RAMALLAH – Gelombang kekerasan sistematis kembali mengguncang Tepi Barat pada Ahad (18/1/2026), ketika pasukan pendudukan 'Israel' dan kelompok pemukim ilegal meluncurkan serangan terkoordinasi yang menyasar warga sipil Palestina. Di desa al-Mughayyir, timur laut Ramallah, militer 'Israel' dilaporkan mengubah sebuah rumah warga menjadi pos militer setelah mengusir paksa penghuninya di tengah cuaca musim dingin yang ekstrem. Insiden memilukan terjadi saat tentara menyerang Nader Abu Aliya, seorang anak penyandang disabilitas, dengan cara memukulinya dan memaksanya berjalan kaki meskipun ia memiliki keterbatasan fisik yang parah.
Serangan ini meluas hingga ke komunitas Badui Khallet al-Sidra, dekat Mikhmas, di mana sekelompok pemukim bersenjata membakar sedikitnya delapan rumah, kendaraan, dan bangunan pertanian dalam sebuah penyerbuan semalam. Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, empat orang terluka dalam insiden tersebut, termasuk dua aktivis solidaritas internasional. Para aktivis lokal menilai serangan ini merupakan bagian dari skema pemukiman ilegal "E1" yang bertujuan menghubungkan pemukiman Ma'ale Adumim dengan Yerusalem guna memutus konektivitas geografis antara wilayah utara dan selatan Tepi Barat.
Di tempat lain, pasukan 'Israel' melanjutkan kampanye penangkapan massal di berbagai kota dan kamp pengungsi. Di Ramallah dan Nablus, mantan tahanan dan warga sipil ditangkap dalam penggerebekan dini hari, sementara di Bethlehem, delapan warga Palestina ditahan dari wilayah Khalayel al-Louz. Di Qalqilya, tentara dilaporkan melepaskan tembakan peluru tajam secara membabi buta ke arah pemukiman penduduk, yang mengakibatkan seorang anak terluka akibat pecahan peluru dan puluhan lainnya mengalami sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan ke dalam rumah-rumah warga.
Sepanjang 2025 saja, Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman mencatat lebih dari 4.700 serangan yang dilakukan oleh pemukim ilegal terhadap warga Palestina. Eskalasi ini dianggap oleh para pejabat Palestina sebagai cerminan dari taktik yang digunakan di Gaza, yakni strategi fragmentasi wilayah dan pengusiran paksa penduduk asli di bawah bayang-bayang perang. Penyerbuan di al-Mughayyir bahkan memaksa penghentian total aktivitas sekolah setelah tentara juga menyerang tenda duka untuk Mohammad al-Nasan, remaja 14 tahun yang tewas ditembak dua hari sebelumnya.
Situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur saat ini berada pada titik didih yang sangat kritis, dengan lebih dari 21.000 penangkapan dilaporkan sejak Oktober 2023. Para pengamat internasional memperingatkan bahwa tanpa adanya intervensi tegas untuk menghentikan impunitas pemukim dan militer, wilayah Tepi Barat berisiko mengalami kehancuran infrastruktur dan sosial yang serupa dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
