mereka, ikut juga aktivis kemanusiaan dr Joserizal Jurnalis dengan mobil pribadinya.

Para ulama, aktivis Islam, pengacara, wartawan, semuanya punya hajat yang sama. Hendak membezuk Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang sedang menjalani hukuman penjara sebagai narapidana teroris, di LP Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap.

Setelah menyeberang naik kapal Feri, kemudian mengendarai mobil trayek khusus Nusakambangan, tibalah rombongan pembezuk di LP Pasir Putih Nusakambangan. Pemeriksaan begitu ketat, tak terkecuali bagi TPM, wartawan dan aktivis kemanusiaan.

Memasuki ruang bezuk, terlihat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir berjalan keluar dari sel di dampingi Husain Abdullah, salah seorang narapidana penghuni sel yang akrab disapa Uceng.

Pertemuan terlihat hangat. Dr Joserizal mengawali percakapan dengan menanyakan kondisi kesehatan Ustadz Abu. Pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, itu menjawab, “Udara di LP Nusakambangan lebih segar dibandingkan di penjara Mabes Polri,” ujarnya.

“Kalau ada yang punya uang dibeli saja Nusakambangan ini untuk bikin pondok pesantren,” gurau Ustadz Abu disambut tawa para tamu.

Usai ramah-tamah, terjadi dialog serius antara Mudzakir versus Ba’asyir terkait Syiah dan perang Suriah serta peran Presiden Bashar Al-Assad. Mudzakir menghimbau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir supaya tidak ikut campur soal Bashar Al-Assad.

Rezim Bashar Al-Assad di Damaskus adalah penyebab utama pecahnya perang saudara di Suriah terhitung sejak 2011. Tapi di belakang layar juga ada negara lain yang ikut terlibat, baik yang punya kepentingan atau tunggangi konflik, seperti Amerika, Rusia, dan Iran. Rakyat yang tak puas atas kezaliman Assad menggelar berbagai aksi protes yang dijawab dengan tembakan peluru tajam, bom dan senjata kimia. Ribuan rakyat Suriah telah jadi korban kebiadaban rezim Assad.

Mudzakir : “Saya termasuk orang yang tak mau ikut campur soal Bashar Al-Assad. Gambar-gambar di internet itu kan tidak bisa bicara, sehingga sebaiknya hati-hati dalam menghukumi Bashar Al-Assad,” kata Mudzakir yang duduk di sebelah kiri Ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pun menjawab, dengan ilustrasi Muammar Khadafi, diktator Libya yang tewas saat revolusi Libya, 17 Februari 2011.

Ba’asyir : “Waktu saya di Afghanistan sempat membaca buku Khadafi. Buku itu saya bawa-bawa, warnanya hijau. Tetapi salah seorang mujahid di Afghanistan yang berasal dari Libya mendebat saya. Katanya, buku Khadafi yang berwarna hijau itu, ibarat buah semangka. Luarnya hijau tetapi dalamnya merah. Maksudnya, para mujahidin asal Libya itu menceritakan kebathilan Khadafi. Bahkan mereka mengkafirkan Khadafi,” paparnya.

Menyikapi persoalan Suriah, dengan tegas Ustadz Abu menyatakan wajibnya jihad membela kaum Muslimin yang dizalimi rezim Bashar Assad, sang penganut Syi’ah Nushairiyah.

“Soal Suriah, kita wajib berjihad membela kaum Muslimin di sana. Karena Bashar Assad penganut Syi’ah Nushairiyah. Syi’ah Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi,” tegasnya.

Kepada orang yang masih meragukan kebiadaban rezim Bashar Al-Assad, Ustadz Abu menyatakan bahwa keraguan itu tidak beralasan. Karena berita, foto, video dan saksi hidup bertebaran di mana-mana.

“Lalu, kalau banyak yang melawan Bashar di Suriah, itu juga karena kekejamannya terhadap rakyat. Kita bisa membaca di media-media kalau tentara Bashar memaksa rakyatnya untuk mengatakan laa ilaaha illa Bashar (Tidak ada tuhan selain Bashar Assad). Bahkan mereka sampai dikubur hidup-hidup,” terangnya.

“Kalau ustadz masih ragu soal video, foto-foto soal kekejaman Bashar, silahkan temui saja majalah An-Najah, soalnya mereka memuatnya secara rinci,” imbuhnya.

Ustadz Abu menekankan wajibnya jihad memerangi rezim Bashar Al-Assad di Suriah, karena menentukan bagi perjuangan umat Islam.

Ustadz Abu menekankan wajibnya jihad memerangi rezim Bashar Al-Assad di Suriah, karena menentukan bagi perjuangan umat Islam.

Mudzakir : “Tapi, bukankah Amerika di belakang semua ini dengan memainkan isu “Syiah vs Sunni”?

Ba’asyir : “Soal isu Amerika ikut membantu biarkan saja. Saya tahu itu, seperti di Afghanistan dulu kan juga begitu. Saya melihat sendiri bagaimana Amerika ikut memberi bantuan. Tetapi mujahidin tetap berjihad. Amerika itu membantu untuk mendompleng dan untuk pencitraan”.

Dalam persoalan status Syi’ah, Mudzakir berlindung di balik pendapat Imam Ibnu Hajar bahwa tidak semua Syi’ah itu kafir.

Mudzakir: “Menurut pendapat Imam Ibnu Hajar, ulama tidak sepakat bahwa semua Syi’ah itu kafir,” ungkap Mudzakir.

Ba’asyir: “Soal Syi’ah, tidak ada Syi’ah yang tidak sesat. Rafidhah itu menjelek-jelekkan sahabat, kafir itu. Jadi saya yakin bahwa Rafidhah itu kafir, sementara Syi’ah Zaidiyah itu sesat tapi tidak kafir. Semua Syi’ah itu asalnya dari Yahudi, Abdullah bin Saba’. Jadi Syi’ah itu sesat meskipun di antara mereka ada yang ngaku Islam,” bantah Ustadz Abu.

Ustadz Hasan yang duduk di hadapan ustadz Abu Bakar Ba’asyir menambahkan bahwa selama ini Syi’ah mengklaim para imam sebagai bagian dari Syi’ah.

“Syi’ah itu ada yang kafir dan ada juga yang mu’tadil. Soal Ja’far Shadiq, itu adalah klaim dari Syi’ah. Padahal mereka tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Syi’ah, bahkan Imam Hanafi muridnya tidak pernah mengaku Syi’ah,” ujarnya.

Joko Ikram, salah seorang pengikut Mudzakir menyela dengan argumen jika Syi’ah kafir mengapa diizinkan haji?

Joko: “Lalu, bagaimana dengan jamaah haji dari Iran yang mereka adalah Syi’ah, mengapa mereka diperbolehkan berhaji ke Saudi kalau dikatakan kafir?” sergahnya.

Ba’asyir : “Saudi itu kan thaghut, ya makanya mereka diperbolehkan. Jadi saya tidak sependapat soal itu,” tukas Ustadz Abu.

Mestinya pertanyaan ini di balik : “Jika benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Syiah sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri, Karbala?”

Orang-orang Syiah Iran, yang pergi Haji ke Mekah mengaku Muslim. Di pasportnya tertulis beagama Islam, tidak pede mengaku beragama Syiah. Jika Syi’ah Iran dilarang haji, padahal mengaku Muslim, akan jadi problem bagi umat Islam warga negara Iran.

Sementara, dr. Joserizal yang duduk di sebelah kanan ustadz Ba’asyir tak berbicara sepatah kata pun soal Syi’ah atau Suriah. Ia hanya menanyakan pendapat ustadz Abu Bakar Ba’asyir soal Syaikh Rasul Sayyaf ulama Afghanistan. Ustadz Ba’asyir pun menjawab singkat, bahwa posisi Syaikh Sayyaf saat ini lemah.

Jelang pukul 13.00 siang, detik-detik berakhirnya jam bezuk, para tamu disuguhi adegan dramatis, anti klimaks, yang tidak terbayangkan oleh siapapun. Ustadz Abu Bakar Baásyir menepuk bahu Mudzakir yang duduk di sebelahnya dan berujar:

“Sebaiknya antum ngaku sajalah, Syi’ah atau bukan Syi’ah. Jelaskan kepada umat,” himbau Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tegas.

Pada acara Tabligh Akbar Persaudaraan 212 di Solo, Ahad 18 Februari 2018, saya diundang untuk orasi. Melihat para orator tidak semua hadir, saya bertanya pada panitia.

“Di pamplet terdapat banyak foto pembicara, ada Amin Rais, Eggi Sujana, Munarman, Al-Khathat dan lain-lain. Tapi yang hadir tidak semua, mengapa?”

“Ustadz Al-Khathat, ketua GIS mestinya hadir. Tapi karena tokoh yang diusulkan untuk orasi, Ustadz Mudzakir tidak diundang, maka dia batal hadir,” jawab seorang anggota panitia menyesalkan.[]

(Dikutip dari buku HUMOR DEBAT, Meretas Salah Fikir Radikalisme, Liberalisme, Syiah, Komunisme, hal 180. Penulis Irfan S. Awwas).

Yogyakarta, 14/9/2021

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya