Papua Membara, Mengapa Hukum Tidak Mampu Bicara?

Oleh Dian Puspita Sari
Aktivis Muslimah

 

Lagi dan lagi, Papua membara. Wilayah yang indah, kaya Sumber Daya Alam (SDA) dan sangat subur ini ternyata menyimpan banyak cerita yang sangat memilukan. Bukan kali ini saja kerusuhan terjadi.

Yang terbaru terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pada Sabtu 12 November 2022 lalu. Akibat kelalaian supir truk yang melindas seorang balita, masyarakat tersulut kemarahan hingga mereka menyerang dan membakar rumah serta 6 kantor pemerintah. (www.detik.com, 13/11/2022)

Perkara yang Sebenarnya dapat segera diselesaikan ini, ternyata khususnya bagi warga Papua dapat memicu konflik yang mudah membesar.
Mirisnya, hanya berselang sehari, pada 13 November juga terjadi penyerangan yang dilakukan gerombolan KKB terhadap prajurit TNI di Kabupaten Ilaga, Papua Tengah. Serangan ini menyebabkan seorang prajurit TNI terluka tembak. (www.jawapos.com, 13/11/2022)

Ke depan, tidak ada jaminan bahwa peristiwa serupa tidak terulang (baik kerusuhan antar warga pribumi dan pendatang maupun serangan yang dilakukan KKB terhadap WNI, yang nyaris selalu disertai korban jiwa dan harta tidak sedikit), jika pemerintah tidak segera meresponnya dengan tindakan memuaskan dan adil bagi rakyat Papua.

Ada apa di balik konflik Papua? Mengapa gejolak di masyarakat sulit diredam? Mengapa kelompok KKB sulit diberantas? Inilah sebagian pertanyaan yang kerap diajukan masyarakat, tanpa pernah direspon dengan jawaban memuaskan dari penguasa negeri ini dan aparat berwenang.

Papua: Pulau Kaya Raya, Minus Kesejahteraan

Berbicara tentang Bumi Cendrawasih, tidak lepas dari pembicaraan soal emas, tembaga dan beragam mineral lain yang dihasilkan darinya. Begitu juga hutan hujan tropis yang mendominasi 75% dari seluruh wilayah daratannya beserta kekayaan hayati yang terkandung didalamnya serta keindahan alamnya, sangat melekat dengan ikon pulau ini.

Namun, kekayaan sumber daya alam (SDA) Papua tak cukup dirasakan rakyatnya.
Pada Maret 2022, Papua menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Padahal, kekayaan alam melimpah yang dimiliki Papua seharusnya membuat rakyat Papua sejahtera. Mereka berhak atas keadilan dan kehormatan, penegakkan hukum, serta kehidupan keagamaan kemasyarakatan yang dijunjung tinggi dan dihormati. Mirisnya, semua itu tidak mereka dapatkan. Inilah wajah buruk penerapan sistem Kapitalis Demokrasi. Negara gagal menjamin keamanan dan kesejahteraan serta persatuan warga negaranya. Akibatnya, hal ini memicu timbulnya konflik. Parahnya, dalam sistem kapitalis, adakalanya kerusuhan sengaja dipelihara untuk dijadikan sumber keuntungan bagi pihak-pihak tertentu.

Islam Solusi Tuntas Meredam Konflik Papua

Bercermin dari kerusuhan yang berulangkali terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, akar masalah di Papua disebabkan oleh ketidakadilan atas kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. Rakyat Papua sama sekali tak menikmati kekayaan alam yang terkandung di bumi Papua hingga kemakmuran tak mereka rasakan.

Sebaliknya, Islam menjadi satu-satunya harapan bagi masyarakat, termasuk untuk meredam konflik di bumi Papua. Sistem Islam tegak di atas ideologi yang sesuai dengan fitrah dan akal manusia, sehingga mampu mengantarkan manusia pada kemuliaan dan kesejahteraan yang didamba Bani Adam.

Penerapannya yang gemilang selama belasan abad dalam sebuah peradaban Inilah yang digambarkan oleh salah satu penulis Barat, Will Durant sebagai berikut;

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapa pun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...

“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh padanya pada saat ini [1926] sekitar 350 juta jiwa. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.” (Will Durant – The Story of Civilization).

Islam adalah din yang memiliki konsep ‘rahmatan lil alamin ‘, Rahmat bagi semesta alam. Penerapan syariatnya secara kafah memberikan keamanan bagi hidup seluruh umat manusia, baik umat muslim maupun nonmuslim.

Terhadap nonmuslim, Allah berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

”Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. (QS. At-Taubah: 6)

Terhadap lingkungan pun, umat muslim diwajibkan Allah untuk peduli, agar ada keseimbangan hidup antara manusia, hewan, tumbuhan dan sumber daya alam.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

”Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al-A’raf: 56)

Berkaitan dengan keadilan sumber daya alam, kekayaan alam, termasuk emas dan barang tambang, adalah bagian dari kepemilikan umum. Pengelolaannya wajib dilakukan oleh negara. Dengan begitu, hasil keuntungannya digunakan untuk kesejahteraan rakyat sebesar-besarnya. Oleh karena itu, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan pertambangan kepada swasta, lebih-lebih asing.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah).

Islam juga takkan membiarkan benih-benih disintegrasi macam KKB tumbuh subur berkembang di tengah umat.

Ketika benih-benih disintegrasi muncul pun, hukum Allah tidak tinggal diam melainkan akan menindak tegas siapa saja yang berbuat onar.
Oleh sebab itu, masyarakat, khususnya di Papua, harus menyadari bahwa ketidakadilan yang mereka rasakan disebabkan oleh penerapan aturan-aturan sekuler yang menjauhkan mereka dari agama Tuhan (Allah).

Secara historis, Islam sudah terbukti selama belasan abad, ribuan tahun mampu menjadi solusi tuntas mengatasi setiap permasalahan. Sekaligus menjadikan negara menjadi kuat dan berdaulat.

Wallahu a’lam bishawwab.

Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Nikmati video-video rilisan Arrahmah.id dengan versi lengkap tanpa ada sensor dan pembatasan...