Penggunaan Lafadz Mufrad dan Jama' Dalam Al-Qur'an

356

(Arrahmah.com) – Al Quran adalah mukjizat yang teramat agung. Diantara kemukjizatannya adalah dari sisi pemiihan lafadz  yang begitu indah. Salah satu diantara keindahan itu adalah penggunaan lafadz mufrod dan jamak.

Mufrad dan jamak yang tertulis dalam ayat-ayat al Quran mempunyai maksud dan tujuan tersendiri dalam penggunaannya. Al Quran menggunakan lafadz mufrad di banyak  tempat dan menggunakan lafadz jamak di banyak tempat yang lain.

Mari kita simak  contoh-contoh berikut :

Penggunaan lafadz:

السماء والارض.  

Al Quran menyebut kata الارض  selalu dalam bentuk mufrad dan tidak pernah menjamakkan. Oleh karena itu tidak pernah kita dapati  lafadz  ارضون  karena berat pengungkapannya.

Saat ingin mengungkapkan jamak  الارض , al Quran mengungkapkan dengan bentuk yang indah. Seperti terdapat pada ayat:

الله الذى خلق سبع سموات ومن الأرض

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi” (at Talaq: 12). Allah tidak berfirman  وسبع أرضين, karena yang demikian adalah kasar dan merusak keteraraturan susunan kalimat.

Ini berbeda dengan  kata السماء.  Lafadz ,السماء terkadang disebutkan dalam bentuk jamak dan terkadang dalam bentuk mufrad, sesuai dengan keperluan.
Jika yang dimaksudkan adalah “bilangan” maka ia didatangkan dalam bentuk jamak yang menunjukkan betapa sangat besar dan luasnya, seperti dalam ayat:

سبح لله ما فى السموات وما فى الأرض

“Telah bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan bumi “ (al Hasyr : 1).

Yang menunjukkan keseluruhan apa yang terkandung dalam langit dan bumi.

Dan jika yang dimaksudkan adalah “arah” maka ia didatangkan dalam bentuk mufrad, seperti:

 ءأمنتم مَن فى السماء أن يخسف بكم الأرض

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu“ (al mulk: 16). Yaitu dari atas kalian.

Lafadz  (الريح)  juga termasuk kategori ini, ia disebutkan dalam bentuk jamak dan mufrad. Pemakaian bentuk jamak dalam konteks rahmat sedang bentuk mufrad dalam bentuk azab. Disebutkan hikmahnya ialah bahwa:

رياح الرحمة

atau angin rahmat itu bermacam-macam sifat dan manfaatnya. Diantaranya ada angin semilir yang bermanfaat bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu dalam konteks rahmat ini ia dijamakkan, .رياح  Sedang dalam konteks azab  الريح   atau angin itu datang dari satu arah, tanpa ada yang menentang atau menolaknya.

Ibn Abi Hatim dan yang lain meriwayatkan , Abu Ka’ab berkata : ‘Segala sesuatu yang disebut dengan  رياح dalam Qur’an ialah rahmat, sedang yang disebut dengan الريح adalah azab. Dalam hadits juga disebutkan  ” Allahumma ij’alha riyahan wa la taj ‘alha rihan”.

Dalam al Quran juga kita dapati lafadz yang senantiasa dimufrodkan dan yang senantiasa dijamakkan.

Termasuk kelompok ini adalah lafadz   النور yang senantiasa di mufradkan  dan Lafadz  الظلم ت senantiasa dijamakkan. Seperti terlihat dalam:

 الله ولي الذين آمنوا يخرجهم من الظلمات إلى النور, والذين كفروا  أولياءهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلى الظلمات

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran)”  (al Baqarah 257)

Juga lafadz “sabil al-haqq” yang selalu di mufradkan dan  “sabil al batil” yang selalu dijamakkan.
Ini karena jalan (sabil) menuju kebenaran itu hanya satu.  Sedang  jalan menuju kebatilan banyak sekali dan bercabang-cabang. Dengan alasan seperti ini lafadz  “walliyul mu’minin”  dimufradkan dan “auliya’ul kâfirn” dijamakkan.  Seperti dalam ayat:

  وأنّ هذا صراطي مستقيما فاتبعوه, ولا تتبعوا السبل فتفرّق بكم عن سبيله

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.“ (al An’am: 153).

Demikianlah sekelumit  contoh-contoh penggunaan lafadz mufrad dan jamak yang mengandung keindahan susunan kata yang luarbiasa. Para ulama  telah menjelaskan hal ini secara panjang lebar dalam karya-karya mereka.

Ditulis oleh Irianti.
Disarikan dari  penjelasan Ustadz Fadhil saat menjelaskan bab Qaidah fii al Ifraadi wa al Jama’i  dari kitab Al Qawâ’idu al asâsiyyatu fii ‘ulûmi al Qurân, karya  Assayiid Muhammad  ‘Alawi al Maliki al Hasani di kelas afwat @khodimu sunnah  8 Maret 2021, dengan  sedikit tambahan referensi.
(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya